“Blusukan” versus “Pangkodamar” (dalam persepsi)


Kata blusukan santer terdengar diberbagai media sosial akhir-akhir ini. Banyak kalangan yang mengklaim jika Gubernur DKI Joko Widodo adalah salah seorang yang mempopulerkan istilah blusukan tersebut. Blusukan sendiri dimaknai sebagai sikap seorang pemimpin untuk mau turun ke bawah melihat langsung apa yang terjadi dilapangan. Hal ini dilaksanakan dengan harapan dapat langsung mengetahui, menyaksikan, dan mendengar sendiri apa-apa yang menjadi keluhan dari orang-orang yang dipimpin untuk kemudian dihimpun, dianalisa, dan dicarikan solusinya.

Sekilas, makna blusukan tersebut akan sangat bertolak belakang dengan istilah Pangkodamar (Panglima Komando Dalam Kamar), yang diartikan sebagai sikap seorang pemimpin yang bisanya hanya memerintah namun tidak pernah mengecek langsung ataupun turun kebawah melihat pelaksanaannya. Tentu saja hal tersebut jauh berbeda dengan gaya blusukan, gaya pangkodamar dicerminkan sebagai sikap “ogah-ogahan” dari sang pemimpin dalam melaksanakan kepemimpinannya. (Orang Jawa bilang ‘Jarkoni’ /bisa ngajari ora bisa ngelakoni).

Well, istilah blusukan maupun pangkodamar bagi penulis hanyalah sebuah istilah semata..
Substansi dari kedua gaya tersebut hanyalah cara pandang dalam memimpin. Apakah blusukan lebih baik dari pangkodamar ? Akan sangat relatif dan bergantung pada cara kita melaksanakan fungsi manajerial tersebut.
Blusukan akan sangat bermakna ketika kita sebagai pemimpin mau turun kebawah untuk melihat langsung pelaksanaan atau kinerja dari bawahan maupun keluhan-keluhan dari orang-orang yang kita pimpin.Sun Tzu berkata ‘ketahuilah musuhmu dan dirimu, maka dalam ratusan pertarungan kamu tidak akan pernah dikalahkan’ hal ini penting agar ketika seorang komandan atau pasukan menjalankan strategi dan taktiknya mereka benar-benar sadar akan kondisi aktual peperangan dan basis pengetahuan penuh terhadap musuh. Sehingga pasukan dapat berfokus pada kemampuan dalam membaca situasi musuh dengan variasi informasi tanpa mengindahkan hal-hal mistis maupun mitos. (Sun Tzu dalam Hanzhang, 1998:79)
Dengan turun kebawah maka pemimpin dapat mengetahui langsung apa-apa yang menjadi kelemahan dari sistem yang dijalankan maupun organisasi yang dipimpinnya. Namun demikian, ada kata kunci yang menjadi blusukan tersebut menjadi lebih berarti yakni ‘breakthrough’. Seorang pemimpin harus bisa menemukan solusi dari setiap permasalahan yang telah diketahuinya.

Bagaimana dengan Pangkodamar? jika mengikuti makna dari istilah tersebut tentu saja hal ini harus dihindari, karena dengan hanya memberi perintah tanpa melakukan cek dan ricek langsung kebawahan, maka kita tidak akan pernah mendapatkan jawaban apakah perintah tersebut dapat dilaksanakan atau tidak? bisa dilakukan atau tidak?
Fremont E. Kast dan James E. Rosenzwigh mengatakan bahwa kepemimpinan adalah kesanggupan untuk membujuk orang lain dalam mencapai tujuan secara antusias. Greenberg & Bacon ( 2000) menyatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu proses dimana seorang pemimpin mempengaruhi anggotanya untuk mencapai tujuan kelompok. Keseluruhan definisi kepemimpinan yang telah dikemukakan sebelumnya menunjukan bahwa kepemimpinan berlangsung di dalam sebuah organisasi yang dalam arti statis merupakan wadah dalam bentuk suatu struktur organisasi yang di dalamnya terdapat unit-unit kerja sebagai hasil kegiatan pengorganisasian.
Penulis memaknai bahwa ketika sistem telah berjalan dengan baik maka pemimpin dapat melakukan kontrol dari belakang meja, dengan mengandalkan variabel-variabel pendukung yang benar-benar dapat diandalkannya.

Lagi-lagi hal ini hanyalah sebatas persepsi dan cara pandang dalam memaknai arti istilah kata, kepemimpinan didasari sebagai seni dan gaya dalam mempengaruhi orang lain. Selalu ada cara dalam menyempurnakan sebuah gaya kepemimpinan yang tidak bisa diartikan secara parsial.
Demikian pula sebagai pemimpin pada institusi Kepolisian, baik dilevel bawah, level menengah, maupun di level atas, gaya kepemimpinan akan sangat bergantung pada variabel-variabel yang menjadi pendukung maupun penghambat.
Semoga Polri tetap Jaya!!!

About ferli1982

Menjalani hidup dengan riang gembira ... enjoy ur life!!!

Posted on Juni 12, 2014, in Menulis itu Indah. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada “Blusukan” versus “Pangkodamar” (dalam persepsi).

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: