ANALISIS CONCENTRIC ZONE THEORY DI KOTA SURABAYA

(Oleh : Golkar Pangarso)

 

Pendahuluan.

Surabaya adalah ibukota Propinsi Jawa Timur yang merupakan kota terbesar kedua dan kota pelabuhan terbesar kedua di Indonesia. Dengan sejarah 700 tahunnya, Surabaya merupakan salah satu kota tertua di Indonesia.

Sebagai kota metropolitan kedua terbesar di Indonesia setelah Jakarta, Surabaya memiliki komposisi masyarakat yang sangat heterogen yang terdiri dari berbagai etnis. Selain itu sebagai kota budaya, pariwisata, maritim, industri dan perdagangan, Surabaya mengalami perkembangan yang sangat pesat, baik ditinjau dari sisi perekonomian, perdagangan, perindustrian dan lain-lain.

Dilihat dari keadaan umumnya, Surabaya memiliki luas sekitar 327,41 km² yang terdiri dari 28 kecamatan dan 163 kelurahan. Jumlah penduduk Surabaya berdasarkan sensus penduduk tahun 1995 adalah 2.679.656 jiwa.

Sejalan dengan perkembangan jaman menuju ke arah kemajuan dengan adanya era informasi dan globalisasi, kompleksitas permasalahan yang terjadi di Surabaya juga semakin berkembang, termasuk didalamnya juga meningkatnya permasalahan-permasalahan kejahatan dan kenakalan remaja.

Berikut ini akan diuraikan penerapan Concentric Zone Theory yang dikemukakan oleh Robert E. Park dan Ernest Burgess, terhadap kondisi di kota Surabaya.

Analisis Concentric Zone Theory (Robert E. Park dan Ernest Burgess) di kota Surabaya.

Menurut Robert E. Park dan Ernest Burgess dalam penelitiannya di Chicago membagi suatu wilayah ke dalam 5 (lima) zona yaitu : Zona I (Loop), Zona II (Transitional zone), Zona III (Workingmen’s homes), Zona IV (Residential zone) dan Zona V (commuters).  Adapun aplikasi dari teori tersebut di kota Surabaya, dengan asumsi jarak lingkaran masing-masing zona + 3 km, adalah sebagai berikut :

 

 

1.          Zona I (Loop).

Zona ini yang menurut Park dan Ernest adalah merupakan concentric business district terletak di jantung kota Surabaya, dimana pada lokasi tersebut terdapat pusat perekonomian dan perdagangan Surabaya yaitu Plaza Tunjungan, World Trade Center Surabaya, Surabaya Plaza, Bursa Efek Surabaya, Pasar Turi dan Siola. Pusat hiburan malam seperti Diskotek, Pub, Night Club, Panti Pijat, Karaoke,  juga terdapat pada zona ini sepanjang Jl. Embong Malang dan Kedungdoro. Selain itu perkantoran dan perbankan di sepanjang Jl. Basuki Rahmat dan Jl. Pemuda, Hotel-hotel berbintang seperti Hyatt, JW Marriot dan Simpang, pemukiman penduduk, kos-kosan mahasiswa/pelajar dan pekerja serta perumahan pejabat terdapat pula pada zona ini yaitu terletak di sekitar Plaza Tunjungan. Lain daripada itu pemukiman kumuh juga ada pada zona ini yaitu di sepanjang bantaran Sungai Genteng Kali.

Zona pertama ini dibatasi oleh sistem transportasi Kereta Api yang melalui Stasiun Wonokromo, Gubeng, Pasar Turi dan Stasiun Kota Semut.

Adapun kerawanan yang terkait dengan tindak pidana dan kenakalan remaja (Juvenile Deliquency) yang sangat sering terjadi pada wilayah ini adalah : Penyalahgunaan Narkoba dan Minuman Keras (Mabok-mabokan), Prostitusi jalanan di sepanjang Jl. Panglima Sudirman, Pelacuran anak sekolah (drive thru’) disepanjang Jl. Pemuda, Pemerasan/pemalakan, Perkelahian pelajar, Pencurian barang-barang di Mal yang dilakukan oleh remaja dan pergaulan bebas yang terjadi di kos-kosan serta tempat hiburan malam (diskotek/karaoke/pub) dan hotel-hotel di sepanjang jalan .

2.          Zona II (Zone In Transition).

Park dan Ernest dalam penelitiannya mengemukakan bahwa zona ini adalah merupakan zona transisi yang dihuni oleh orang-orang miskin, tidak berpendidikan dan tidak beruntung, yang hidup di rumah-rumah petak reot dekat pabrik tua. Park dan Ernest menyatakan bahwa zona ini adalah merupakan area yang paling tidak diinginkan yang terbuka untuk masuknya gelombang imigran.

Pada Zona kedua ini di Surabaya terdapat pemukiman untuk golongan menengah ke atas di daerah  Darmo Satelit, Dharmahusada, Gubeng Kertajaya dan sepanjang Jl. Raya Darmo. Rumah-rumah petak terdapat di daerah utara Surabaya (kota lama) dekat dengan pabrik-pabrik tua yang dibangun masa penjajahan Belanda, di sepanjang Kembang Jepun, Sidotopo, Wonokromo dan Bratang. Daerah kumuh terdapat di sepanjang bantaran Sungai Wonokromo dan Sungai Darmo Kali. Selain itu pada zona ini terdapat terminal Wonokromo dan Bratang. Pada zona ini terdapat juga hotel-hotel kecil dan lokalisasi Dolly.

Kerawanan yang terkait dengan kenakalan remaja pada wilayah ini adalah : penyalah-gunaan narkoba dan minuman keras, pergaulan bebas, prostitusi di sepanjang bantaran kali dan di sekitar terminal, serta perjudian (adu merpati dan sabung ayam) di sepanjang rel yang membatasi zona I dan II.

3.          Zona III (Zone of Workingmen’s Homes).

Menurut Park dan Ernest, zone ketiga ini dihuni oleh kelas pekerja,yaitu orang-orang yang karena pekerjaannya memungkinkan mereka menikmati kemudahan yang ditawarkan kota mereka di pinggirannya.

Pada zona ini di Surabaya terdapat pusat industri yaitu di Rungkut (SIER) dan Margomulyo Tandes. Disekitar pusat industri tersebut terdapat pemukiman untuk kalangan menengah ke bawah, termasuk terdapat rumah susun. Untuk daerah Surabaya bagian Utara, terdapat pelabuhan Tanjung Perak dengan Pusat Pergudangan. Kawasan kumuh terdapat pada daerah sekitar pelabuhan dan Pethekan.

Kerawanan yang terjadi terkait dengan tindak pidana dan kenakalan remaja pada zona ini adalah : mabok-mabokan, kebut-kebutan, prostitusi dan penyalahgunaan narkoba di sekitar Pantai Kenjeran.

4.          Zona IV (Residential Zone).

Pada zona ini yaitu daerah pemukiman untuk tinggal bagi kalangan menengah ke atas di Kota Surabaya terdapat pada daerah Kota Mandiri Citraland dan Menanggal. Selain itu terdapat daerah industri di sepanjang Jl. Mastrip Karangpilang  sampai dengan perbatasan dengan wilayah Gresik. Pada zona ini juga terdapat pemukiman-pemukiman bagi golongan menengah ke bawah serta kos-kosan bagi para pekerja pabrik. Selain itu juga terdapat kawasan kumuh di sepanjang bantaran kali Brantas.

Kerawanan yang terjadi terkait dengan tindak pidana dan kenakalan remaja pada zona ini adalah : penyalahgunaan narkoba dan prostitusi terselubung pada rumah-rumah dan kos-kosan.

5.          Zona V (Commuters).

Zona ini di Surabaya adalah merupakan daerah pinggir kota yang terdapat pemukiman untuk golongan menengah ke bawah. Kerawanan yang terjadi pada zona ini terkait dengan tindak pidana dan kenakalan remaja adalah : penyalahgunaan narkoba dan merupakan daerah safe house bagi para pelaku kejahatan lainnya.

Untuk lebih jelasnya penerapan teori Concentric Zone (Park dan Ernest) di kota Surabaya dapat dilihat dari gambar di bawah ini :

New Picture

Penutup.

            Dari uraian tentang analisis kota Surabaya ditinjau dari Concentric Zone Theory yang dikemukakan oleh Robert E. Park dan Ernest Burgess, ada beberapa kesimpulan yang dapat diambil sebagai berikut :

  1. Teori Concentric Zone tidak sepenuhnya dapat diterapkan di kota Surabaya. Menurut Penulis, terdapat beberapa penyimpangan dari teori tersebut apabila diterapkan di Surabaya. Untuk zona I dapat sepenuhnya sesuai dengan teori tersebut. Untuk zona II sebagian terpenuhi yaitu adanya  pemukiman kumuh, orang tidak berpendidikan dan kurang beruntung serta gelombang migrasi yang berpusat di lokalisasi Dolly, namun dalam zona II ini ada permukiman/perumahan mewah. Untuk zona III menurut pendapat penulis dapat terpenuhi. Sedangkan zona IV sebagian dapat terpenuhi yaitu terdapatnya permukiman untuk golongan menengah ke atas, namun pada lingkaran zona ini terdapat permukiman kumuh dan daerah pelabuhan. Sedangkan zona V menurut pendapat penulis tidak terpenuhi, karena kota satelit justru berada di Zona II dan IV.
  2. Kerawanan yang hampir terjadi pada seluruh zona adalah penyalahgunaan Narkoba dan minuman keras serta prostitusi. Sedangkan kejadian tindak pidana yang terjadi terutama kasus-kasus kejahatan jalanan (street crime), banyak dilakukan oleh etnis tertentu yang memiliki pendidikan rendah. Lain daripada itu dapat dikemukakan bahwa daerah kumuh (slum) tersebar merata dan ada pada hampir tiap zona.

 

— selesai —

 

 

 

 

About ferli1982

Menjalani hidup dengan riang gembira ... enjoy ur life!!!

Posted on Agustus 2, 2013, in Administrasi Kepolisian, Perkembangan Kepolisian. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada ANALISIS CONCENTRIC ZONE THEORY DI KOTA SURABAYA.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: