PEMBERANTASAN NARKOBA DAN PROGRAM REHABILITASI PENYALAHGUNAAN NARKOBA

 

 

  1. Pendahuluan

Perkembangan Narkoba

Indonesia Saat Ini, Tidak Saja Merupakan Negara Transit Narkoba, Namun Telah Menjadi Salah Satu Negara Tujuan Utama (Destination Country) Bagi Peredaran Narkoba Serta Menjadi Daerah Dengan Pangsa Pasar Yang Bagus Bagi Sindikat Internasional Narkoba Sekaligus Juga Menjadi Produsen Narkoba.

Semakin Banyaknya Masyarakat Terlibat Dalam Bisnis Narkoba, Dibuktikan Dengan Banyaknya Kampung Rawan Narkoba Tidak Saja Di Daerah Perkotaan, Namun Juga Di Pedesaan, Yang Tentunya Memerlukan Perhatian Serius Dari Seluruh Stakeholder Dan Elemen Masyarakat.

Perkembangan Kejahatan Narkoba Yang Semakin Mengkhawatirkan Tersebut, Mengindikansikan Perlunya Satu Upaya Strategis, Yaitu Dalam Rangka Mengurangi Permintaan, Khususnya Dengan Sasaran Para Pecandu Maupun Korban Penyalahgunaan Narkoba, Dilakukan Upaya Penyelamatan Dengan Rehabilitasi Dan Dalam Rangka Mengurangi Dan Memberantas Ketersediaan Narkoba, Maka Dilakukan Upaya Penegakan Hukum Yang Keras, Terutama Dalam Hal Penerapan Hukuman Berat Dan Memiskinkan Para Bandar, Produsen, Importir Maupun  Pengedar.

Indonesia Darurat Narkoba

Situasi Darurat Narkoba Di Indonesia Dapat Digambarkan Dari Peningkatan Trend Kasus Narkoba (Narkotika, Psikotropika, Dan Obat Berbahaya Lainnya) Dalam Tiga Tahun Terakhir, Sebagai Berikut :

Jenis

Tahun

Kasus

Tersangka

2013

2014 2015 2013 2014

2015

Narkotika

21.119

22.750 27.950 28.543 30.496

37.012

Psikotropika

1.612 835 885 1.868 973

1.000

Obat & Baya

12.705

11.884 11.418 13.356 12.629

12.166

Total

35.436

35.469 40.253 43.767 44.098

50.178

Dari Gambaran Pada Tabel Diatas, Dapat Diambil Beberapa Point Kesimpulan Diantaranya Adalah :

  • Berdasarkan Data Yang Ada, Pada Tahun 2015 Jumlah Kasus Narkoba Mencapai 253 Kasus. Jumlah Ini Mengalami Peningkatan Sebesar 13,4% Dari Tahun 2014 Yang Berjumlah 35.469 Kasus.
  • Sedangkan Untuk Jumlah Tersangka Tp Narkoba Pada Tahun 2015 Sebanyak 178 Orang. Jumlah Ini Mengalami Peningkatan Sebesar 13,7% Dari Tahun 2014 Yang Berjumlah 44.098 Orang.
  • Pada Pelaksanaan Operasi Bersinar 2016 Yang Dimulai Dari Tanggal 21 Maret 2016 S.D. 19 April 2016, Polri Telah Melakukan Pengungkapan Terhadap 358 Kasus Dengan Jumlah Tersangka Sebanyak 6.923 Orang.
  • Terkait Dengan Program Rehabilitas, PolriTelah Melakukan Assessment Sebanyak 288 Orang Pengguna Dan 59 Orang Pengecer. Dari Jumlah Tersangka Pengguna Dan Pengecer Narkoba Tersebut, Selanjutnya Dilakukan Rehabilitasi Sebanyak 1.195 Orang Dan Proses Pro-Justicia Sebanyak 175 Orang.

Beberapa Kasus Besar Baik Dari Segi Jumlah Barang Bukti Maupun Dari Segi Pelaku Yang Terjadi Pada Tahun 2016 Ini, Diantaranya Adalah :

  1. Ditresnarkoba Bareskrim Polri Telah Melakukan Penangkapan Sindikat Internasional Di Beberapa Wilayah Di Jawa Barat, Pada Tanggal 16 Dan 23 Maret 2016 Yang Berakhir Di Dermaga Pelabuhan Muara Jati Cirebon, Dengan Menangkap 9 (Sembilan) Tersangka Dengan  Menyita Kapal Bahari I. Barang Bukti  Yang  Berhasil  Disita Dari Sindikat Ini, Yaitu : 000 Butir Exstacy, 50 Kg Shabu, 1 Unit Kapal Besi, 1 Unit Mobil Toyota Rush,  24   Unit  Hp.
  2. Ditresnarkoba Polda Metro Jaya Telah Melakukan Pengungkapan Sindikat Jaringan Internasional Narkotika Jenis Shabu Cair, Shabu Kristal Dan Exstacy (Iran, China, Malaysia, Kalimantan Selatan, Papua, Bandung Dan Jakarta) Serta  Melakukan Penangkapan Di Wilayah Jakarta, Tangerang, Cikampek, Bandung Dan Papua, Pada Tanggal 21 Dan 24 Maret 2016 Terhadap 16 Tersangka Terdiri  Dari 2 Wna Dan 14  Wni. Barang Bukti Yang Berhasil Disita Yaitu  : 17,74 Kg Shabu Kristal, 44,64 Kg Shabu Cair Yang Dikemas Dalam Kaleng, 2.923 Butir Exstacy  Serta 1 Unit R-4 Grand Livina. 
  3. Tim Bnn Telah Mengungkap Sindikat Internasional Narkotika Jenis Shabu Dan Exstacy (Belanda, China, Malaysia, Medan Dan Jakarta) Serta Melakukan Penangkapan Di Wilayah Jakarta, Medan Dan Depok, Pada Tanggal 18 Dan 24 Maret 2016 Terhadap  21  Barang Bukti Yang Berhasil Disita Yaitu : 76,511 Kg Shabu, 14.951 Butir Exstacy Serta 8 Unit R-4.
  4. Kasus – Kasus Lain Yang Menjadi Atensi Publik Seperti Diamankannya Dandim Kota Besar Makasar Karena Pesta Shabu Pada Tanggal 6 April 2016 Dan Diamankannya Kasat Narkoba Polres Pelabuhan Belawan Karena Terlibat Dengan Kejahatan Narkoba Pada Tanggal 21 April 2016.

Kejadian – Kejadian Tersebut Membuktikan Bagaimana Kejahatan Ini Memasuki Semua Lini Kehidupan Masyarakat Baik Dari Segi Lapis Usia, Pekerjaan, Dan Daerah Penyebaran. Disamping Itu, Dalam Beberapa Tahun Terkahir Perkembangan Modus Operandi Juga Mengalami Perubahan Baik Dari Segi Cara Maupun Teknik Dalam Menyembunyikan Narkotika, Diantaranya Adalah Sebagai Berikut :

  1. Dimasukan Kedalam Anggota Badan;
  2. Disamarkan Dengan Koper/Tas Maupun Dikemas Bersama Makanan;
  3. Disembunyikan Didalam Alat Elektronik;
  4. Melalui Pengiriman Paket Barang;
  5. Dimasukan Atau Ditempel Pada Pakaian Dalam.

Demikian Pula Dengan Strategi Pelaku Narkoba Dalam Mengembangkan Kegiatannya, Antara Lain :

  1. Membangun Pabrik Produksi Narkoba Home Industry Dan Di-Cover Dengan Aktivitas Produk Pabrik Lainnya.
  2. Memutus Jaringan Peredaran Sehingga Narkoba Dari Luar Negeri Tidak Terungkap Negara Yang Memproduksi Barang.
  3. Penyelundupan Dengan Berbagai Modus Operandi, Masuk Jalur – Jalur Tikus Dan Perairan Terpencil.
  4. Aktivitas Transaksi Di Tempat – Tempat Hiburan Yang Seringkali Mempunyai Ijin Dan Proteksi Bisnis Yang Kuat.
  5. Melakukan Pendekatan Kepada Aparat Dan Mempengaruhi Sehingga Menjadi Korban Selanjutnya Menjadi Backing Dan Sekaligus Pengedar.
  6. Mengendalikan Peredaran Dari Lapas Dengan Sasaran Konsumen Warga Binaan (Napi) Maupun Juga Sasaran Di Luar.
  7. Melakukan Pendekatan Kepada Aparat Penegak Hukum Dan Pengadilan Untuk Memperoleh Sanksi Hukum Yang Ringan.

Perkembangan Modus Operandi Maupun Strategi Para Pelaku Kejahatan Narkoba Ini, Menjadi Sebuah Tantangan Tersendiri Khususnya Bagi Aparat Penegak Hukum. Kejahatan Pada Kenyataanya Selalu Mengalami Perkembangan, Maka Aparat Penegak Hukum Harus Selalu Pro Aktif Dalam Melakukan Tindakan, Upaya, Serta Langkah – Langkah Pemberantasan Narkoba.

  1. Strategi Pemberantasan Narkoba

Dalam Rangka Menekan Dan Meminimalisir Jumlah Peredaran Narkotika Di Indonesia, Maka Dibutuhkan Adanya Strategi Yang Digunakan Dalam Rangka Pemberantasan Narkoba, Diantaranya :

Suplly Reduction

Dalam Rangka Menekan Penyediaan Narkoba, Strategi Yang Digunakan Adalah Pendekatan Penegakan Hukum Secara Tegas Dan Profesional. Strategi Penegakan Hukum Dilakukan Dengan :

  1. Melakukan Penindakan Terhadap Target Operasi (To) Tertentu;
  2. Melakukan Pencegatan Dan Penindakan Di Wilayah Perbatasan Untuk Memutus Jaringan Narkoba, Baik Level Nasional, Regional Maupun Internasional, Yang Akan Masuk Ke Wilayah Indonesia;
  3. Pelaksanaan Pencegatan Dilakukan Dengan Berkoordinasi Dengan Bea Cukai, Pelabuhan, Otoritas Bandara, Serta Kepolisian Negara Tetangga;
  4. Menyelenggarakan Operasi Terpadu Dalam Pemberantasan Jaringan Sindikat Narkoba, Untuk Mencegah Peredaran Narkoba Masuk Ke Indonesia;
  5. Terhadap Jaringan Yang Sudah Beroperasi Didalam Wilayah Indonesia, Dilakukan Penyelidikan Terhadap Jaringan Dengan Cara Penjajakan It, Human Inteligence, Serta Penindakan.

Terhadap Para Pengedar,  Bandar, Produsen Maupun Importir, Dilakukan Penegakan Hukum Yang Keras, Terutama Dalam Hal Penerapan Hukuman Berat Dan Memiskinkan Para Pelaku / Jaringan Narkoba, Dengan Penerapan Undang – Undang Tindak Pidana Pencucian Uang, Seperti Melakukan Perampasan Aset Hasil Peredaran Gelap Narkoba.

Demand Reduction

Dalam Rangka Menekan Permintaan Narkoba, Strategi Yang Digunakan Adalah Pendekatan Preemtif Dan Preventif. Strategi Pre Emtif Merupakan Tindakan Deteksi Dini Yang Dilakukan Dengan :

  1. Menyelenggarakan Kegiatan Penyuluhan Dengan Melibatkan Seluruh Unsur Terkait Tentang Bahaya Penyalahgunaan Narkoba;
  2. Mengoptimalkan Peran Masyarakat Melalui Komunitas Peduli Dan Anti Narkoba, Untuk Menanamkan Mindset Bahwa Narkoba Merupakan Public Enemy;
  3. Mengoptimalkan Peran Media Sebagai Sarana Penyebaran Informasi Tentang Bahaya Narkoba, Termasuk Menyelenggarakan Kegiatan Seminar Anti Narkoba;

Disamping Itu, Juga Dilaksanakan Strategi Preventif Yakni Upaya Pencegahan Dalam Pemberantasan Dan Penanggulangan Kejahatan Narkoba Yang Dilakukan Dengan Cara:

  1. Mengoptimalkan Kegiatan Patroli Terpadu Di Daerah Yang Rawan Peredaran Gelap Narkoba Dengan Melibatkan Beberapa Fungsi Kepolisian Maupun Instansi Terkait Lainnya;
  2. Meningkatkan Fungsi Pengawasan Di Pintu Masuk Perbatasan Negara Baik Di Darat, Laut Maupun Udara, Bekerjasama Dengan Instansi Terkait.

Sedangkan Terhadap Para Pecandu Maupun Korban Penyalahgunaan Narkoba, Dilakukan Upaya Penyelamatan Melalui Rehabilitasi.

  • Rehabilitasi Korban Penyalahgunaan Narkoba

 Dasar Hukum

 Rehabilitasi Narkoba Merupakan Salah Satu Upaya Untuk Menyelamatkan Para Pengguna Dari Belenggu Narkoba. Adapun Dasar Hukum Bagi Penyelenggaraan Rehabilitasi Adalag Sebagai Berikut :

  1. Pasal 54 Uu No 35/2009 Ttg Narkotika :

Pecandu Dan Korban Penyalahgunaan Narkoba Wajib Menjalani Rehabilitasi Medis Dan Rehabilitasi Sosial.

  1. Pp No 25/2011 Ttg Pelaksanaan Wajib Lapor Pecandu Narkotika :

Pelaksanaan Rehabilitasi Terhadap Pecandu Dan Korban Penyalahgunaan Narkoba Dilakukan Oleh Institusi Penerima Wajib Lapor (Ipwl) Yg Telah Ditetapkan Berdasarkan Ketentuan.

  1. Peraturan Bersama Ketua Ma, Menkum Ham, Menkes, Mensos, Jaksa Agung, Kapolri & Kepala Bnn Ttg Penanganan Pecandu Narkotika & Korban Lahgun Narkotika Kedalam Lembaga Rehabilitasi.

Mekanisme

Mekanisme Dalam Pelaksanaan Rehabilitasi Terhadap Para Pecandu Atau Korban Penyalahgunaan Narkoba Dilakukan Melalui Tahapan Proses Sebagaimana Diatur Dalam Peraturan Bersama Nomor : 01/Pb/Ma/Iii/2014 (Mahkamah Agung); 03 Tahun 2014 (Menkum Dan Ham); 11 Tahun 2014 (Menkes); 03 Tahun 2014 (Mensos); Per-005/A/Ja/03/2014 (Kejaksaan Agung); 1 Tahun 2014 (Kepolisian Negara Ri); Perber/01/Iii/2014/Bnn Tanggal 11 Maret 2014. Adapun Mekanisme Dimaksud Dapat Digambarkan Sebagai Berikut :

  1. Tim Assesment Terpadu Yang Dimaksud Dalam Mekanisme Rehabilitasi, Diusulkan Oleh Masing-Masing Pimpinan Instansi Terkait Di Tingkat Nasional, Provinsi, Kab/Kota Dan Ditetapkan Oleh Kepala Bnn, Bnn Prov, Bnn Kab/Kota.
  2. Tim Terpadu Tersebut Terdiri Dari :
  3. Tim Dokter, Yang Terdiri Dari Dokter Dan Psikolog;
  4. Tim Hukum, Yang Terdiri Dari Unsur Polri, Bnn, Kejaksaan Dan Kemenkumham.

Kendala

 Upaya – Upaya Yang Dilakukan Oleh Pemerintah Dalam Memerangi Kejahatan Narkoba Salah Satunya Terkait Dengan Sistem Hukum Acara Pidana, Yaitu :

  1. Berdasarkan Perundang-Undangan, Sistem Penempatan Seorang Tersangka Pecandu Narkoba Ke Tempat Rehabilitasi Bukan Merupakan Bentuk Penyelesaian Perkara / Pengalihan Hukuman;
  2. Apabila Tersangka Pecandu Narkoba Melarikan Diri Dari Tempat Perawatan / Panti Rehabilitasi, Akan Menjadi Tunggakan Perkara Bagi Penyidik;
  3. Proses Rehabilitasi Medis / Sosial Memerlukan Waktu Minimal 3 Bulan. Hal Ini Menyebabkan Pengawasan Oleh Penyidik Terhadap Pecandu Narkotika Menjadi Kurang Optimal Karena Memerlukan Tenaga Pengamanan Dalam Jumlah Yang Cukup Besar.

Disamping Itu, Terdapat Pula Kendala Yang Terkait Sarana Prasarana, Yaitu Belum Semua Daerah / Kabupaten Memiliki  Tempat Rehabilitasi, Baik Medis Maupun Sosial Yang Memenuhi Standar Keamanan.

 

About ferli1982

Menjalani hidup dengan riang gembira ... enjoy ur life!!!

Posted on Juni 12, 2016, in Narkoba. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada PEMBERANTASAN NARKOBA DAN PROGRAM REHABILITASI PENYALAHGUNAAN NARKOBA.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: