SUDAH SIAPKAH ANDA MENJADI POLISI ?

Kemajuan dunia global tanpa disadari memberikan dampak konkret pada perubahan budaya manusia. Perubahan tersebut dapat bermakna sebagai pergeseran apabila kita tidak dapat mengantisipasi sisi negatif dari kemajuan tersebut. Akan tetapi, perubahan adalah sebuah kenyataan yang tidak akan pernah dapat ditentang oleh manusia. Mau atau tidak mau, manusia akan mengalami apa yang dinamakan perubahan dan itu pasti terjadi.

Pada sisi lainnya, perubahan tentu saja berjalan pada dua arah yang bertentangan, ada yang bersifat positif dan ada yang bersifat negatif. Sudut pandang dan latar belakang pengetahuan akan berdampak kepada kemampuan manusia dalam menghadapi perubahan tersebut. Ketika perubahan dapat dimaknai sebagai sebuah kemajuan maka banyak hal positif yang dapat dipetik, namun ketika perubahan dipersepsikan secara salah maka banyak pula hal negatif yang dapat terjadi. Kedua makna perubahan tersebut pastilah tidak berlaku secara kuantitatif, ada banyak sekali parameter yang bisa menjadi pengiring dari perubahan tadi.

Begitupula adanya dengan kejahatan. Kejahatan sebagai dampak negatif dari perubahan memberikan pengaruh yang besar pada pergeseran budaya sosial masyarakat luas. Dahulu kita mengenal adanya telepon rumah, tapi bayangkan saat ini dimana telepon rumah mulai ditinggalkan dan berganti menjadi benda kecil yang kita namakan handphone. Secara positif, perubahan itu dapat kita persepsikan sebagai kemajuan teknologi yang memberikan bantuan kemudahan kepada manusia. Telepon rumah sebagai alat bantu komunikasi tidak dapat bergerak secara mobile, namun tidak demikian dengan handphone. Handphone memberikan kemudahan yang lebih kepada manusia dalam berkomunikasi, dimanapun dan kapanpun kita dapat menghubungi kerabat, saudara, atau siapapun juga secara real time, baik melalui tulisan dan suara. Kenyataannya, alat tersebut diterima dengan luas oleh masyarakat dari berbagai kalangan sebagai sebuah kemajuan teknologi yang luar biasa hebatnya.

Lalu dimana letak kesalahan kita dalam mempersepsikan alat bantu komunikasi tersebut? Dalam ukuran tingkat kebutuhan, telepon rumah tidak dapat kita sandingkan dengan kebutuhan manusia akan sandang, pangan, dan papan. Manusia butuh makan, butuh berpakaian, butuh tempat tinggal dalam rangkaian siklus mempertahankan dirinya. Namun dewasa ini, handphone telah mampu merebut persepsi manusia sebagai salah satu kebutuhan yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan masyarakat. Walaupun masih banyak pula masyarakat kita yang belum menggunakannya, tapi setidaknya sebagian besar kelompok masyarakat telah mempersepsikan hal tersebut sebagai sebuah kebutuhan pokok manusia.

Dibalik itu semua, perubahan kemajuan teknologi dalam menggunakan hanpdhone tersebut memberikan dampak yang luar biasa pula kepada apa yang dinamakan kejahatan. Sebut saja kejahatan pencurian, penipuan, penggelapan, pembunuhan, pemerkosaan, narkotika, pencemaran nama baik, sampai dengan korupsi menggunakan hanpdhone sebagai media melakukan kejahatan baik secara langsung maupun tidak langsung. Hanpdhone memberikan dampak yang luar biasa terhadap kemudahan manusia dalam berkomunikasi dan tentu saja kemudahan kepada manusia untuk melakukan kejahatan. Lalu apa kaitannya perubahan tersebut dengan siap atau tidaknya seseorang menjadi Polisi?

PART ONE

Polisi sejatinya merupakan penyelenggara negara dalam bentuk pranata umum sipil (civil police) yang bertugas mengatur tata tertib dan menegakan hukum. Secara harafiah, polisi berasal dari kata politie (Belanda); politea (Yunani); politia (Latin), yang bermakna pemerintah kota. Secara universal, polisi memiliki tugas sebagai: 1) Public servant; 2)Maintain security and Public order; 3)Law enforcement agency; dan 4)Peace keeping. Tugas tersebut diakui secara internasional sebagai tugas umum dari seorang polisi, begitu pula dengan negara kita sebagaimana diatur dalam pasal 13 UU No.2 Tahun 2002.

Pada undang-undang tentang Polri tersebut, dikatakan bahwa kepolisian adalah segala hal-ihwal yang berkaitan dengan fungsi dan lembaga polisi sesuai dengan peraturan perundang-undangan (Pasal 1 ayat (1) UU 2/2002). Kepolisian tidak semata bertugas untuk menegakan hukum, namun juga menyangkut ketertiban masyarakat dan perlindungan warga. Secara makro, obyek tugas kepolisian adalah perkembangan kehidupan sosial dari manusia baik sebagai individu maupun sebagai kelompok. Hal ini bisa dipahami mengingat ilmu kepolisian merupakan ilmu yang bersifat interdisipliner. Parsudi Suparlan (2001) menyatakan bahwa sifat interdisipliner pada ilmu kepolisian bermakna sebagai sebuah bidang ilmu pengetahuan yang mempelajari          masalah-masalah sosial dan isyu-isyu penting serta pengelolaan keteraturan sosial dan moral dan   masyarakat, mempelajari upaya-upaya penegakan hukum dan keadilan dan mempelajari teknik-teknik  penyidikan dan penyelidikan berbagai tindak kejahatan serta cara-cara pencegahannya.

Pada umumnya, tugas-tugas kepolisian khususnya dalam hal pelayanan masyarakat akan secara terus menerus mengalamai perkembangan. Rumusan tugas kepolisian yang sangat luas ditambah tuntutan masyarakat sebagai konsekuensi logis perkembangan sosial budaya masyarakat, menginginkan agar polisi selalu ada kapanpun dan dimanapun masyarakat membutuhkan. Masyarakat akan meyakini (persepsi) bahwa tugas polisi adalah untuk melayani dan melindungi warganya. Kepercayaan akan kemampuan polisi dalam melaksanakan tugas tersebut membuat tuntutan masyarakat semakin meningkat ditambah lagi dengan perkembangan dunia teknologi, sosial, ekonomi, budaya, dan lainnya.

Maka ketika seorang polisi tidak dapat memenuhi ekspektasi masyarakat tersebut maka yang muncul adalah rasa tidak suka, rasa tidak yakin, dan berakhir dengan rasa tidak percaya dari masyarakat kepada polisi. Ketika polisi tidak mampu melayani masyarakat dengan baik, kepercayaan akan sedikit demi sedikit berkurang. Lalu bagaimana apabila seorang polisi justru melakukan kejahatan atau perbuatan tercela? Maka kepercayaan itu akan semakin hilang.

Pada titik inilah penulis berusaha mengajak para pembaca untuk memahami betapa persepsi masyarakat dapat berubah baik secara positif maupun negatif. Keinginan masyarakat untuk meyakini bahwa handphone bukan lagi sebuah kebutuhan tersier membawa keyakinan dan kepercayaan individu bahwa handphone adalah sebuah kebutuhan pokok ditengah perkembangan jaman saat ini. Begitupula dengan kepolisian, perkembangan sosial budaya membawa polisi untuk serta merta melayani tuntutan masyarakat secara luas dimanapun dan kapanpun. Saat kita salah menerima kemajuan teknologi dalam menggunakan handphone maka dampak negatif akan berkembang pesat hingga menjadi sebuah alat kejahatan. Manakala polisi tidak siap untuk menghadapi perkembangan sosial masyarakat maka dampak negatif pada profesi kepolisian akan terus bertambah.

Lalu adakah cara bagi kepolisian untuk terus meraih kepecayaan masyarakat ?

pasti

About ferli1982

Menjalani hidup dengan riang gembira ... enjoy ur life!!!

Posted on Juli 3, 2013, in Administrasi Kepolisian, Makalah Lepas, Menulis itu Indah. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada SUDAH SIAPKAH ANDA MENJADI POLISI ?.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: