KINEMATIKA dalam Aspek Kecelakaan Lalu Lintas

BAB I
PENDAHULUAN

1 U m u m

Kecelakaan lalu lintas adalah suatu peristiwa di jalan yang tidak disengaja melibatkan kendaraan dengan atau tanpa pemakai jalan lainnya dan mengakibatkan korban manusia atau kerugian harta. Dimana unsurnya kecelakaan lalu lintas tersebut meliputipengemudi pemakai jalan, kendaraan, jalan dan lingkungan .
Analisa kecelakaan lalu lintas adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur undang-undang untuk mencari, mengumpulkan dan mengolah barang bukti sehingga membuat terang suatu kejadian kecelakaan lalu lintas.
Adapun pengertian dari kinematika adalah suatu cabang dari ilmu fisika yang mempelajari tentang gerak dari suatu benda yang tidak mempersoalkan penyebabnya. Contohnya adalah dimana suatu kendaraan bergerak dengan kecepatan rata-rata 80 km/jam, berarti dalam satu jam kendaraan itu bisa bergerak hingga mencapai jarak sejauh 80 kilometer. Tidak dipersoalkan jika kendaraan itu memakai bahan bakar premium atau pertamax, atau jika kendaraan itu membawa 3 penumpang atau hanya supirnya saja yang berada di dalam kendaraan tersebut.

Kinematika sendiri dalam penerapannya terhadap suatu kecelakaan lalu lintas mempunyai fungsi sebagai berikut:

  1. Penyidikan kecelakaan lalu lintas yang ideal adlh penyidikan yang salah satunya menggantungkan pembuk-tiannya pada ilmu ukur dan kinematika
  2. Ilmu ukur atau kinematika kecil kemungkinannya untuk disanggah, krn proses pengukuran & penghitungannya berdasarkan pada fakta/data yg ditemukan di tkp

Dalam kinematika, informasi dan data yang diperoleh di tkp berupa ukuran-ukuran, harus dibuat dalam suatu laporan/catatan. untuk meyakinkan dan membuat semuanya dapat mengerti, penggunaan ukuran satuan dan simbol-simbol yang benar-benar diperlukan. Simbol-simbol dan satuan tersebut diatas telah distandarisasikan diseluruh dunia dengan Sistem Internasional (SI). penggunaan diatur dalam wight and measures law. sistem internasional ini dipersembahkan oleh “syteme international d’ unites“.

2 Dasar Hukum

  • Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Kitab Undang-undang Hukum Pidana.
  • Undang-undang Nomor 08 Tahun 1981 TENTANG Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana pasal 183, 184 mengenai penyidik & wewenang penyidik
  • Undang-undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Polri
  • Undang-undang no.22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan pasal 228 mengenai Penanganan Kecelakaan Lalu Lintas.
  • Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993 tentang Pembuktian Menentukan Nasib Tersangka.
  • Surat Keputusan Kapusdik Lantas Polri No. Pol : Skep/10/II/2007 tentang Naskah Sekolah Dikbangspes Lantas.
  • Bahan Ajar Penyidikan Kecelakaan Lalu Lintas Apeldoorn, Belanda. 2007.

3 Pengertian-pengertian
Ada beberapa pengertian yang terkait dengan kinematika. Adapun pengertian-pengertian tersebut adalah sebagai berikut:
a. Kecepatan
Jarak yg ditempuh pada satu waktu tertentu dengan simbol ‘v’ yang berarti velocity (kecepatan). Untuk Satuan Internasional: meter/detik (m/s), sedangkan pada speedometer kendaraan bermotor di Indonesia : km/jam (km/h). Kecelakaan itu sendiri dapat menyebabkan perbedaan kecepatan yang sangat besar. bagaimanapun hal ini tidak akan terjadi jika kecepatan yang merupakan bentuk dari energi yang dapat menyebabkan kerusakan atau luka parah, tanpa suatu perbedaan kecepatan yang signifikan. Biasanya kecelakaan membawa suatu konsekuensi yang sangat jelas, kerusakan kendaraan, dengan mana kita dapat memanfaatkan tanda-tanda ini dalam analisa laka lantas.

b. Kecepatan orisinil
Kecepatan yang dimiliki oleh kendaraan saat mendekati lokasi kecelakaan. kecepatan ini dapat diketahui dari total tanda-tanda/bekas/jejak yang ada (bekas ban goresan, kerusakan kendaraan dan lain-lain). Dapat pula melalui tanda-tanda yang spesifik dan terpisah (misal : kurva atau bekas drifting) serta dari situasi pada lokasi yang riil (jarak berhenti yang tersedia).

c. Kecepatan sesaat sebelum kecelakaan
Kecepatan yang dihasilkan oleh kendaraan sesaat sebelum mengalami benturan pertama atau mengalami kecelakaan.

d. Kecepatan sesaat setelah terjadinya benturan
Kecepatan ini terdapat pada kendaraan sesaat setelah terjadi benturan (benturan pertama dan berikutnya), tanda yang terdapat disini (tanda pasca benturan) dapat menunjukan kecepatan kendaraan.

e. Perlambatan
Perlambatan adalah negatif atau lawan dari percepatan, dan arti dari perlambatan adalah berkurangnya kecepatan pada suatu waktu tertentu. Simbol dari perlambatan adalah “a“. satuannya adalah meter/detik² dalam symbol “m/s²“.

f. Percepatan
Bertambahnya kecepatan secara teratur pada satuan waktu tertentu.

g. Waktu reaksi
Waktu yang diperlukan oleh pengemudi kendaraan saat melihat objek di depannya dan melakukan reaksi untuk berhenti dengan menginjak pedal rem dengan segera.

h. Jarak reaksi
Jarak yang diperlukan oleh pengemudi sejak melihat objek sampai dengan berhenti dengan meninggalkan bekas pengereman di jalan (jumlah jarak dari waktu respon sampai dengan berhenti).

i. Jarak pengereman
Jarak yang diperlukan kendaaan selama melakukan pengereman.

j. Waktu pengereman
Waktu yang diperlukan kendaaan selama melakukan pengereman.

k. Jarak henti
Jarak yang diperlukan oleh pengemudi dari saat melihat suatu objek lalu melakukan pengereman mendadak sampai dengan berhenti.

l. Waktu henti
Waktu yang diperlukan oleh pengemudi dari saat melihat suatu objek lalu melakukan pengereman mendadak sampai dengan berhenti.

m. Bekas rem
Bekas/tanda gesekan antara ban dengan jalan yang terbentuk di permukaan jalan.

n. Gerak lurus beraturan
Kecepatan tepat dr gerak dlm suatu satuan waktu.

o. Gerak lurus beraturan diperlambat
Berkurangnya kecepatan secara teratur (dengan atau tanpa kecepatan akhir).

p. Gerak lurus beraturan dipercepat
Bertambahnya kecepatan secara teratur.

q. Kecepatan konstan
Jarak yang ditempuh persatuan waktu perpindahan.

r. Percepatan konstan
Perpindahan percepatan dengan kecepatan tetap persatuan waktu.

s. Perlambatan konstan
Perpindahan percepatan dengan kecepatan tetap persatuan waktu.

t. Kecepatan tidak tetap
Perubahan perpindahan persatuan waktu.

B A B II
PENANGANAN BUKTI-BUKTI DI TKP

1 Fokus Analisa

Adalah penting dalam suatu analisa Lalu Lintas untuk membuat daftar mengenai analisa apa saja yang diperlukan dalam suatu laka. Jika analisa yang sudah kita inginkan sudah kita dapatkan maka selanjutnya, kita dapat melangkah ke penyidikkan yang lebih spesifik dan terarah.
Daftar pertanyaan berikut ini dapat membantu dalam penyidikkan laka lantas yang lebih terarah dan professional.

a. Berapakah kecepatan kendaraan.
Kecepatan dibedakan :
1) Kecepatan orisinil :
Adalah kecepatan yang dimiliki oleh kendaraan saat mendekati lokasi kecelakaan. Kecepatan ini dapat diketahui dari total tanda-tanda/ bekas/jejak yang ada (bekas ban goresan, kerusakan kendaraan dan lain-lain). Dapat pula melalui tanda-tanda yang spesifik dan terpisah (missal : kurva atau bekas drifting) serta dari situasi pada lokasi yang riil (jarak berhenti yang tersedia).
2) Kecepatan sesaat sebelum kecelakaan
Kecelakaan itu sendiri dapat menyebabkan perbedaan kecepatan yang sangat besar. Bagaimanapun hal ini tidak akan terjadi jika kecepatan yang merupakan bentuk dari energi yang dapat menyebabkan kerusakan atau luka parah, tanpa suatu perbedaan kecepatan yang signifikan. Biasanya kecelakaan membawa suatu konsekuensi yang sangat jelas, kerusakan kendaraan, dengan mana kita dapat memanfaatkan tanda-tanda ini dalam analisa laka lantas.
3) Kecepatan setelah benturan terjadi
Kecepatan ini terdapat pada kendaraan sesaat setelah terjadi benturan (benturan pertama dan berikutnya) tanda yang terdapat disini (tanda pasca benturan) dapat menunjukan kecepatan kendaraan. Oleh karena itu sangat penting untuk mendata berbagai bentuk informasi ini.
Hal ini tidak hanya berhubungan dengan sample tanda-tanda yang terdapat pada kerusakan kendaraan, tetapi juga arah gerak kendaraan dari titik benturan (konflik point) posisi objek tertentu yang terlontar, posisi orang dan lain sebagainya sebagai contoh, berapa banyak kendaraan tersebut mengalami putaran setelah tabrakan (Spinning), dapat menyajikan informasi yang menarik dan penting.

New Picture

Kerusakan yang terjadi pada sabuk pengaman biasanya dapat terlihat

Tanda-tanda apa yang dicari?

1)      Bekas ban :

a)             Bekas ban tergelincir atau selip (slipping atau skidding)

b)            Bekas ban saat pengereman tak terblokir

c)             Bekas ban beraturan akibat pengereman.

d)            Bekas ban saat pengereman terblokir.

e)             Bekas ban berupa drifting (penyimpang)

2)      Bekas ban tergelincir, selip ataupun bekas cetak tapak ban pada bahu jalan.

Kemudian setiap tanda berbeda jauh dalam keterlambatan. Hasil dari perlambatan dan tanda yang ada menunjukkan adanya energi yang hilang atau kecepatan yang berkurang.

3)      Bekas goresan

4)      Titik pendaratan dan jarak lontaran :

a)             pejalan kaki

b)            sepeda dan sepeda motor

c)             daerah konsentrasi pecahan kaca

d)            jarak lompatan kendaraan

5)      Kerusakan kendaraan dan penyimpangannya

6)      Apakah sabuk pengaman dan kantong udara berkerja dengan baik .

7)      Karakteristik speedometer dan tachograph.

8)      Data dari kotak hitam

 a.      Apakah sabuk pengaman digunakan ?

 Digunakan (“SW”, safety belt worn) atau tidaknya (“NW” not worn) sabuk pengaman dapat dianalisa secara manual. Energi yang dimiliki oleh pengemudi dan penumpang saat bergerak dalam kecepatan yang sama dengan kendaraan, menyebabkan timbulnya tanda-tanda khusus pada saat terjadinya kecelakaan. Ada atau tidaknya tanda-tanda ini dapat menuntun kita pada kesimpulan apakah sabuk pengaman digunakan atau tidak.

Tanda apa yang dicari ?

Bila sabuk pengaman digunakan :

1)      Distorsi atau kerusakan material pada bagian tertentu sabuk pengaman.

2)      Apakah sabuk pengaman mengencang dengan baik saat digunakan.

3)      Tanda pada sabuk pengaman :

a)      Bekas terbakar / luka

b)      Kerusakan

c)      Pengerutan

d)     Efek spiral

e)      Bekas darah, pecahan  gelas, pakaian yang menempel pada sabuk pengaman.

Luka-luka

Sabuk pengaman yang dipakai menyebabkan luka memar pada bagian leher dan  atau luka pada tubuh bagian atas secara diagonal. Sebaliknya bila sabuk pengaman tidak digunakan maka kita akan menemui luka di bagian kepala (akibat benturan dari kaca depan atau atap kedaraan). Luka pada bagian dada (akibat benturan dengan stir/kemudi atau dash board).

Pada kecelakaan berat (kecepatan tinggi), luka tertentu juga dapat terlihat walaupun sabuk pengaman digunakan. Tanda pada sabuk pengaman akan dapat menjelaskan hal ini.

Kerusakan yang terdapat pada kendaraan

1)      Tanda seperti bintang pada bagian atas kaca depan. NW

2)      Tanda seperti bintang pada bagian bawah kaca depan, SW

3)      Kerusakan pada stir/kenudi

4)      Kerusakan pada bagian atap (seperti cetak kepala).

 a.      Apakah Helm digunakan  ?

Dalam suatu kecelakaan, kepala sering menerima energi atau gaya yang bekerja dari luar terhadapnya. Energi atau gaya ini seringkali menimbulkan suatu tanda tertentu. Ada atau tidaknya tanda ini dapat menuntun kita pada kesimpulan apakah helm digunakan atau tidak. Hal ini sangat penting untuk memberikan perhatian bahwa tanda-tanda tersebut jelas dan nyata. Jika helm sudah digunakan ada hal lain yang diperlukan untuk penyidikan lebih lanjut, helmet akan mudah terlepas pada saat tabrakan. Sebelum helm tersebut dapat melindungi kepala dari bahaya tabrakan. Kecocokan dan kualitas merupakan bagian penting. Jika jauh dari letak korban dan korban mungkin akan menderita laku pada bagian luar kepala. Perhatikan bagian-bagian helm yang sangat penting :

1)      Bagian luar helm harus keras (kuat/melindungi kepala dari benturan)

2)      Bagian dalam helm harus lembut dan padat (kuat melindungi kepala daribenturan)

3)      Tali helmet harus aman untuk dipakai (biasanya tali helm dapat cepat diketatkan), tali helm ini harus setiap hari diperhatikan.

Luka pada kepala, dapat dilihat dari kerusakan bagian luar helm dan perubahan bentuk dari lapisan dalam. Untuk menentukan apakah helm itu berguna atau tidak, dapat diamati dengan adanya perubahan bentuk/kondisi pada bagian dalam helmtersebut. Letak benturan pada kepala memungkinkan untuk menentukan helm itu berguna atau tidak. Hal ini dapat kita lihat dari rambut, darah dan bahan fiber sintetik yang terdapat pada helm.

Saksi yang hanya mendengar tabrakan pada awal kejadian tidak membantu sama sekali dalam proses penyidikan, akan tetapi orang yang menolong dan mencopot helm dari kepala korban merupakan sumber informasi yang penting.

 a.      Dimana posisi tabrakan ?

 Apa yang dimaksud  oleh kalimat tersebut adalah sudut dimana tempat terjadinya kecelakaan. Dimana letak yang sesuai akan memberi penjelasan yang terang dan penting. Pada beberapa laka lantas hal itu sangat untuk menentukan posisi pada saat tabrakan terjadi. Situasi ini dapat memberi penjelasan :

1)      Tabrak depan, mengarah pada pertanyaan siapa yang mengemudi dan apakah pada sisi jalan yang salah.

2)      Tabrak depan atau  belakang terjadi setelah kendaraan yang dibelakang menabrak bagian belakang kendaraan yang didepannya.

New Picture (1)

A.  Titik Tabrakan.

                             D.  Panjang Lontaran Pecahan Kaca = Jarak antara B (Pertama

                                   pecahan kaca dan C akhir pecahan kaca)

                             E.  Lebar Lontaran Pecahan Kaca.

Tanda-tanda yang harus dicari :

1)      Bukti yang paling jelas umumnya justru diprolehdari bekas ban yang tidak beraturan. Jika sejumlah dan menyebabkan bekas rem tak terblokir, bekas Drifting atau tergelincir/slip. Biasanya akan membentuk suatu sudut, penebalan atau ketidak aturan lainnya yang berasal dari benturan kendaraan terhadap suatu objek. Dari ketidak aturan kita dapat menentukan di mana posisi ban saat tabrakan terjadi. Pada kecelakaan yang melibatkan kendaraan, pejalan kaki dan atau pengendara sepeda , ketidak teraturan berasal dari rem yang terblokir dan atau ban yang tergelincir :

  • biasanya tidak mungkin terjadi benturan antara bagian bawah depan kendaraan dengan pejalan kaki/pengendara sepeda.
  • Tetapi pada benturan kedua, pejalan kaki/ pengendara sepeda menyentuh bonet, kaca depan atau kap mobil.

2)      Selama kecelakaan bagian tertentu dari kendaraan terkadang menyentuh bagian permukaan jalan. Dari tanda/bekas yang muncul dari kejadian ini “strikting mark”  dapat menuntun kita pada posisi dimana kendaraan pertama kali menyentuh pejalan kaki/pengendara sepeda. Striking mark dapat juga pada saat setelah kecelakaan terjadi.

3)      Sebagai tambahan area dimana pecahan gelas, oli dan air pendingin ditemukan dapat memberikan informasi tentang posisi titik konflik.

New Picture (2)

  •       A                    Fase Kontak
  •       B                     Fase Melayang
  •       C                     Fase Meluncur
  •       D = A+B+C    Jarak Jatuh
  •       E                      Kemungkinan Jarak Jatuh
  •       F                      Kemungkinan Jarak Luncur
  1. a.      Dimana titik konflik yang sebenarnya ?

 Contoh : Apakah pejalan kaki berjalan pada zebra cross ?

Point-point berikut ini dapat menjelaskan :

1)      Tanda yang terjadi pada saat benturan menunjukkan bahwa titik konflik yang sebenarnya.

2)      Tanda yang dapat setelah konfik point merupakan hasil dari benturan pertama.

Tanda apa yang  harus dicarai  ?

1)      Sudut atau ketidak teraturan bekas ban yang muncul.

2)      Area dimana terdapat bekas Lumpur/tanah.

3)      Bekas goresan (profil cetak sepatu dan profil ban)

4)      Noda atau percikan

b.      Kemana arah gerakan sebelum dan sesudah titik tabrakan ?

 Hal ini berhubungan dengan arah driving mark, tanda pada saat tergelincir dan sejenisnya.

 Tanda apa yang harus dicari  ?

1)      Bekas ban.

2)      Jarak lontaran atau arah lontaran

3)      Darah dan noda

4)      Tanda goresan

5)      Interpretasi dari tempat laka dan posisi tabrakan.

New Picture (3)

  1. a.      Siapa pengemudi  ?

 

Tanda yang harus dicari :

1)      Tanda serat

a)        baju

b)        sabuk pengaman

2)      Luka-luka

a)       diagonal sabuk pengaman

b)      luka pada kepala (tanda bintang pada kaca)

c)       stir

d)      kaki atau bagian bawah kaki (disebabkan oleh pedal)

1)      Peryataan (saksi yang mendengar tapi tidak melihat laka akan sangat berguna).

2)      Posisi dari tempat duduk pengemudi (di depan atau di belakang, kecil atau besar pengemudinya)

3)      Muntahan atau air seni.

4)      Darah (golongan darah)

5)      Penggunaan anjing pelacak.

  1. b.      Apakah lampu yang digunakan saat tabrakan menggunakan lampu yang cocok ?

 

Hal  yang mungkin ditemukan  ?

1)      Apakah lampu tertentu menyala (lampu depan, lampu rem dan sejenisnya)

2)      Kemungkinan ketajaman lampu kurang sehubungan dengan penempatannya yang salah.

3)      Apakah menggunakan lampu dekat atau lampu jauh. (lihat “bola lampu”)

  1. c.       Bagaimana jarak pandang  ?

 

Pertanyaan pendek ini dapat dipakai untuk penyidikan yang lebih mendalam. Manusia lingkungan dan kendaraan merupakan faktor penyebab laka sehingga pertanyaan apakah yang dilihat orang bukan menjadi pertanyaan yang penting, tetapi apa yang dapat dilihat orang merupakan hal yang terpenting.

1)      Manusia : Bagaimana seorang mengamati sangat tergantung kondisi dan mental seseorang. Aspek-aspek yang harus diperhatikan :

a)      Jarak pandang, dimana observasi tertentu dilakukan tidak lebih besar dari 2 % walau bagaimanapun pandangan ke kanan dan kiri terus-menerus diperlukan.

b)      Kerusakan mata.

c)      Night blindness, pengaruh / efek reaksi pada mata berkurang pada malam hari.

d)     Emosi dan stress.

e)      Lelah.

f)       Konsentrasi.

g)      Penyakit dan iritasi.

h)      Alcohol dan obat-obatan (dalam pengobatan).

i)        Kekurangan oksigen karena buruknya ventilasi pada helm.

j)        Halunisasi.

k)      Latihan dan pengalaman.

2)      Kendaraan : Kendaraan dan posisi dari pengemudi ditentukan oleh pandangan keluar, pada aspek ini point-point yang harus dipertimbangkan :

a)      Posisi (tinggi dari pengemudi).

b)      Kotor, kaca kotor karena tertutup oleh debu.

c)      Atap.

d)     Penyesuaian kaca yang tidak tepat atau kaca yang goyang.

e)      Sudut yang tak terlihat.

f)       Muatan dan penumpang dalam kendaraan.

3)      Lingkungan sekitar :  Pandangan dapat terhalang oleh situasi sekitar :

a)      Situasi penerangan.

b)      Kondisi cuaca.

c)      Warna-warna kontras.

d)     Bangunan-bangunan, tumbuh-tumbuhan dan halangan lainnya.

  1. d.      Siapa yang melanggar lampu merah  ?

 

Keterangan saksi.

Hal ini akan diketahui melalui keterangan saksi apakah kita berbicara langsung atau pemeriksaan secara langsung pada lampu lalu lintas :

1)      Apakah lampu lalu lintas berfungsi dengan baik.

2)      Jika berfungsi, apakah lampu hijau dapat menyala bersamaan.

3)      Apakah program informasi secara detail (tahap diagram) dari lampu lalu lintas tersedia ?

4)      Apakah lampu lalu lintas pada saat laka berfungsi sesai dengan tahap diagram ?

Ingat pada tahap lampu kuning dan tahap gerakan.

Tanda apa yang dicari

1)      Semua hal yang mendekati tanda.

2)      Posisi tabrakan.

3)      Titik tabrakan.

4)      Arah gerakan.

5)      Kerusakan.

6)      Tanda untuk menentukan kecepatan.

  1. e.       Pada jarak berapa obserasi dilakukan  ?

 

Ada dua pertanyaan yang mungkin :

1)      Dari titik mana seorang dapat melihat bahaya, dimana titik observasi yang mungkin, karena hal ini tergantung dari titik penglihatan.

2)      Kapan seorang dapat melihat suatu objek dan dimana titik dari observasi yang aktual ?

Umumnya hal ini terletak pada titik yang kordinatnya pada jarak yang dibuat dalam waktu reaksi sebelum memulai melakukan pengereman. Hal ini penting bahwa kemungkinan titik pertama observasi yang dapat diyakinkan, sebagai contoh  titik kecepatan yang aman.

  1. f.       Apakah kecelakaan dapat dihindari  ?

 

Hal ini harus dikombinasikan dengan laporan-laporan yang ada (tergantung pada laka) pertanyaan lainnya yang sudah disebutkan dapat berkembang.

  1. g.      Siapa yang bertanggung jawab  ?

Berdasarkan Undang-undang nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, yang bisa bertanggung jawab terhadap terjadinya suatu kecelakaan lalu lintas adalah selain pengemudi itu sendiri, bisa juga terhadap pemilik kendaraan dan perusahaan yang memiliki kendaraan yang terlibat kecelakaan lalu lintas, serta pemerintah juga bertanggung jawab apabila kecelakaan lalu lintas tersebut disebabkan oleh sarana/prasarana lalu lintas yang tidak memadai di tempat kejadian perkara kecelakaan lalu lintas tersebut terjadi.

  1. h.      Identifikasi dari pengemudi atau kendaraan yang melarikan diri.

 

Membuat catatan dalam bidang :

1)      Profil ban.

2)      Kaca lampu utama depan.

3)      Sidik jari.

4)      Jejak dari cat.

5)      Pecahan kaca dengan nomor.

6)      Driving mark.

Penggunaan tanda lainnya :

1)      Darah dan noda.

2)      Sorting test.

3)      Perbandingan bahan.

4)      Pecahan yang berkaitan.

5)      Bagian mobil yang specific.

6)      Perbandingan kerusakan.

7)      Tanda lain, jalur roda, sumbu roda, radius putaran.

  1. i.        Kemungkinan dari perbandingan

 

1)      Tanda ban  : Komposisi dari bahan karet dan bagan profil.

2)      Goresan :  Bagian yang berhubungan dengan ketinggiannya.

3)      Darah dan noda :  Komposisi kimia.

4)      Kaca, indeks pembiasan.

5)      Kerusakan dan perbahan bentuk.

6)      Kaca, warna :  Struktur Dari lapisan cat dan komposisinya.

7)      Rambut dan serat.

8)      Luka-luka.

9)      Golongan darah.

10)     Material yang rusak

  1. j.        Apakah ada masalah dengan kerusakan tehnik ?

 

Penyebabnya dapat berupa :

1)      Bekas ban.

2)      Goresan.

3)      Kerusakan dan perubahan bentuk.

4)      Perbedaan dari mobil yang terbakar.

5)      Perbedaan dari bekas benturan terhadap permukaan air.

6)      Material yang rusak.

Untuk mengutamakan kombinasi dengan penyelidikan tehnik secara lebih jauh dari kendaraan ada pertanyaan yang sering muncul :

1)      Sistem kemudi yang gagal, biasanya disebabkan oleh rem dan ban depan (tidak ada kerusakan tehnis).

2)      Mobil yang hampir tidak melakukan pengereman/tidak cukup kuat. Sering terjadi kesalahan perlambatan pada roda yang terkunci. Perlambatan yang actual biasanya tidak dapat berfungsi baik. Khususnya dalam membedakan situasi seperti pada lumpur yang ditinggalkan pada permukaan jalan, penumpukan lumpur yang ada di bawah roda yang terkunci menyebabkan roda dengan mudah selip pada permukaan jalan.

                 

BAB   III

PENGANTAR TEORI GERAK

 

 

  1. a.      Definisi  :

 

  1. a.         Pengertian :

1)      Gerak lurus beraturan adalah kecepatan tepat dari gerak dalam suatu satuan waktu.

2)      Gerak lurus beraturan dipercepat adalah bertambahnya kecepatan secara teratur.

3)      Gerak lurus berubah beraturan diperlambat adalah (dengan atau tanpa kecepatan akhir) berkurangnya kecepatan secara teratur.

4)      Perlambatan adalah berkurangnya kecepatan secara teratur pada satuan waktu tertentu.

5)      Percepatan adalah bertambahnya kecepatan secara teratur pada satuan waktu tertentu.

6)      Waktu reaksi adalah waktu yang dibutuhkan sejak pertama kali berpersepsi sampai dengan sesaat sebelum pengereman.

7)      Jarak reaksi adalah jarak yang ditempuh suatu kendaraan selama waktu reaksi.

8)      Jarak pengereman adalah waktu yang diperlukan kendaaan selama melakukan pengereman.

9)      Waktu pengereman adalah waktu yang diperlukan kendaaan selama melakukan pengereman.

10)  Jarak behenti adalah jarak reaksi + jarak pengereman.

11)  Waktu berhenti adalah waktu reaksi + waktu pengereman.

 

  1. b.         Satuan

Satuan internasional untuk symbol-simbol pada teori gerak adalah

Besaran

Simbol

Pengertian

Satuan internasional

Waktu

Kecepatan

Perlambatan (percepatan)

Jarak tempuh

t (tempo)

v (velokitas)

a (acceleraty)

s (spatium)

detik , jam

m/detik (km/jam)

m/detik/detik

m , km

s , h

m/s

m/s²

m , km

  1. b.      Km/h dan m/s

Dalam pembicaraan sehari-hari kecepatan biasanya disebut dalam kilometer per jam (km/h) atau meter per detik (m/s). Formulasi untuk dasar perhitungan 1 Km = 1000 m dan 1 jam = 3600 detik.

Rumus  :

Km/h               m/s                                                            m/s               km/h

m/s = km/h : 3,6                                                                km/h = m/s x 3,6.

  1. c.       v – t grafik

 

v – t grafik adalah garis grafik yang terdiri dari dua poros. Kecepatan (v) ditunjukan sepanjang poros vertical dan waktu (t) ditunjuk sepanjang poros horizontal.

Pertemuan dari kedua poros disebut titik original (o) semua pergerakan yang ditemukan dalam teori gerak ditunjukan dalam grafik :

  1. Gerak lurus beraturan

v

t

o

  1. Gerak lurus berubah beraturan dipercepat.

v

o

t

  1. Gerak lurus berubah beraturan diperlambat dengan kecepatan akhir 0 m/s.
  1. Gerak lurus berubah beraturan diperlambat tanpa kecepatan akhir.

Contoh  :

1)      Suatu v t grafik dapat juga menunjukan pergerakan dalam kasus kecelakaan.

waktu reaksi                    waktu pengereman

waktu berhenti

2)      Gerak lurus berubah beraturan diperlambat ditunjukan dalam grafik sebagai berikut

1                 2                 3                 4                5

  1. d.      Gerak lurus beraturan :     

s = v x t

v = s / t

t = s / v

  1. e.       Gerak lurus berubah beraturan diperlambat hingga berhenti :

s = ½ vt

v = t.a

t = v / a

a = v / t

Catatan : Rumus diatas menunjukan ada hubungan langsung antara kecepatan, waktu, jarak dan perlambatan. Bila salah satu faktor dirubah akan berakibat langsung pada hasil dari rumus.

  1. f.       Normalisasi

Pada analisa kecelakan lalu lintas, informasi dan data yang diperoleh di TKP harus dibuat diruangkan kedalam suatu laporan / catatan. Untuk meyakinkan dan membuat semuanya dapat mengerti, penggunaan ukuran satuan dan simbol-simbol yang benar-benar diperlukan. Simbol-simbol dan satuan tersebut diatas telah distandarisasikan diseluruh dunia dengan sistem internasional ( SI ). Penggunaan diatur dalam Wight and Measures Law. Sistem internasional ini dipersembahkan oleh “ Syteme International D’ Unites “ .

  1. g.      Penamaan dan simbol-simbol.

Dari besaran-besaran dasar yaitu panjang waktu, massa, dan hubungannya dengan dasarnya yaitu meter, detik, dan kiloram.

  1. Kecepatan.

Adalah jarak yang ditempuh pada satu waktu tertentu dengan symbol “ v “ satuannya adalah m /s atau    km/ h

Rumus: v = s/t

  1. Perlambatan.

Perlambatan adalah negatif atau lawan dari percepatan didalam AKLL sebagian besar yang kita gunakan adalah perlambatan. Dan arti dari perlambatan adalah berkurangnya kecepatan pada suatu waktu tertentu. Simbol dari perlambatan adalah “ a “ . Satuannya adalah meter  per detik dalam symbol “ m / s² “.

    Berkurangnya kecepatan

Perlambatan =

          Waktu tertentu

a = v/t

  1. Satuan-satuan lain.

Berbeda dengan sejumlah besaran seperti energi, ketikakita mengekspresikan tenaga dalam ukuran-ukuran itu kita dapatka simbol kgm / s². Dari simbol ini, kita dapatkan bahwa tenaga mempunyai satuan sendiri, yaitu Newton. Simbolnya adalah “ N “ .

  1. Penyebutan.

Ukuran-ukuran ditulis dengan penuh, kependekan / singkatan atau dalam simbol-simbol besaran detik. Singkatan sec adalah s. Simbol sendiri adalah bukan singkatan, jadi kita tidak boleh meletakan titik setelah simbol kecali pada akhir kalimat. Penting juga di perhatikan tentang hurup besar dan kecil. Contoh G dan g yang mempunyai arti berbda yaitu berat dan gravitasi.

Demikian pula dengan T dan t yaitu temperature dalam celvin dan waktu.

  1. Besaran.

                   Besaran

Simbol

Satuan

Simbol

Panjang

Lebar

Tinggi

Busur

Jari-jari

Waktu

Kecepatan

Perlambatan

Massa

Gaya

Berat

Gravitasi

Usaha

Energi kinetik

l

b

h

s

r

t

v

a

m

F

G

g

W

Ek

Meter

Meter

Meter

Meter

Meter

Detik dan Jam

Meter / Detik

( Km / Jam )

Meter / Detik / Detik

Kilogram

Newton

Newton

Meter / Detk / Detik

Newton Meter, Joule

Newton Meter

m

m

m

m

m

s

m / s

km / h

m / s²

kg

N

N

m / s²

N m , J

N m

  1. Desima prefiks.

Simbol-simbol dari satuan mempunyai prefiks decimal sebagai berikut:

Prefiks

Simbol

Faktor

Dibaca

1

2

3

4

giga

mega

kilo

hekto

deka

meter

desi

centi

G

M

k

h

da

m

d

c

1.000.000.000

1.000.000

1.000

100

10

1

1,0

0,01

Miljard

Sejuta

Seribu

Seratus

Sepuluh

Satu

Sepersepuluh

Sepesaratus

1

2

3

4

mili

mikro

nano

m

mk

n

0,001

0,000.001

0,000.000.001

Seperseribu

Sepersejuta

sepersemiljard

  1. Sub symbol.

Untuk AKLL kita menggunakan subsimbol untuk mengenali simbol-simbolyang ada.

Contoh :

vo          =  Indikasi untuk kecepatan orisinil dan kecepatan awal.

vt           =  Indikasi kecepat setelah wakrtu tertentu atau kecepatan akhir.

vtabrak =  Kecepatan saat tabrakan.

t reaksi  =  Waktu reaksi.

  1. h.      Matematika

Pekerjaan penghitungan yang kita lakukan, kita namakan matematika. AKLL berhubungan dengan matematika, angka dengan cepat dihasilkan secara benar. Karena itu penting untuk mengikuti peraturan matematika baik dengan menggunakan kalkulator maupun menggunakan alat hitung lainnya.

Contoh penggunaan alat-alat kalkulator : (kalkulator yang dilengkapi dengan drajat, akar, sin, cos, tg).

2 + 3 x 5 = ……….

Bila hasilnya 17 kalkulator tersebut benar, namun bila hasilnya 25 kalkulator tersebut tidak dapat kita pergunakan dalam pelajaran ini.

Catatan :  penggunaan titik dan koma sangat berbeda dengan sistem di Inggris. Di Inggris di belakang titik berarti angka decimal sedangkan di Indonesia titik merupakan sebuah satuan.

Contoh : Penulisan sistem Indonesia 30.000,7 berarti tiga puluh ribu koma tujuh, untuk kalkulator biasanya menggunakan sistem Inggris.

a. Pemrosesan

1)         Perintah di Kalkulator.

Perintah ini dapat berupa perkalian, pembagian, penjumlahan, pengurangan dan lain-lainnya.

Contoh : 2² x 3 : √4 + 5 – 6 = 5

Apabila  ada sebuah formula diantara dalam kurung, kita harus melindunginya terlebih dahulu.

Contoh  :  2 + 3 x 5 = 17

(2 + 3) x 5 = 25

2)         Pembulatan.

Dalam perhitungan kita sering mendapat hasil tidak seluruhnya dalam angka bula, tetapi dalam bentuk decimal. Untuk itu kita membiasakan penulisan 2 angka dibelakang decimal.

  1. Simbol matematika

Didalam matematika kita dapat menggunakan beberapa simbol, dimana simbol-simbol tersebut akan dapat mengganti beberapa kata atau cara terpendek dalam penulisannya.

Simbol

Arti

<

>

=

+

x atau . atau *

: atau /

_ contoh a

∆ contoh ∆ v

Kira-kira sama dengan

Lebih kecil dari

Lebih besar dari

Sama dengan

Lebih besar sama dengan

Lebih kecil sama dengan

Tambah

Kurang

Dikali

Akar

Dibagi

Rata-rata contoh percepatan rata-rata

Perbedaan, contoh perbedaan percepatan

 

 

  1. i.        Teori Kinetik
    1. Gerak dan statis.

Contoh:

1)      Seorang perempuan duduk didalam Bus, berarti perempuan itu statis dalam hubungan dengan bus dan perempuan itu bergerak dalam hubungannya dengan permukaan jalan.

2)      Ketika perempuan tersebut berjalan kearah supir, dia bergerak dalam hubungannya dengan bus dan permukaan jalan.

3)      Mobil statis ketika mobil tidak berubah tempat dalam hubungannya dengan lingkungan, mobil tersebut dikatakan bergerak bila berhubungan dengan perputaran bumi.

Jadi pada hakekatnya tidak ada benda yang benar-benar statis ini adalah teori relatis.

  1. Kecepatan konstan.

Adalah jarak yang ditempuh persatuan waktu perpindahan.

Contoh:

Sebuah kendaraan dengan kecepatan konstan diidentifikasikan dengan angka-angka dari km/h atau m/s.

  1. Percepatan konstan.

Yaitu perpindahan dengan percepatan kecepatan tetap persatuan waktu.

Contoh:

Sebuah kereta maju dengan percepatan konstan 10 m/s² ini berarti setiap satu detik kereta tersebut berpindah sejauh 10 m.

  1. Perlambatan konstan.

Yaitu perpindahan dengan pengurangan kecepatan secara persatuan waktu.

Contoh : Sebuah mobil mengerem sampai berhenti.

  1. Kecepatan yang tidak tetap.

Yaitu perubahan perpindahan persatuan waktu.

Contoh:

Dalam kemacetan lalu lintas di kota selalu bergantian akselerasi dan pengereman, berdasarkan pencatatan kecepatan dengan tachograph.

  1. Diagram

Kita dapat membagi fakta dari kecelakaan lalu lintas dalam beberapa tahap yang mana setiap tahap menampilkan sebuah gerakan, untuk mencegah kesalahan dalam perhitungan perlu untuk menampilkan perpindahan ini dengan membuat grafik.

Hal ini mempnyai beberapa keuntungan :

  1. Tertib.
  2. Jelas dan sederana.
  3. Informasi mudah dimengerti.
  4. Formula yang digunakan menjadi jelas.

Untuk memehami grafik ini kita harus mengetahui bagaimana sebuah diagram bekerja, biasanya hanya menampilkan 2 garis yang sederhana.

Catatan :

Biasakanlah membuat diagram sebelum melakukan perhitungan.

1)      Diagram untuk skala

Untuk membuat diagram yang sederhana tidak memerlukan skala, namun untuk menghindari kesalahan penghitungan sebaiknya pembuatan diagram menggunakan skala dan kertas grafik.

2)      Membuat diagram

Sebuah diagram dibuat dengan 2 poros :

a)       Horizontal ax atau x – ax

b)       Vertikal ax atau y – ax

Titik dimana 2 poros ini bertemu dinamakan sumbu tetap, jadi bukan nol.

X axis

Y axis

3)      Pergerakan dalam diagram

Kecepatan tetap                      Percepatan tetap                      Perlambatan tetap                  Kecepatan tidak tetap

4)      Waktu yang dibutuhkan

Waktu yang dibutuhkan terlihat pada poros x. Poros waktu dapat menunjukan waktu reaksi, waktu pengereman, waktu tabrak, waktu setelah tabrakan, waktu saat berpapasan, waktuakselerasian lain-lain.

5)      Kecepatan

V – t grafik selalu digunakan sehingga kita mengetahui kecepatan yang diberikan. Kecepatan ditunjukan pada poros Y.

6)      Akselerasi

Akselerasi dari sebuah kendaraan dalam test selalu dihasilkan dalam diagram, percepatan  digunakan sebagai fungsi waktu. Saatpersenelling dipindahkan akan terlihat juga dalam diagram test.

7)      Perlambatan

Pada kecelakaan lalu lintas kita selalu berhubngan dengan perlambatan. Hasil test rem pada grafik menghasilkan lebih banyak informasi tentang itu, dan kita melihat perlambatan sebagai fungsi waktu.

8)      Jarak yang ditempuh

Dalam v – t grafik jarak yang ditempuh ada pada bagian permukaan grafik. Permukaan tersebut dapat berbentuk segitiga, segiempat atau trapezium kadang kala kita harus juga menghitung sudut yang ada ( penghitungan sudut ada pada buku jilid II ).

Daerah permukaan adalah :

a)       Sebuah segiempat, sama dengan panjang dikali lebar atau dasar dikali tinggi.

b)      Sebuah segitiga, sama dengan setengah dari segiempat atau setengah dikali lebar dikali panjang.

c)       Sebuah trapezium adalah daerah permukaan dari segiempat ditambah segitiga.

  1. k.         Rumus
    1. Membuat sebuah rumus.

Kita dapat membuat rumusdengan berbagai cara, contoh :

a)      Melihat satuannya

b)      Melalui diagram

c)      Dengan menggabungkan rumus yang ada

d)     Menggunakanbeberapa rumus secara bersama-sama

  1. Menghitung radius kurva

Radius kurva dapat dihitung. Sebagai contoh :

Ingat : adapengukuran dalam meter dan pengukuran dalam sentimeter sehingga kita harus menyamakan terlebih dahulu. Contoh : h = 15 cm dan s  =  8 m

Kita melakukan penghitungan dalam meter :

h²   +  ( ½ s ) ²                         0,15 ²   + ( ½  x 8 )²

r  =                                                =

2h                                               2 x 0,15

0,0225  = 16

=

0,3

=   53,408 meter

  1. l.           Bekerja dengan kinetik
    1. Gerak tetap

1)         Kecepatan tetap

Kecepatan tetap sangat berhubungan dengan analisa kecelakaan, kecepatan sering berubah sedikit demi sedikit sengga kita sering menghitung dengan kecepatan rata-rata.

2)         Kecepatan rata-rata

Contoh :

Sebuah mobil dikendarai selama 3 jam dengan kecepatan rata-rata 50 km / jam, berapa jauh jarak yang ditempuh ?

s  =  v . t

=  50  x 3

=  150  km

3)         Reaksi

Untuk memudahkan penghitungan waktu reaksi kita mengambil waktu reaksi selama 1 detik

Contoh :

Sebuah motor berjalan dengan kecepatan 36 km / jam jarak yang ditempuh dalam waktu reaksi adalah 3, 6 m.

Pada kenyataannya waktu reaksi sangat bereaksi dan tergantung pada reaksi pengemudi tersebut. Hal ini dapat berpariasi antara 0,6 – 1,5 detik.

4)         Menyeberang

Contoh  :

Seorang pejalan kaki berjalan cepat untuk menyebrang jalan sepanjang  5 m. Berapa waktu yang dibutuhkan orang tersebut untuk menyeberang ? Untuk menjawab hal ini kita tidakdapat menghitung secara pasti, namun berdasarkan percobaan untuk seorang yang sehat jasmanidan rohani :

  1. Berjalan lambat           = 1 m / s
  2. Berjalan normal           = 1,5 / s
  3. Berjalan cepat             = 2 m /s
  4. Joging                          = 2 – 3 m / s
  5. Lari                              = 3 – 4,5 m / s
  6. Lari cepat                    = 4,5 – 10  m / s

2

v

s  =  5 m

o

t

t  =  s / v  =  5 / 2           =  2,5 s

5)         Mengukur kecepatan

Untuk mengukur kecepatan dapat dicari dengan kecepatan rata-rata (contoh : Radar).

6)         Test Spedometer

Kita tidak dapat memastikan kecepatan hanya dengan melihat speedometer. Untuk seorang analis kita harus mengecek kecepatan speedometer dengan menggunakan pos radar atau perhitungan manual.

Contoh : Sebuah kendaraan membutuhkan waktu 6 detik untukjarak 100 m dan jarum speedometer menunjukan angka 50 km / jam. Berapa perbedaan kecepatan antara speedometer dengan yang sebenarnya.

v       =  s / t  =100 / 6

=  16,67 m / s x 3,6

=  60 km / h

Jadi perbedaan kecepatannya 10 km / h

7)         Ruang kecepatan

Contoh:

jarak antara 2 lampu merah adalah 200m. Seseorang mengemudikan mobil A dengan kecepatan 15 m / s dan mengemudikan mobil B pada jarak100m pertama denga kecepatan rata-rata 10 m / s dan 100 m selanjutnya 20 m / s. Apakah waktu yang ditempuh oleh kedua kendaran tersebut sama ?

Jawab:

Mobil A : t  =  s / v  =  200 / 15 = 13,33 s

Mobil B t1     =  s / v  =  100 / 10 = 10 s

t2  =  s / v  =  100 / 20  = 5 s

ttotal          =  10 + 5= 15 s

  1. Deselerasi tetap

Prinsif deselerasi adalah pengurangan kecepatan secara tetap panjang jarak pengereman pada kasus emergency tergantung pada 2 faktor yaitu kecepatan dan deselerasi pengereman.

1)     Fokus deselerasi pengereman.

Menggandakan kecepatan pada fokus yang sama mengakibatkan jarak rem 4 kali lebih panjang. Bila menggadakan perlambatan juga sistem pengereman dan lingkungan sangat mempengaruhi panjang dan pendeknya jarak rem. Dengan menggunakan ABS sistem jarak rem menjadi pendek pada jalan yang basah, kotor dan licin deselerasi menjadi rendah dan jarak rem menjadi panjang.

v

Contoh:

Sebuah mobil dengan karavan mengerem sepanjang 75 m dengan kecepatan 108 km/h dapatkah seseorag memberhentikan mobil tersebut dengan perlambatan normal ?

a          =  v²/2s  =  30²  /2 x 75

=  900/150

=  6m/s²

pada tabel untuk  Perlambatan normal = 2m/s²

jadi pada soal ini tidak dapat dilakukan pengereman dengan perlambatan normal.

2)     Berhenti karena tabrakan.

Suatu perlambatan yang sangat besar dapat timbul karena tabrakan pada manusia, dengan membenturkan kepala dapat diketahui bahwa maksimal perlambatan dimana kita tetap hidup adalah 600 m/s² dan bila mencapai 1.100 m/s² dapat berakibat fatal.

v

Contoh:

Sebuah mobil menabrak pohon dengan kecepatan sekitar 72 km/h dan mobil berhenti sejauh 1 meter berapa besar rata-rata deselerasinya  ?

V0²                    20²

a  =                    =

2.s                     2

=     200 m/s²

Catatan: Dengan rata-rata deselerasi 200 m/s² meskipun dengan seatbelt dan airbag akan sangat sulit untuk bertahan dikursi kendaraan.

3)

Vo =  √ 2 a s

Kecepatan berdasarkan panjang rem.

Rumus :

Contoh sebuah kendaraan dengan deselerasi 7 m/s² panjang rem 56 m berapakah kecepatannya?

v0 = √ 2 a s

= √ 2 x 7 x 56

=  28 m/s x 3,6

=  101 km/h

4)     Waktu pengereman

Contoh: Sebuah mobil bergerak dengan kecepatan 130 km/h, rata-rata deselerasi 2m/s² berapa jarak yang ditempuh?

V0²

s       =

2a

(130 : 3,6) ²

=

2 x 2

=  326 m

5)     Kecepatan sesaat setelah tabrakan berdasarkan panjang rem.

Tanda yang ditimbukan setelah mobil berputar akibat kecelakaan sering dipakai untuk mengetahui kecepatan saat kecelakaan yang terpenting pada kasus ini adalah kita harus mengetahui pajang rem dan deselerasi.

 

vimpect = √ 2 a sputar

= √ 2 x 2,5 x 60

=  17,32 m/s x 3,6

=  62 km/h

  1. Jarak berhenti.

Adalah jarak reaksi ditambah jarak rem.

Contoh:

Pengemudi mengamati sesuatu dijalan dan ia harus bereaksi terhadap sesuatu, ia memilih untuk mengerem dan kemudian menghasilkan jarak berhenti.

1)         Pengaruh lingkungan.

Asumsi yang tepat dari waktu reaksi dan deselerasi saat pengereman sangat penting untuk jarak berhenti, sehingga kita dapat memutuskan apakah bila ada hambatan pengemudi dapat berhenti tepat waktu atau ia terlalu cepat mengemudi sehingga mengakibatkan kecelakaan kombinasi yang tepat untuk menghitung reaksi dan pengereman:

a)            Reaksi :  Minimal 0,6 detik, rata-rata 1 detik dan maksimal  1 ½  detik (namun penyelidikan lebih lanjut sangat penting).

b)            Selama pengereman : Tergantung kendaraan dan lingkungan.

2)         Daya pandang.

Dalam undang-undang dikatakan bahwa setiap pengemudi harus mampu menjaga jarak terhadap kendaraan lain sehingga dapat menghentikan kendaraannya bila akan terjadi sesuatu yang tidak diharapkan.

Jarak berhenti dapat juga disamakan dengan daya pandang dalam perhitungan, sehingga dengan menghitung kita dapat memutuskan apakah pengemudi tersebut dalam kasus emergency dapat berhenti dengan tepat tanpa mengalami kecelakaan.

Kita dapat membedakan beberapa variasi daya pandang, sebagai berikut:

a)            Penglihatan, bersih atau tidaknya kaca depan mengakibatkan perbedaan waktu reaksi.

b)            Daya pandang, contoh: Seseorang menyeberang tidak jelas terlihat karena cuaca yang gelap sehingga kita dapat memperhitungkan bahwa waktu reaksi lambat.

c)            Pengamatan, situasi jalan dapat menjadi buruk sehingga untuk mengamati membutuhkan waktu yang berbeda-beda.

3)         Kecepatan yang aman.

Contoh :

v

Pada jarak pandang yang sangat aman (50 m) waktu reaksi yang kita pilih cenderung lebih panjang. Ketika mengerem kita juga harus hati-hati terhadap pengemudi dibelakang kita, pada saat rekonstruksi diketahui deselerasi 4 m/s² dan waktu reaksi 3 detik.

Jarak pandang                         =  50 m

Untuk menjawab permasalahan diatas kita dapat membuat diagram baru :

vaman =  vtotal – vbantuan

=  √ 2 a stot – atreaksi

=  √ 2 a (sbantuan + sdaya pandang ) – a treaksi

=  √ 2 x4 (1 / 2 a t²reaksi + 50 ) – 4 x 3

=  √ 544 – 12

=  23,32 – 12

=  11,32 m/s x 3,6

Vaman = √ 2 a ( saman + ½ a t²reaksi ) –at reaksi

=  41 km/h

Rumus

4)         Menjaga jarak

Banyak terjadi tabrak belakang marena tidak dapat menjaga jarak, sehingga ini harus kita bicarakan dengan baik dengan asumsi kecepatan dan deselerasi pengereman sama Jarak reaksi pengemudi dan kendaraan sama dengan waktu reaksi.

  1. Penghitungan kecepatan asli

Untuik menghitung kecepatan asli (sesaat sebelum tabakan), kita harus dapat menghitung secara tepat dengan memperhatikan kecepatan akhir dan kecepatan saat tabrakan dengan arah yang sama.

1)         Prinsip-prinsip perhitungan.

Contoh:

Sebuah mobil menabrak jembatan dengan kecepatan 40 km/h pada pagar jembatan terlihat goresan sepanjang 50  dan deselerasi dijalan tersebut 6 m/s². Berapa kecepatan awal mobil tersebut bila mobil tersebut berhenti pada saat tabrakan.

Jawab  : v ren  =  √ 2 a s rem

=  √ 2 x 6 x 50

=  24,49 m x 3,6

=  88 km/h

v asli  =  √ v²rem  + v² tabrak

=  √ 88² x 40²

=  97 km/h

2)         Variasi deselerasi

Sebuah motor meninggalkan bekas rem 20 m denga deselerasi 11 m/s² kemudian menabrak tepi jalan dengan kecepatan 30 km/h. Berapa kecepatan awalnya.

vo       =  √ 2 arem   srem  + 2 a gores s gores  + v² tabrak

=  √ (2 x 11 + 20) + (2 x 4 x 110) + (30 : 3,6)²

=  37,28 m/2² x 3,6

=  135 km/h

3.13 Teori Dinamik.

Teori dinamik banyak membantu untuk menganalisa sebuah kecelakaan. Sir Isaac Newton (1642-1726) menemukan teori dinamik pada tahun 1687 dengan sebutan tiga hukum Newton.

  1. Hukum Newton.

1)      Hukum I (Keseimbangan benda tegar)

Setiap benda akan tetap seimbang atau tegar jika gaya-gaya yang  bekerja padanya sama dengan nol atau resultan dari gaya tersebut sama dengan nol.

2)      Hukum II (Perubahan kecepatan)

Perubahan kecepatan berbanding lurus dengan gaya yang bekerja pada benda tersebut dan memiliki arah sesuai dengan arah gaya yang bekerja pada titik tersebut.

3)      Hukum III (Aksi – reaksi)

Setiap aksi selalu menimbulkan reaksi yang biasanya sama namun berlainan arah atau semua gaya yang bekerja pada benda benda tersebut selalu sama namun berbeda arah.

  1. Teori Dinamik

Teori Dinamik adalah bagian dari kinetik, kita dapat menambah beberapa prinsif  seperti massa, grafitasi, berat, daya, usaha dan energi.

1)      Massa.

Adalah suatu yang dimiliki suatu objek yang ditujukan dalam kilogram.Hal tersebut adalah kwantitas yang ditentukan oleh kerapatan  ukuran benda tersebut. Semakin besar massa semakin sulit untuk dipengaruhi oleh gerak konstan lurus benda tersebut. Dengan kata lain semakin sulit untuk menghentikan kendaraan dari keadaan bergerak sampai berhenti.

2)      Gravitasi

Adalah bagian dari akselerasi, denga simbol g, dan dalam m/s².

3)

G = m g

Berat

Berat adalah gaya khusus dengan simbol G dan satuannya adalah N. Berat adalah dari massa dan gravitasi degan Rumus :

Contoh : Sebuah mobil berdasarkan sertifkat registrasinya mempunyai massa 1.000 kg. Di Indonesia 1 kg = 9,8 N, Berapa berat mobil tersebut ?

G  =  mg

=  1.000 x 9,8

=  9.800 N

4)

F = m a

Gaya

Simbol gaya adalah F, satuannya Newton, Rumus :

1 N = 1 kg / m/s²

Ketika kita menarik sebuah tali maka tali tersebut juga mempunyai kekuatan untuk menarik dan ini disebut hukum aksi = reaksi.

Contoh:

Peluncur ditarik keudara dengan massa 300 kg. Peluncur tersebut mempunyai kecepatan 3 m/s². Berapa gaya yang diperlukan untuk menarik peluncur tersebut ?

Jawab : F  =  m a

=  300  x  3

=  900 N

5)      Usaha

W = F s

Usaha adalah hasil gaya dan jarak yang ditempuh dengan simbol W dan simbolnya N m atau Joule ( J ). Rumus  :

Contoh : Anda mendorong sebuah gerobak dengan gaya 100N sepanjang 5 m, berapa usaha yang dilakukan ?

Jawab : W   =  F s

=  100 x 5

=  500 N m

=  500 J

6)      Energi

Simbol dari energi adalah E, satuannya N m atau J . Sehingga energi mempunyai satuan yang sama dengan usaha. Hasil dari usaha adalah energi, energi tidak bisa hilang tetapi semuanya atau sebagian dapat pindah keobjek yang lain atau berubah menjadi bentuk yang berbeda.

Ek =  ½ m v²

Jumlah energi selalu tetap konstan, energi dapat digambarkan sebagai perbedaan energi atau energi kinetik dengan simbol E k.

Rumus energi kinetik adalah :

Contoh : Sebuah mobil dikendarai dengan kecepatan 72 km/h, dengan massa    1.300 kg. Berapa energi kinetiknya  ?

Jawab : 72 km : 3,6  =  20 m/s

E k  = ½ m v²

= ½ x 1.300 x 20²

= 260.000 N m

= 260.000 J.

3.12 Pendekatan praktek

Cara ini untuk mengetahui bagaimana cara bekerja subjek yang kita pelajari.

  1. Tingkat analisa.

Subjek bahan pelajaran ini tidak cukup untuk seorang analis kecelakaan sehingga kita perlu mendapat pelajaran yang lebih mendalam tentang analisa kecelakaan, sehingga untuk melakukan peyelidikan lebih lanjut kita dapat menggambarkan dengan jelas dan tepat disertai dengan rasa tanggung jawab.

  1. Tes rem

Karena kurangnya pengalaan dalam praktek tes pengereman kadangkala informasi yang penting tidak dapat terlihat sehingga banyak petugas dilapangan melakukan kekeliruan dan berpikir bahwa perlambatan dapat dilakukan dengan perkiraan saja.

  1. Asumsi.

Kita dapat melakukan analisa kecelakaan lalu lintas tanpa melakukan asumsi. Asumsi yang terpenting adalah data mana yang paling berperan sebagai penyebab terjadinya laka lantas. Asumsi dapat lebih dari satu dan itu lebih baik.

Contoh:

ketika petugas mendatangi TKP, ditemukan bekas rem sepanjang 30 m diperkirakan deselerasi 8m/2². Berdasarkan asumsi ini, petugas dapat memperkirakan kecepatan untuk tes pengereman, kendaraan yang terlibat dalam laka lantas tersebut terbakar habis. Tes pengeremen harus dilakukan dengan kendaraan yang berbeda bedasarkan argument yang tepat, hasil tes pengereman tersebut dapat digunakan dalam analisa laka lantas.

  1. Bekerja berdasarkan asumsi.

Asumsi tidak selamanya sesuai dengan fakta yang sebenarnya terjadi. Tetapi nilai minimal dan nilai kemungkinan terjadinya asumsi tersebut dapat diberikan, bila asumsi tersebut logis nilai dari fakta yang sebenarnya akan berada di antara kedua nilai tersebut.

3.13 Diagram dan Tabel

  1. Gambar diagram pengereman.

Salah satu cara cepat untuk memperkirakan kecepatan awal suatu kendaraan, lama pengereman, jarak henti dari bekas rem yang ada disuatu TKP laka lantas adalah dengan menggunakan diagram pengereman.

Contoh:  Disuatu TKP Laka Lantas ditemukan bekas rem sepanjang 35 m

Dengan menggunakan diagram pengereman maka kita dapat memperkirakan :

Kecepatan awal sebelum terjadinya kecelakaan adalah : 24 m/s atau 85 Km/jam, lama pengereman 2,95 detik dan jarak henti : 58 m

  1. Deselerassi
  2.       Tidak terblokir.
Deselerasi Bus, Ambulance dan kendaraan lain.

Rem tidak terbelkir < 2m/s²

Rem hati-hati karena banyak muatan < 1m/s²

  1. Rem terblokir
    1. Sepeda

1)      Hanya rem depan ≈ 2 – 4m/s²

2)      Kedua rem 6 – 8m/s²

3)      Sliding  4 – 12m/s²

  1. Motor < 50cc
    1. Rem belakang 4m/s²
    2. Kedua rem atau hanya rem depan 8m/s²
    3. Sliding 4 – 8m/s²
    4. Sepeda motor

1)       Rem belakang 4m/s²

2)       Kedua rem atau hanya rem depan 8 – 10m/s²

3)       Sliding 2 – 6m/s²

  1. Manusia

1)        Sliding dengan baju normal 9 – 12m/s²

2)        Sliding dengan baju kulit 6 – 19m/s²

  1. Mobil penumpang

1)        Blokir 7 – 9m/s²

2)        Rem ABS 8 – 12m/s²

3)        Sliding 4 – 6 m/s²

  1. Van

1)        Max 7m/s²

2)        Bernuatan lebih 4m/s²

  1. Lorry

1)       Kosong 6m/s²

2)       Lebih muatan 4 – 6 m/s²

3)       Secara teknis lebih muatan 2 – 4m/s²

  1. Kereta api/emergency 1,5 m/s²

 

s

t =

v

v

Diagram

Jarak

Waktu

s

v =

t

Kecepatan

Deselarasi

t

 

s = v t

 

 

 

s  =  ½ v t

s  =  ½ a t²

s  =

2a

v

a

t

 

v

t  =

a

 

2s

t  =

v

 

t  =    2s

      √   a

 

 

v  =  a t

 

 

2s

v  =

t

 

v  =  √ 2 as

v

a  =

t

 

2s

a  =

 

a  =   

          2s

 

v                               v

1           2             3

t                                 t

vo   =  2a1 s1 + 2a2 s2+ v

Diagram

Kecepatan

Radius Curva

h

s

 

   h² + (½ s)²

r  =

2 h

 

Gaya

berat

usaha

energy kinetik

F  =  m a

G  =  m g

W  =  Fs

Ek  = ½ m v²


B A B  V

MELOMPAT DAN MELAYANG (TAA II)

 

4)      Horizontal/vertikal.

Semakin cepat benda bergerak, semakin jauh loncatannya. Didalam kasus laka lantas kita sering melihat sesuatu atau seseorang loncat dari tanjakan, jembatan dll. Kita dapat menghitung kecepatan awal kendaraan dengan mengukur jarak horizontal loncatan dan perbedaan ketinggian secara vertical ( tinggi loncatan )

Seandainya kita dapat memasukan ketahanan udara dalam perhitungan, kecepatan horizontal tidak dapat berubah. Kecepatan vertical bertambah sebagai hasil dari gaya gravitasi ( gravitasi di Indonesia 9,8 m/s² ). Dengan di ketahuinya ketinggian jatuh maka kita dapat menghitung waktu jatuh. Sehingga kecepatan kendaraan sama dengan jarak loncatan dibagi waktu jauh.

Dalam bentuk rumus sebagai berikut

Jarak loncatan

Kecepatan   =

Waktu jatuh

Contoh :

Sebuah kendaraan terbang dan jatuh dari sebuah tanjakan/ketinggian setinggi 4 m. Kendaraan tersebut jatuh pada jarak 8 m. Berapakah kecepatan kendaraan ?

v

Sekarang kita dapat menghitung waktu jatuh dari ketinggian 4 m dengan percepatan jatuh sebesar gravitasi 9,8 m/s² dan ini adalah gerakan lurus berubah beraturan dengan rumus :

t =  √  2.s     =>   √  2.4     => 0,903 detik

g                  9,8

Sehingga waktu jatuh dalam 0,903 detik.

Seandainya kita mengabaikan pengaruh dari tekanan udara, kita dapat melihat bahwa jarak lompatan sejauh 8 m itu ditempuh dalam waktu 0,90 detik ( waktu jatuh ). Kecepatan horizontal itu tetap tidak berubah dan kecepatan tetap pada jarak 8 m selama 0,903 detik.

s                  8

v =           =>                 => 8,89 m/s

t               0,903

t

Jadi kecepatan kendaraan tersebut adalah 8,89 x 3,6 = 32km/jam.

Contoh :

Seorang tertabrak dan terlempar dari sebuah jembatan dengan ketinggian 8 m, orang tersebut mendarat sejauh 37 m. Berapakah kecepatan saat terjadi tabrakan  ?

Kita asumsikan orang tersebut terlempar akibat tumbukan dan mendapat kecepatan horizontal sehinggakita dapat menghitung kecepatan orang tersebut sebagai kecepatan saat terjadi tabrakan.

Sjump                     Sjump                     37                    37

vo  =                =>                    =>                    =>                    =>    29,13 m/s

t tall                 √ 2. sfull                 √ 2.8                 1,27

g                  9,8

Sehingga kecepatan tabrakan adalah 29,13 x 3,6 = 105 km/jam.

5)           Rumus gerak peluruh

Semakin cepat kita bergerak semakin jauh pula kita meloncat. Akan tetapi disamping perbedaan ketinggian juga sudut iklinasi pada saat dimulai lompatan juga sangat penting. Kita mencapai titik tertinggi ketika kita meloncat dengan sudut 45º inilah alasannya mengapa para “peloncat” mengkombinasikan kecepatan setinggi mungkin dengan tenaga loncat yang maksimal. Dengan kita mengetahui jarak loncatan ketinggian dan sudut loncatan, kita dapat menghitung kecepatan awal.

Kita menamakan rumus ini :

St g

vo  =

sin (2α)

α

Rumus Gerak Peluru.

St

St    =  jarak loncatan dalam meter didalam posisi horizontal yang sama sejajar dengan titik  lepas.

α    =  sudut inklinasi derajat

g    =  gravitasi bumi dalam m/detik²

v    =  kecepatan dalam m/detik

Didalam rumus ini, kita tidak mengikutkan berapa hal dibawah ini dalam perhitungan :

–          Pengaruh dari tekanan udara. Hal ini mengimplikasikan bahwa kecepatan asal seharusnya lebih tinggi dari kecepatan hasil perhitungan.

–          Pengaruh dari “ per “ kendaraan, per kendaran akan mebuat sudut implinasi menjadi lebih kecil dari sudut sebenarnya ( sebagai contoh Polisi tidur ). Ini juga mengimplikasikan kecepatan yang asli lebih tinggi. Perbedaan ketinggian seringkali terjadi. Dengan mengambarkan arah loncatan didalam kertas skala, kita dapat mengukur jarak loncatan.

Contoh :

Sebuah sepeda motor terlempar dari sebuah jalan saat melewati tumpukan tanah. Berdasarkan hasil penyelidik didapat jarak loncatan sejauh 23m. Sudut inklinasi 2,5º. Berapakah kecepatan sepedamotor tersebut ?

vo  =                               s . g            =>            23.9,8       =>        50,88041 m/dtk

sin (2α)                sin (2.2,5)

Kecepatan sepeda motor tersebut adalah 50,88041 x 3,6  =  183,169 m/detik.

Jadi untuk membuat loncatan sejauh 23 m dengan kemiringan 2,5º, kecepatan sepeda motor setidak-tidaknya 183 km/jam.

Bila ita melihat kasus tersebut, maka:

–          Pada sudut kemiringan 2º kecepatannya adalah 204 km/jam.

–          Padasudut kemiringan 3º kecepatannya adalah 167 km/jam.

Dengan demikian dapat dilihat bahwa keakuratan dalam mengukur sudut inklinasi adalah sangat penting dalam menentukan kecepatan tertentu suatu kendaraan.

B A B  VI

PERBEDAAN KETINGGIAN DAN TANJAKAN

  1. 20.  Mengukur Perbedaan Ketinggian.

Kita seringkali dapat mengukur perbedaan ketinggian dengan cara kita sendiri. Cara yang sering digunakan dalam pekerjaan bangunan dapat juga digunakan dalam analisa laka lantas. Contohnya dengan penggunaan selang air transparan. Letakan selang yang sudah disis air sepanjang lintasan yang ingin diukur (agar mudah dilihat sebaiknya air yang berwarna). Ukur tinggi air  dikedua ujung selang dari permukaan jalan / tanah. Perbedaan ketinggian air dalam selang adalah ketinggian tanjakan.

Contoh  :

Jadi perbedaan ketinggian adalah : 1,5 – 0,5 m

 

  1. 21.  Mengukur / menghitung sudut inklinasi

Dalam menghitung sudut inklinasi, kita membutuhkan data-data lain disamping ketinggian (sisi a), jarak sejajar antara kedua ketinggian air (side b), atau gradient/sisi miring yang diukur sepanjang sudut inklinasi (side c).

Contoh :

Perbedaan ketinggian adalah 1,25 m. jarak sisi inklinasi adalah 15 m. berapakah sudut inklinasinya  ?

a                  1,25

c

a

sin α  =                  =>

c                    15

α

sin α  =  0,0833

α  =  4,78º

maka sudut inklinasinya adalah 4,78º

Contoh  :

Berapakah sudut inklinasi bila perbedaan ketinggian 1,40 m dan jarak horizontal sejajar air adalah 7 m  ?

a                  1,40

tan α  =                  =>              =>  0,2

b                     7

c

α  =   11,3º

maka sudut inklinasinya adalah 11,3º

  1. 22.  Persentasi sisi miring / tanjakan

Dalam mengemudi, tes pengereman juga penting untuk mengetahui sudut inklinasi atau gradient. Kemiringan dalam tanjakan/turunan bias dinyatakan dlam presentase, drajat atau ratio.

Contoh  :

Gradient 10º mengimplikasikan 100 m horizontal, permukaan jalan naik 10 m.

10 m

Tanjakan seperti ini bias juga dinyatakan dalam ratio  100 : 10 (10 :1).

Kemudian kita dapat juga menyatakan dalam presentase sbb : 1/10 x 100 = 10 %

Dari presentase kita dapat menghitung sudut inklinasi yaitu :

10

cos α  =                  =>  0,1

10 m

100

α

α  =   5,71

Maka sudut inklinasinya adalah   5,71º

  1. 23.  Gaya gradient

Semakin tajam tanjakan, semakin besar gaya tanjakan dan turunan dan semakin kecil gaya pada permukaan jalan,. Didalam analisa laka lantas, kita bicara tentang sudut tanjakan dan turunan. Untuk menggambarkan gaya-gaya yang yeng bekerja pada sudut tanjakan dan turunan tersebut, kita menggunakan vaktor.

Gaya yang bekerja pada kendaraan ditanjakan, sesuai dengan hokum Newton dan sebagai berikut :

–          Berat adalah gaya dan ditentukan oleh massa dan gaya gravitasi.

–          Arah dari berat adalah vertical.

–          Titik berat adalah pusat gravitasi.

Dalam sebuah tanjakan, berat kendaraan dipisahkan dalam dua arah  :

–          Gayagradient : F gr  :  gaya sejajar dalam tanjakan.

–          Gaya normal  : F n   :  gaya tegak lurus pada permukaan

G

G


B A B   VII

A D H E S I

 

  1. 24.  Perpindahan Gaya

Pada suatu jalan yang licin dan berbahaya kita dapat membayangkan hal-hal berikut antara lain : perlambatan rem yang rendah, slip, shifting, load, koefisien adhesi yang rendah dan kecepatan menikung yang rendah. Grip suatu kendaraan tentu saja penting dalam menganalisa laka lantas untuk mengetahui lebih banyak tentang laka tersebut. Dalam pembahasan tenang perpindahan gaya antara material, grip, fraksi, kekasaran permukaan, friksi dan lain-lain, kita menggunakan kata Adhesi  :

Adhesi sering juga digunakan dalam literuar-literuar professional. Dalam adhesi kia fokuskan pada 2 buah gaya yaitu gaya normal (Fn) dan gaya adhesi (Fa).

  1. 25.  Gaya normal

Gaya normal adalah gaya yang selalu bekerja pada sudut tegak lurus terhadap permukaan jalan.

α

fn

Fn  = G cos α

G

α

Fn = g

Gaya normal teradi karena berat kendaraan itu sendiri dan juga karena pengaruh kondisi lainnya. Tukikan yang terjadi akibat pengereman mengandung arti bahwa gaya normal pada roda depan jauh lebih tinggi dari roda belakang.

  1. 26.  Gerakan adhesi.

Gaya adhesi adalah gaya yang bekerja seajar dengan permukaan untuk memindahkan obyek/benda tersebut. Memindahkan kendaraan pada saat terbalik juga membutuhkan gaya yaitu gaya tarik (Ft). gaya adhesi antara atap kendaraan dan permukaan jalan menyebabkan gaya tarik menjadi tertahan.

–          Gaya tarik pada saat turun akan lebih kecil, karena dibantu oleh gaya gradient.

F gr    =  G  sin   α

–          Gaya tarik pada saat naik akan lebih besar karena tertahan oleh gaya gradient.

Gaya tarik yang dibutuhkan selalu tergantung dari adhesi yang terjadi, semakin besar gaya adhesi semakin kasar permukaan jalan dan semakin besar gaya tarik. Semakin kecil adhesi semakin halus dan kecil gaya tariknya. Gaya tarik, sama dengan gaya adhesi ketika gaya tarik sejajar dengan permukaan jalan. Untuk mencegah kebingungan dalam membedakan antara gaya adhesi dengan gaya gradient maka disarankan untuk menggunakan symbol yang dapat dengan jelas dibedakan.

Maka kita menggunakan  :

Fa    =    gaya adhesi

Fgr   =    gaya gradient

Gaya adhesi tergantung dari :

–          Bahan material yang saling bergesekan.

–          Perpindahan gaya antara material.

–          Gaya normal (gaya yang terjadi akibat gaya tekanan antara permukaan suatubenda dengan benda lainnya).

  1. 27.  Koefisienan adhesi.

             F a

μa   =

F n

Daya cengkram, kekasaran dinyatakan dalam koefisien adhesi adalah angka yang menyatakan rasio dan tidak mempunyai satuan.

μ a  =      koefisien adhesi

μ n  =      koefisien normal

Contoh  :

Ftow

Sebuah kendaraan seberat 10.000 Newton terbalik dengan atapnya berada dipermukaan jalan, gaya tarik yang dibutuhkan untuk menarik kendaraan 5.500 Newton berapa besar koefisien adhesi  ?

5.500 N

Fn 10.000 N

Fa               Ftow           5.500

μ a  =            =>              =>                       =   0,55

Fn              Fn                 10.000

  1. 28.  Tanjakan Turunan

Contoh  :

Seandainya kendaraan tersebut pada contoh diatas terbalik dengan atap di abawah pada tanjakan dengan sudut 10º

10º

Gaya normal menjadi Fn  =  G cos α  => 10.000 . cos 10  =>  9848.0775 N.

Koefisien adhensi tetap sama. Maka gaya adhensi menjadi :

10º

Ftow +  Fgr

Fa

9848.0775 N

Fa               Ftow           5.500

μ a  =            =>              =>                       =   0,55

Fn              Fn                 10.000

Fa  =  μ a  Fn  =>  0,55 ۰ 9848,0775  =>  5416,4426 N

Perlu dingat sudut kemiringan tidak mempengaruhi koefisien adhesi, akan tetapi berpengaruh terhadap gaya tarik (Ft).

Fgr  = G sin α  =>  10.000 ۰  sin 10  =>  1736,4818

Pada saat menurun  :

Ft  =  Fa  –  Fgr

=  5416,4426  –  1736,4818

=  3679,9608 N.

Pada saat tanjakan  :

Ft  =  Fa  +  Fgr

=  5416,4426  +  1736,4818

=  7152,9244 N.

  1. 29.  Perlambatan

Kita juga dapat menghitung perlambatan pada saat tanjakan berdasarkan koefisien adhesi sebagai contoh kendaraan yang terbalik pada jalan horizontal. Hubungan antara gaya adhesi (dalam kasus ini gaya adhesi sama dengan gaya tarik) dan gaya normal sama dengan hubungan antara perlambatan dan gaya gravitasi bumi.

Fa

μ a  =            =>         Fa    =  m ۰ a

Fn

Fn     =  G  =  m ۰ g

m . a

μ a  =                      =>

m . g

a    =      μ a ۰g

a

μ a  =                      =>

g

sebagai contoh soal tersebut diatas, diketahui koefisiensi adhesi  = 0,55, gaya gravitasi = 9,8 m/s². Maka  :

a    =      μ a ۰g

=     0,55 ۰ 9,81

=     5,3955 m/s²

Jadi perlambatan kendaraan tersebut seandainya meluncur dengan posisi terbalik pada jalan lurus horizontal adalah  5,3955 m/s².

  1. 30.  Adhesi antara ban dan permukaan jalan

Kekhasan dalan adhesi  ban kendaraan dan permukaan jalan adalah tidak adanya koefisien adhesi yang konstan. Hokum tentang gaya gesekan oleh Coulumb (1736 – 1806) kemudian tidak dapat diaplikasikan. Koefisien adhesi maksimum didalm cakupan analisa laka lantas berfvariasi antara 0,6 dan 2. hal ini disebabkan karakteristik dari karet (visco-elastic) dengan bam dari permukaan jalan normal, koefisien adhesi rata-rata tidak lebih dari 1.

Besarnya adhesi secara akurat biasa didapat melalui test pengereman dan kita bias melihat perbedaan koefisien adhesi maksimum.

  1. 31.  Rumus Gaya Adhesi

Fa   =  μa ۰ Fn

Rumus tersebut mengimplikasikan bahwa gaya adhesi meningkat sebanding dengan gaya normal. Oleh sebab itu beberapa kendaraan traktor untuk pertanian ban-nya berisi air, untuk mendapat perpindahan gaya yang lebih baik. Pada kendaraan khusus balap, besarnya gaya tekanan meningkat dengan penggunaan spoiler. Koefisien adhesi maksimum pada saat pengereman tergantung dari tiga faktur utama  :

–          Kecepatan luncur.

–          Jenis ban

–          Permukaan jalan

  1. 32.  Kecepatan Luncur.

Kecepatan luncur adalah kecepatan pada saat roda terkunci dan meluncur pada permukaan jalan. Dan hasil luncuran ini menimbulkan panas pada permukaan jalan.temperatur meningkat ketika kecepatan luncur juga meningkat. Ketika ban terkunci, potongan / jejak dari karet ban selalu meluncur dan selalu bergesekan dengan permukaan jalandan kemudian akan menimbulkan panas, dan koefisien adhesi akan menurun secara bertahap.

Hal tersebut terjadi karena permukaan jalan/aspal dan karet ban akan meleh dan hal itulah yang menyebabkan timbulnya bekas rem pada aspal. Hal itu menyebabkan semakin lama meluncur maka perlambatannya semakin kecil, kecepatan maksimum menurun jauh contohnya 9 m/s² pada saat rem biasa (roling) dan menurun sampai 5 m/s² pada saat terkunci.

  1. 33.  Ban

Apabila membahas pengaruh dari ban, maka dapat kita bedakan dalam hal :

–          Bahan material.

–          Konstruksi ban.

–          Bentuk dari profil ban.

Secara umum ban gundul mempunyai daya cengkram yang baik, profil pada ban hanya berguna pada saat ban tersut melewati air (pada saat hujan / aqua planning). Jenis karet ban juga berperan penting dalam menentukan daya cengkram. Pada mobil balap digunakan ban khusus, yang setelah beberapa saat akan panas dan dapat mencapai perlambatan 20 m/s²

  1. 34.  Permukaan jalan.

Pengaruh dari permukaan ban terbagi dalam dua hal, yaitu bahan permukaan jalan/aspal dan kondisi permukaan jalan. Perbedaan permukaan jalan maka berbeda pula koefisien adhesi.

  1. 35.  Kondisi cuaca

Koefisien adhesi secara umum, pada kondisi permukaan jalan modern 0,6 sampai 1 pada saat kondisi kering, hal ini berbeda pada kondisi jalan basa. Pada saat baru saja hujan percampuran antara air dan kotoran, minyak akan membuat koefisien adhesi maksimal jalan tersebut menjadi kecil. Sehinga perlambatan menjadi semakin kecil. Aqua planning (genangan air) tentu saja berpengaruh pada koefisien adhesi.

  1. 36.  Siklus adhesi (perpindahan gaya)

Ban kendaraan harus mengakomodasi berbagai gaya yang teradi akibat percepatan (akselerasi), pengereman, perubahan arah, slidding dan sebagainya. Gaya-gaya tersebut dapat terjadi pada saat bersamaan. Dapat kita gambarkan dalam sebuah diagram, yaitu diagram siklus adhesi atau Lingkaran Kamn (circle of Krmn).

Area permukaan dari siklus menggambarkan titik sentuh antara ban dan permukaan jalan. Radius dari lingkungan adalah ukuran dari maksimum koefisien adhesi. Dengan siklus tersbut ditunjukan juga gaya mengemudi (driving force), gaya rem dan gaya cengkram ban.

Frem = gaya rem

Fr     =  resultan gaya

Fd    =  gaya mengemudi  (driving force)

=  gaya yang terdiri dari perpindahan gaya-gaya tertentu contohnya gaya sentrifugal ketika melewati tikungan

Fa = μa G

 

Terpisanya gaya rem dan sentrifugal tidak akan menjadi masalah bila resultan gaya-gaya yang terjadi tidak melebihi gaya adhesi maksimum. Bila resultan gaya-gaya yang terjadi melebihi gaya adhesi  maksimum. Maka kendaraan akan slip.

  1. 37.  Perpindahan gaya pada ban.

Perpindahan gaya pada ban terjadi akibat pengaruh angina, bentuk jalan, tabrakan, tikungan dan lain sebagainya. Ketahanan ban pada gaya-gaya tersebut dinamakan gaya cengkraman ban. Ketika sebuah ban harus bertahan terhadap perpindahan gaya-gaya, maka ban akan mengalami perubahan bentuk tersebut dikomprensasikan dengan koreksi stir. Ban bergulir dengan bentuk kemiringan tertentu sebagai hasil arah penyetiran kendaraan. Besarnya deviasi ini dinamakan sudut drifting. Ketika melewati tikungan, bagian luar ban akan membentuk bekas drifting.

nb

F

b

  1. 38.  Kecepatan pada saat tikungan.

Semakin cepat menyetir, semakin kurang ketajaman bila melewati tikungan. Seandainya radius kurva dan perlambatan diketahui kita dapat menghitung kecepatan pada saat menikung. Bekas jejak ban yang tertinggal ketika menikung dengan kecepatan tingi dinamakan jejak drifing, jejak drifing berbentuk kurva. Didalam analisa laka lantas tingkat I kita telah mengetahui agaimana cara mengukur kecepatan berdasarkan jejak drifing tersebu. Kita melewati sebuah tikungan, maka gaya sentrifugal akan teradi. Selama gaya adhesi pada ban dan permukaan jalan dapat dipertahankan maka kurva akan berbentuk.

  1. 39.  Menghitung gaya sentrifugal

gaya sentrifugal berdasarkan rumus tersebut  kita dapat menghitung gaya sentrifugal kendaraan dan penumpang.

  1. 40.  Gaya sentrifugal dan gaya adhesi

Kendaaan tidak akan tergelincir bila gaya adhesi yang berjalan dapat melawan/bertahan terhadap gaya sentrifugal pusat. Gaya adhesi dapat diketahui melalui tes rem.

Fa  =  m a roll/brake

  1. 41.  Menghitung kecepatan pada tikungan

Pada saat tikungan, gaya sentrifugal sama dengan gaya adhesi maksimum, sehingga

m v²

Fc      =

r

m v²

m a     =

r

m ar

v²        =

m

v         =   √  a r

 

v      =   √  a r

hal ini menghasilkan rumus  :

Contoh :

Sebuah jarak drifting dengan radius 50 m dan maksimum perlambatan 8,5 m/s². maka kecepatannya adalah :

v         =   √  a r      =>  8,5 ۰ 50   =>  20,615528 m/s²  =>  74 km/jam

hati-hati dengan menggunakan rumus tersebut karena apabila mengambil angka yang terlalu tinggi, maka kecepatan yang didapat akan terlalu tinggi.

  1. 42.  Perlambatan

Pada saat melakukan pengereman di tukungan terjadi 2 perlambatan, yaitu akibat tikungan dan pengereman. Perlambatan mana yang dipakai dalam menghitung kecepatan  ? Dengan menggunakan Siklus Kamn, gejala ini dapat diterangkan secara teori walaupun dalam praktek tidak terlalu mudah untuk di mengerti.

Kita dapat melakukan perhitungan kecepatan pada saat tes pengereman bila sudut drifting lebih dari 15º, dan dengan menggunakan rumus :

Bila sudut drifting lebih dari 15º maka  digunakan rumus :

v    ≈    √ cos αd μd gr

v    ≈    √ cos αd ar

αd  =     sudut drifting

μd  =     koefisien adhesi (transfer koefisien ban dan jalan)

g    =     gya grafitasi

r     =     radius

Bila sudut drifting tidak lebih dari 15º maka tetap digunakan rumus :   v   =   √  a r

  1. 43.  Radius kurva

Radius dari jejak ban pada kenyataan adalah bukan radius yang sebenarnya, hal ini disebabkan penggseran gaya sentrifugal pada titik gravitasi walaupun secara angka tidak banyak perbedaan. Walaupun demikian ada banyak kemungkinan untuk mengukur radius kurva.

  1. 44.  Aksi adalah reaksi

Pertama-tama kita harus mengetahui gaya-gaya yang bekerja pada kendaraan ketika melewati tikungan.

Ketika sebuah objek melewati tikungan, dua buah gaya bekerja pada saat yang bersamaan yaitu gaya sertifugal dan gaya adhesi yang melawan gaya serttifugal tersebut. Gaya yang satu disebabkan oleh gaya yang lain.

 

Aksi adalah Reaksi

Contoh :

Kita mampu menekan / mendorong dengan gaya sebesar 1.000 N. maka akan mendapat gaya sebesar 1.000 N. begitu juga ketika kita akan melewati tukungan, gaya adhesi total akan sama besar dan berlawanan dengan gaya sertifugal.

Gaya maksimum yang ditunjukkan oleh ban pada permukaan jalan adalah gaya adhesi. Hal ini ditujukan bila gaya adhesi maksimum melebihi maka akan slip atau tergelincir.

Batas maksimum diindikasikan dengan bantuan lingkaran, ketika kendaraan berjalan lurus dan rem kendaraan bekerja, maka gaya adhesi maksimum akan terjadi dan kendaraan akan terkunci.

Lingkaan ini maksimum Fa , ketika gaya yang bekerja melebihi

Lingkaran ini maka mobil / objek akan slip/tergelincir.

FR

FC

Fbr

Dengan kondisi antara rem dan mengurangi gaya sentrifugal maka adhesi yang memadai akan tercapai. Bila melewati tikungan dengan kecepatan tinggi dengan aman, itu berarti batas maksimum belum tercapai. Dengan rem atau akselerasi maka gaya-gaya yang lain akan terbentuk sehingga bila gaya-gaya tersebut mencapai batas maka ban akan slip. Slip ini biasanya bekerja secara negative, akan tetapi para pembalap menggunakan sisi positif ketika melewati tikungan.

B A B  VII

EVALUASI AKHIR MATA PELAJARAN

 

 

  1. Pada jalan Tol Jakarta Cikampek, anda mengendarai mobil penumpang dalam 30 detik.

Mencapai jarak 1500 m. Apakah anda melewati batas maximum kecepatan ?

  1. Pada sebuah jalan raya dalam 57 detik anda dengan sepeda motor dapat mencapai 100 m
    1. Buatlah diagram v – t.
    2. Beri simbol untuk hal yang anda anggap penting dalam hal ini.
    3. Berapa kecepatan motor anda
  1. Anda mengadakan percobaan untuk mengukur kecepatan speedometer anda di jalan Tol. Pada kilometer 73 – pal kilometer 73,5 terlihat kecepatan 140 km/jam,teman anda menyatakan waktu yang ditempuh 14 detik. Berapa bersar deviasi speedometer mobil patroli anda ?
  1. Pada sebuah jalan Tol setelah melewati pal kilometer 60 terlihat 3 buah mobil berjalan beriringan. Mobil A bergerak dengan kecepatan 50 km/jam, mobil B bergerak dengan kecepatan 70 km/jam dan mobil C bergerak dengan kecepatan 100 km/jam. Besarnya akselerasi 8 m/s² dan waktu reaksi pengemudi 1 detik.
    1. Buatlah gambardengan skala 1 : 100. Panjang lintasan masing-masing kendaran untuk jarak reaksi dan reaksi rem ?
    2. Apa hubungan antara kecepatan dengan jarak reaksi ila kecepatan mobil ditambah 2 kali dari kecepatan semula ?
    3. Pada jarak 34 m didepan mobil terlihat sebuah kendaraan berhenti. Berapa kecepatan maximal yang dapat dikendarai oleh mobil yang berada dibelakang agar dapat menghindari kecelakaan ?
    4. Apa yang terjadi pada mobil yang berada dielakang bila pengemudi menggunakan rem tangan untuk menghindari kecelakan ?
    5. Apa yang telah terjadi bila kendaraan dibelakang meninggalkan bekas rem garis lurus ?
    6. Mobil anda pada gigi 3 mecapai kecepatan antara 72km/jam sampai 108 km/jam dalam waktu 20 detik.

1)                      Berapa kecepatan rata-rata mobil anda selama 20 detik ?

2)                      Berapa akselerasi rata-rata mobil anda ?

3)                      Berapa jarak yang ditempuh ?

4)                      Berapa jarak pengereman selama 7 detik hingga kendaraan tersebut berhenti.

  1. Seorang pembalap mengemudikan sebuah kendaraan di sirkuit. Rata-rata akselerasi 12 m/s². Berapakah kecepatan akhir setelah 100 m  ?
  1. Berapa kecepatan maksimum yang dapat dicapai jika jarak berhenti adalah 50 m, waktu reaksi 0,8 detik dan perlambatan  8 m/s²  ?
  1. Sebuah mobil dengan kecepatan 270 km/jam melaju di jalan Tol. Tiba-tiba ia mengerem karena ada truk di depannya akan menyelip. Mobil mengerem dengan perlambatan 8 m/detik². Berapa meter di butuhkan untuk mengurangi kecepatan sampai 86 km/jam  ?
  1. Disebuah kecelakaan mpbil menabrak truk dengan kecepatan 40 km/jam. Bekas rem yang dihasilkan oleh truk dari ban yang mengunci jaraknya 30 m, Minimum pelambatan truk 4 m/detik². Berapa kecepatan truk sesungguhnya  ?
  1. Sebuah mobil dikendarai dengan kecepatan 80 km/jam, dengan massa 2.000 Kg. Berapakah energi kinetiknya  ?

 

B A B  IX

P E N U T U P

 

 

Demikianlah Bahan Ajaran Analisa Kecelakaan Lalu Lintas ini dibuat dan disusun untuk Pendidikan Kejuruan Lanjutan Kecelakaan Lalu Lintas dan di pakai sebagai bahan ajaran dalam proses belajar mengajar di Lembaga Pendidikan Polri pada umumnya dan di Pusdik Lantas pada khususnya.

Diharapkan setelah mengikuti pelajaran ini dengan baik peserta didik dapat mencapai TIU dan TIK serta dapat menerapkan di lapangan secara profesional.

About ferli1982

Menjalani hidup dengan riang gembira ... enjoy ur life!!!

Posted on Oktober 21, 2013, in Perkembangan Kepolisian. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada KINEMATIKA dalam Aspek Kecelakaan Lalu Lintas.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: