Teori Agresi menurut Le Bon

Tindakan anarkis yang dilakukan oleh arak -arakan Milisi Aitarak pimpinan Eurico Guterres yang menyerbu dan menghancurkan bangunan serta fasilitas kantor Suara Timor Timur, dimana oleh kelompok Milisi ini dianggap bahwa selama ini Kantor Mass Media tersebut telah memberitakan Berita-berita yang dianggap berat sebelah,kemudian juga penyerangan terhadap Rumah Manuel Carrascalao yang merupakan Tokoh CNRT yang menyebabkan tewasnya 15 orang dari kelompok Pro kemerdekaan pada dasarnya bukanlah merupakan perilaku kelompok melainkan perilaku khas yang dilakukan sekelompok orang yang bersifat spontan dan mudah cair.
Apabila kita tinjau secara teoritis dengan menggunakan pendekatan Sosiologis tentang Faktor – faktor penyebab Perilaku Kerumunan oleh Le Bon bahwa Kerumunan hanya ampuh dalam melakukan penghancuran, memerintah secara biadab, dan tidak mampu mewujudkan peradaban yang ditandai oleh aturan mantab, disiplin, peralihan dari naluri ke ratio, pandangan ke masa depan, dan kebudayaaan bertingkat tinggi, Kemudian timbul pertanyaan Mengapa sekumpulan individu dapat berubah menjadi suatu kerumunan.? Pada kasus tersebut diatas ini,Memang secara faktual bahwa Pada tanggal 17 April 1999 telah diadakannya Apel akbar yang dihadiri sekitar 5000 Massa Pro Integrasi yang terdiri dari 13 Kabupaten di Timor Timur di depan Kantor Gubernur Timor Timur, Dimana Apel Akbar ini dipimpin oleh Panglima Pasukan Pejuang Integrasi ( PPI ) Joao Tavares yang pada awalnya hanya akan meresmikan Milisi Aitarak pimpinan Eurico Guterres dan Pengangkatan Eurico Gutteres sebagai Wakil Panglima PPI namun pada akhirnya setelah Upacara pengukuhan tersebut yang dilanjutkan dengan Pawai / Arak arakan mengililingi kota Dili dimana pada mulanya berjalan dengan lancar tetapi entah angin apa yang membawa rombongan pawai tersebut pada akhirnya melakukan tindakan anarkhis dengan penyerangan ke kediaman Manuel Carrascalao yang merupakan salah satu tokoh CNRT dan penembakan terhadap setiap orang yang mereka temui karena menganggap bahwa orang-orang yang berada di dalam rumah tersebut merupakan pengikut-pengikut Gerakan Pro Kemerdekaan.

Menurut Teori Le Bon pada kasus ini, bahwa ada sejumlah faktor yang merupakan penyebab terjadinya Kerumunan ( lihat Le Bon 1966:29-34 ).Faktor pertama adalah bahwa karena Kebersamaannya dengan banyak orang lain maka individu yang semula dapat mengendalikan nalurinya, kemudian memperoleh perasaan kekuatan yang luar biasa yang mendorongnya untuk tunduk pada dorongan naluri, Karena seakan-akan telah terlebur dalam kerumunan sehingga menjadi anonim ( tidak dikenal ) Maka rasa tanggung jawab yang semula dapat mengendalikan diri setiap individupun ikut lenyap. Hal ini dapat terlihat pada acara Apel akbar yang dilaksanakan pada tanggal 17 April 1999 tersebut hanya dihadiri oleh kalangan pejuang pro Integrasi yang terdiri dari PPI dan Milisi Aitarak dan juga milisi-milisi yang lainnya yang pada tujuannya mendukung adanya integrasi dengan Negara Kesutuan R I, dimana kelompok ini mengenakan berbagai atribut seperti ikat kepala merah putih dengan membawa berbagai senjata dan mereka juga mengenakan kaos seragam yang berasal dari masing-masing milisi disamping juga terdapat gejala antar satu kelompok dengan kelompok yang lain tidak terlalu saling mengenal bahkan antar individu dalam kelompok tersebut. Yang menjadi faktor kebersamaan dari kelompok ini adalah dengan adanya suatu Tujuan yang sama yaitu mereka menginginkan untuk berintegrasi dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Faktor yang kedua adalah apa yang dinamakan oleh Le Bon dengan Penularan ( Contagion ), Dimana hal ini dapat merupakan suatu Hipnotis : yang mana dalam suatu kerumunan tiap perasaan dan tindakan bersifat menular. Individu yang telah tertular oleh perasaan dan tindakan orang lain itu kemudian mampu mengorbankan kepentingan pribadinya demi kepentingan bersama. Apabila kita contohkan dengan pemikiran Le Bon ini seperti seseorang yang melakukan pemukalan terhadap pencopet yang tertangkap di terminal bis,atau seseoramg yang dengan teganya membakar seorang maling yang sepeda motor yang tertangkap tangan sedang mencuri, dan kemudian diikuti pula oleh orang-orang disekitar tempat tersebut melakukan perbuatan yang serupa. Penyerangan terhadap kediaman Manuel Carrascallao ( Tokoh CNRT ) oleh milisi yang terdiri dari Besi Merah Putih dan Aitarak dan kemudian menembaki setiap laki-laki yang ditemui didalam rumah tersebut yang dikonotasikan sebagai Kelompok Pro Kemerdekaan dan menyebabkan sebanyak 15 orang meninggal dunia terdiri di antraranya putra dari Manuel Carrascallao sendiri dan pengungsi-pengungsi dari Liquisa, Alas dan Turisca yang pada saat itu sedang mencari perlindungan di kediaman Manuel Carrascalao, Hal ini merupakan perbuatan yang spontan dan seakan-akan terhipnotis oleh perilaku Kelompok pejuang Pro Integrasi Timor-Timur, dimana tiap individu yang sedang melaksanakan Pawai/Arak-Arakan mengelilingi kota Dili yang mulanya berjalan dengan lancar ketika arak-arakan ini melewati Balide ( dikenal sebagai daerah kelompok Pro Kemerdekaan ) tiba-tiba terdengar suara tembakan yang tidak diketahui dari mana asal suara tembakan tersebut kemudian dari kelompok arak-arakan ini dianggap merupakan tembakan dari kelompok pro kemerdekaan kemudian timbulah apa yang dinamakan dengan solidaritas kelompok yang ingin membalas dan bersifat anarkhis dari kelompok pro integrasi dan terjadilah insiden tersebut.
Faktor ketiga adalah faktor yang sangat terpenting yaitu apa yang dinamakan dengan SUGGESTIBILITY , Dalam kerumunan individu mudah dipengaruhi, percaya, dan taat. Individu tersebut seakan-akan telah terhipnotis dan tindakannya menyerupai robot, karena ia kehilangan kesadaran pribadinya dan bertindak bertentangan dengan kehendaknya tanpa menyadarinya, Menurut Le Bon dalam kerumunan seorang pengecut dapat berubah menjadi Pahlawan, seorang kikir menjadi Dermawan, dan seorang yang jujur dapat menjafdi Penjahat, Sebagaimana nampak dari kasus tukang daging di Bastille yang dikisahkan Le Bon, dalam kerumunan seseorang yang baik dapat berubah menjadi pembunuh. Apabila kita melihat kasus 17 april 1999 ini maka antara masing-masing individu kelompok pro integrasi yang sedang melakukan arak-arakan ini timbul suatu Suggesti yang besar dari mereka, dan tanpa disadari dan tanpa perintah atau seolah-olah mengikuti apa yang dilakukan oleh teman-temannya yang lain, seakan-akan menjadi robot yang digerakkan untuk melakukan penyerangan terhadap kediaman Manuell Carasscalao dan menembaki orang-orang yang ditemui mereka termasuk putra dari manuell Carasscalao sendiri yaitu Manuelito Carrasscalao, yang pada awalnya mereka hanya bertujuan untuk arak-arakan atau pawai mengelilingi kota Dilli setelah diadakan rapat akbar Pengukuhan Milisi Aitarak dan Pengangkatan wakil ketua PPI yakni Eurico Gutteres.

About ferli1982

Menjalani hidup dengan riang gembira ... enjoy ur life!!!

Posted on Maret 5, 2013, in Makalah Lepas. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada Teori Agresi menurut Le Bon.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: