REKRUTMEN TARUNA AKADEMI KEPOLISIAN DARI SUMBER SARJANA S-1

akpol

I. LATAR BELAKANG
Dalam paradigma polisi di era reformasi, tuntutan terhadap pelaksanaan tugas Polri secara profesional dan proporsional dirasakan sebagai salah satu kriteria ukuran keberhasilan Polri. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Polri, terlebih dengan munculnya permasalahan sosial yang demikian kompleks sebagai konsekwensi perubahan sosial masyarakat. Dengan kata lain, di satu sisi Polri dituntut untuk mereformasi dirinya sendiri dan di sisi yang lain Polri dihadapkan pada permasalahan sosial yang menjadi tanggung jawabnya untuk di selesaikan.
Menghadapi tantangan reformasi tersebut, tanggung jawab terbesar terletak pada para pemimpin Polri, dalam hal ini para perwira Polri, termasuk para alumni Akademi Kepolisian (Akpol), untuk mampu membawa gerbong organisasi Polri ke arah perubahan yang positif dan semakin dekat dengan cita – cita dan harapan masyarakat sebagai stake holderPolri.
Alumni Akademi Kepolisian (Akpol) mendapat sorotan tersendiri dalam upaya reformasi Polri. Hal ini tidak terlepas dari adanya trade mark Akademi Kepolisian sebagai lembaga penghasil atau pencetak calon – calon pemimpin Polri yang berkualitas. Alumni Akademi Kepolisian, khususnya para perwira muda senantiasa dilabel sebagai kader – kader pemimpin Polri masa depan. Mereka seolah mendapat tempat tersendiri dalam organisasi Polri, karena dianggap sebagai tumpuan untuk masa depan Polri.
Dalam perkembangannya, harapan tersebut tidak sepenuhnya terpenuhi. Kualitas kinaerja alumni Akpol dirasakan belum dapat menjawab kebutuhan akan tersedianya kader – kader pemimpin Polri masa depan. Kemudian muncul berbagai wacana untuk meningkatkan kualitas alumni Akpol. Salah satunya adalah wacana in put melalui rekrutmen taruna Akpol dari sumber sarjana S-1, dengan harapan akan memberikan out put perwira muda Polri yang lebih berkualitas dan mampu menjadi kader – kader pemimpin Polri masa depan.
II. PERMASALAHAN
Munculnya wacana rekrutmen taruna Akademi Kepolisian dari sumber sarjana S-1, sebagai salah satu upaya Polri untuk menjawab tantangan reformasi sebagaimana latar belakang di atas, membawa kita kepada suatu permasalahan untuk mengkaji lebih jauh berbagai aspek yang berkenaan dengan wacana tersebut.
Dalam tulisan ini, kami mencoba membahasnya dari beberapa aspek, yang dirangkum dalam rumusan permasalahan sebagai berikut :
1. Apakah rekrutmen taruna Akademi Kepolisian dari sumber sarjana S-1 dapat menjamin tersedianya perwira muda Polri yang lebih berkualitas sebagai kader – kader pemimpin Polri di masa depan ?
2. Hal – hal apa saja yang menjadi keuntungan dan kelemahan dari wacana rekrutmen taruna Akademi Kepolisian dari sumber sarjana S-1 tersebut ?

III. PEMBAHASAN
Dalam sebuah organisasi, sumber daya manusia merupakan salah satu aspek yang sangat menentukan keberhasilan organisasi tersebut dalam mencapai tujuannya. Karena keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuannya tidak dapat dilepaskan dari peran sumber daya manusia yang mengawakinya.
Dalam manajemen sumber daya manusia, proses rekrutmen juga merupakan proses yang sangat menentukan kinerja sebuah organisasi. Karena proses rekrutmen ini merupakan titik awal yang akan menentukan kekuatan sumber daya manusia yang akan mengawaki organisasi tersebut.
Menurut Prof. Dr. Sondang P Siagian, proses rekrutmen harus didasarkan pada perencanaan sumber daya manusia yang dibutuhkan oleh suatu organisasi. Karena dalam perencanaan sumber daya manusia tersebut telah ditetapkan berbagai persayaratan yang harus dipenuhi oleh orang – orang yang ingin bekerja dalam organisasi tersebut. Selain itu proses rekrutmen juga harus memperhatikan komentar dari para manajer yang kelak akan membawahi tenaga kerja baru tersebut.
Dalam organisasi Polri, khususnya dalam proses rekrutmen taruna Akademi Kepolisian, hendaknya juga didasarkan pada perencanaan sumber daya manusia Polri, khususnya yang berkaitan dengan analisis pekerjaan para perwira muda Polri lulusan Akademi Kepolisian. Dengan berdasarkan perencanan dan analisis tersebut, dapatlah dirumuskan kriteria atau persyaratan taruna Akademi Kepolisian yang diharapkan oleh Polri.
Akademi Kepolisian merupakan lembaga pendidikan Polri yang secara khusus memberikan bekal pengetahuan dan ketrampilan dasar kepolisian dengan out put perwira Polri setingkat first line supervisor. Selain itu juga menanamkan mental dan doktrin khas kepolisian sebagai sebagai bekal filosofis dan ideologis bagi lulusannya. Sehingga Perwira Polri yang dihasilkan oleh Akademi Kepolisian diharapkan mampu mengemban tugas sebagai first line supervisor yang bermental, berwatak dan berperilaku perwira (dewasa, arif, bijaksana).
Wacana rekrutmen taruna Akademi Kepolisian dari sumber sarjana S-1 didasarkan pada pemikiran dan anggapan umum bahwa seorang sarjana S-1 telah memiliki mental, watak dan perilaku yang dewasa, arif dan bijaksana (perilaku sarjana, maturity). Hal ini disampaikan oleh Gubernur PTIK, Prof. Dr. Farouk Muhammad, dalam seminar di Jakarta tanggal 15 November 2005. Dengan kata lain, watak seorang sarjana yang telah cukup matang, ditandai dengan pola pikir yang kritis, ilmiah dan penuh analitis, akan menjadi modal yang sangat berharga bagi pembentukan karakter perwira Polri lulusan Akademi Kepolisian.
Sungguh pun demikian, hendaknya dapat juga disadari bahwa pembentukan karakteristik seseorang merupakan suatu proses yang tidak dapat diformulasikan dengan asumsi yang demikian sederhana. Pembentukan karakteristik dan kepribadian seseorang ditentukan oleh sikap mental dasar dan kepribadian yang dimiliki setiap orang, yang tentu saja berbeda satu dengan yang lain, ditambah dengan pengaruh faktor – faktor eksternal seperti lingkungan, ajaran ideologi, agama, keluarga, norma – norma budaya, adat istiadat, dan lain –lain. Selain itu tingkat kedewasaan dan kematangan pola pikir merupakan suatu variabel yang sulit diukur dan relatif bernilai subyektif.
Dengan demikian, menurut kami, gelar kesarjanaan seseorang bukan merupakan jaminan akan kualitas kepribadian dan sikap mental yang bersangkutan. Sikap mental dan kepribadian seorang sarjana akan ditentukan oleh proses yang dilaluinya untuk meraih gelar sarjana tersebut. Bila gelar sarjana tersebut dicapai dengan sungguh – sungguh melalui proses pendidikan ilmiah maupun pendidikan pembentukan mental yang komprehensif dan simultan, maka kemungkinan terbentuknya sikap mental dan kedewasaan yang matang akan semakin besar, walaupun masih belum dapat dipastikan.
Korelasinya dengan wacana rekrutmen taruna Akademi Kepolisian dari sumber sarjana S-1 adalah, bahwa wacana tersebut belum dapat menjamin tersedianya perwira alumni Akpol sebagai kader pemimpin Polri dengan kepribadian, sikap mental, dan kedewasaan yang matang yang mampu menjawab tantangan reformasi. Terlebih bila dikaitkan dengan metode rekrutmen yang dapat menjamin tersaringnya sarjana yang benar – benar berkualitas dengan ukuran yang relatif subyektif.
Namun demikian, wacana rekrutmen taruna Akademi Kepolisian dari sumber sarjana S-1 mengandung hal – hal positif atau hal – hal yang menguntungkan bagi perkembangan organisasi kepolisian. Beberapa diantaranya adalah, pertama, tentu saja seperti diuraikan sebelumnya, jika proses rekrutmen tersebut mampu menjaring sarjana yang benar – benar berkualitas, maka Polri akan memperoleh sumber daya manusia yang berkualitas pula, dengan pola pikir dan kedewasaan yang matang dalam menghadapi setiap persoalan sosial yang menjadi tugasnya.
Kedua, Akademi kepolisian akan lebih efektif dan efisien dalam mendidik dan menyiapkan perwira Polri, karena pengetahuan akademis akan lebih mudah diserap dengan adanya kematangan pola pikir dan pembinaan mental akan lebih diarahkan pada penanaman falsafah kepolisian karena mental kepribadian secara umum telah cukup matang.
Ketiga, Polri akan memperoleh sumber daya manusia dengan berbagai macam latar belakang disiplin keilmuan yang dimiliki oleh para taruna Akpol sumber sarjana, yang dapat dimanfaatkan bagi pengembangan kemampuan polri disamping kemampuan melaksanakan tugas kepolisian secara umum.
Sebaliknya, wacana rekrutmen taruna Akademi Kepolisian dari sumber sarjana S-1 juga mengandung beberapa kelemahan yang perlu dikaji lebih mendalam, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut : Pertama, proses rekrutmen tersebut belum dapat menjamin bahwa Polri akan mendapatkan sarjana yang sesuai dengan kualifikasi yang diutuhkan Polri, seperti yang telah diuraikan sebelumnya.
Kedua, dari faktor usia sarjana yang sudah cukup umur dan memiliki pola pikir serta sikap mental yang telah terbentuk, akan menjadi kendala untuk menanamkan nilai – nilai khas kepolisian agar tertanam sebagai dasar dan falsafah dalam menjalankan tugas – tugas kepolisian.
Ketiga, Akademi Kepolisian dengan pola pendidikan dan pembentukan perwira Polri yang akan diarahkan untuk melaksanakan tugas – tugas kepolisian secara umum, maka latar belakang keilmuan yang beraneka ragam dengan tingkat sarjana S-1, yang dimiliki para taruna Akademi Kepolisian sumber sarjana akan dirasakan kurang bermanfaat bagi organisasi Polri maupun oleh perwira Polri yang bersangkutan.
Keempat, berkaitan dengan sistem pendidikan Polri yang ada saat ini, akan terjadi benturan atau kerancuan dengan lembaga pendidikan sarjana S-1 Polri (dalam hal ini PTIK) yang menghasilkan Sarjana Ilmu Kepolisian. Kerancuan tersebut berkaitan dengan kesinambungan pendidikan antara Akpol dan PTIK (Diploma-3 dan Strata-1, serta S-2 dan S-3). Pun demikian bila dilakukan perubahan struktur organisasi dan fungsi lembaga pendidikan Polri maka akan menimbulkan konsekwensi baru bagi proses pengembangan ilmu dan teknologi kepolisian.
Kelima, terkait dengan kondisi organisasi Polri saat ini dengan segala keterbatasan sarana dan prasarana, wacana rekrutmen taruna Akademi Kepolisian dari sumber sarjana S-1 akan menimbulkan permasalahan menyangkut pemenuhan kesejahteraan personil Polri, khususnya bagi perwira alumi Akpol sumber sarjana. Misalnya, tanpa adanya jaminan kesejahteraan dan pembinaan karier yang memadai, akan menurunkan motivasi perwira muda alumni Akpol untuk mengabdi di Polri, terlebih bila dibandingkan dengan lapangan pekerjaan lain yang lebih menjanjikan bagi kesejahteraan mereka.
Adanya kelebihan dan kelemahan dalam suatu wacana adalah hal yang lumrah. Menyikapi hal tersebut dapatlah menjadi bahan kajian yang lebih mendalam, misalnya dengan melakukan kajian terhadap Akademi Kepolisian agar lebih mampu mendidik dan menyiapkan perwira muda Polri yang berkualitas, tidak hanya berbekal ilmu pengetahuan dan teknologi kepolisian, namun juga bermental dan berwatak matang selayaknya seorang perwira, seorang sarjana sebagaimana mampu dihasilkan oleh lembaga pendidikan umum lainnya. Atau dengan mengkaji wacana rekrutmen taruna Akademi Kepolisian dari sumber sarjana S-1 ini secara lebih mendalam, sehingga dapat berjalan sinergis dengan sistem pendidikan Polri yang semakin berkembang, dengan memanfaatkan segala keunggulan dan meminimalkan kelemahan – kelemahan yang ada, disesuaikan dengan kondisi organisasi Polri saat ini. Misalnya dengan mengklasifikasikan latar belakang pendidikan sarjana dalam proses rekrutmen sesuai kebutuhan pengembangan Polri, sehingga disiplin ilmu yang dimiliki dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.

IV. PENUTUP
Munculnya suatu wacana memberikan konsekwensi bagi munculnya berbagai sikap dan kajian dalam menanggapinya. Hal ini tentu saja merupakan hal yang wajar. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita memandang wacana tersebut sebagai suatu upaya untuk mengembangkan organisasi Polri menuju arah yang lebih baik. Dalam hal ini, bagaimana kita memandangnya sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Polri, khususnya perwira alumni Akademi Kepolisian, agar lebih berkualitas dalam menghadapi tantangan reformasi.
Berkaitan dengan hal tersebut, wacana rekrutmen taruna Akademi Kepolisian dari sumber sarjana S-1 ini masih memerlukan kajian yang lebih mendalam.

DAFTAR PUSTAKA

1. Prof. Dr. Sondang P Siagian MPA, Manajemen Sumber Daya Manusia,
PT. Bumi Aksara, 2004.

2. Prof. Dr. Awaloedin Djamin, MPA, Manajemen Sumber Daya Manusia,
Sanyata Sumanasa Wira Sespim Polri, 1995

3. Stephen P Robbins, Perilaku Organisasi jilid 1, PT Indeks, 2003.

4. Prof. Dr. Farouk Muhammad, Prof. Dr Djaali, dan Irjen Pol Drs. MD Primanto, dalam Seminar Rekrutmen Taruna Akpol Sumber Sarjana, Jakarta 15 Nopember 2005.

5. Diktat dan Materi Kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia, PTIK Angkatan 44, Jakarta, 2005.

About ferli1982

Menjalani hidup dengan riang gembira ... enjoy ur life!!!

Posted on Agustus 28, 2013, in Administrasi Kepolisian. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada REKRUTMEN TARUNA AKADEMI KEPOLISIAN DARI SUMBER SARJANA S-1.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: