MONEY LAUNDERING

 

           Perkembangan teknologi memberi dampak pengaruh yang cukup luas pada terjadinya perkembangan kejahatan. Laju perkembangan kejahatan ini merupakan hal yang ‘wajib’ diantisipasi oleh semua aparat penegak hukum, tak terkecuali Polri. Hal ini mengingat Polri merupakan bagian dari fungsi pemerintahan dalam menegakkan hukum.

            Berbagai peraturan dibuat untuk mengatur kehidupan warga negara, beserta sanksi bagi setiap pelaku kejahatan. Pembaharuan dalam pembuatan peraturan tentu saja disesuaikan dengan perkembangan kejahatan yang ada. Salah satunya adalah Undang-undang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) atau lebih dikenal dengan istilah Money Loundering. Kejahatan keuangan sesungguhnya telah ada semenjak uang menjadi alat transaksi. Namun saat ini, perkembangan teknologi memberikan ruang baru pada perkembangan kejahatan keuangan. Untuk itulah dibutuhkan penanganan kejahatan ini.

            Pencucian Uang adalah perbuatan menempatkan, mentransfer, membayarkan, membelanjakan, menghibahkan, menyumbang- kan, menitipkan, membawa ke luar negeri, menukarkan, atau perbuatan lainnya atas Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana dengan maksud untuk menyembunyikan, atau menyamarkan asal usul Harta Kekayaan sehingga seolah-olah menjadi Harta Kekayaan yang sah.

            Untuk mengungkap adanya tindak pidana ini bukanlah perkara yang mudah, bahkan cenderung rumit, karena penyidik harus mampu menelusuri aliran dana dari pelaku kejahatan. Investigasi kejahatan keuangan menuntut adanya objektivitas, kegigihan, dan perhatian yang detail. Kejahatan ini seringkali tidak hanya melibatkan satu orang pelaku saja, tetapi juga sekumpulan orang yang memiliki hubungan dekat dengan si pelaku.

INTELIJEN KEUANGAN

            Intelijen keuangan adalah informasi-informasi yang terkait dengan hal-hal keuangan dari sebuah entitas. Entitas disini dapat berupa perorangan, bisnis, perusahaan, yayasan, kegiatan atau objek seperti properti dan sebagainya. Intelijen keuangan digunakan oleh aparat penegak hukum untuk memahami sifat dan kemampuan pelaku kejahatan dan untuk memperkirakan ‘niat’ mereka. Sumber utama dari data intelijen keuangan umumnya didapat dari lembaga keuangan baik lembaga keuangan Bank atau Non Bank. Namun demikian, data-data tersebut pada umumnya tidak dapat digunakan di pengadilan, untuk itu dibutuhkan sebuah analisis keuangan oleh penyidik dalam melakukan pengungkapan tindak pidana ini. Intelijen keuangan sejatinya tidak selalu terkait dengan pencucian uang, akan tetapi digunakan untuk mendeteksi adanya tindak pidana pencucian uang.

INVESTIGASI KEUANGAN

            Investigasi keuangan merupakan pemeriksaan kegiatan keuangan atas seorang tersangka atau target, sebuah kelompok, organisasi atau entitas. Tujuan utamanya adalah untuk mengidentifikasi dan mendokumentasikan pergerakan uang. Pada titik inilah penyidik harus bisa mengungkap bagaimana uang illegal didapatkan, siapa yang mendapatkan, dimana uang disimpan atau disetorkan serta bagaimana uang digunakan atau di investasikan. Biasanya investigasi ini sarat dengan penelusuran dokumen baik dokumen elektronik maupun dokumen fisik. Catatan-catatan tersebut dapat menunjukkan arah pergerakan dari uang dalam tindak pidana pencucian uang tersebut.

            Analisis keuangan dibutuhkan untuk mengevaluasi informasi dan bukti yang dihimpun selama investigasi keuangan dijalankan, termasuk pada proses merekonstruksi kegiatan keuangan tersangka dan keterlibatannya dalam kejahatan yang sedang berlangsung serta menentukan aset dan liabilitas. Analisis keuangan ini dapat membantah pernyataan tersangka atas sumber dan penggunaan aset yang mereka kendalikan.

MONEY LAUNDERING

            Pencucian uang adalah segala perbuatan yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana, yakni : Menempatkan, Mentransfer, Mengalihkan, Membelanjakan, Membayarkan, Menukarkan Mata Uang, Menghibahkan, Menitipkan, Membawa ke Luar Negeri, Mengubah Bentuk, dan Menukarkan Surat Berharga. Kejahatan pencucian uang tidak dapat dilepaskan dari tindak pidana ‘asal’, yakni tindak pidana yang mengiringi kejahatan pencucian uang tersebut. Kejahatan asal ini diantaranya adalah :a. korupsi; b. penyuapan; c. narkotika; d. psikotropika; e. penyelundupan tenaga kerja; f. penyelundupan migran; g. di bidang perbankan; h. di bidang pasar modal; i. di bidang perasuransian; j. kepabeanan; k. cukai; l. perdagangan orang; m. perdagangan senjata gelap; n. terorisme; o. penculikan; p. pencurian; q. penggelapan; r. penipuan; s. pemalsuan uang; t. perjudian; u. prostitusi; v. di bidang perpajakan; di bidang kehutanan; di bidang lingkungan hidup; di bidang kelautan dan perikanan; atau tindak pidana lain yang diancam dengan pidana penjara 4 (empat) tahun atau lebih, yang dilakukan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia atau di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan tindak pidana tersebut juga merupakan tindak pidana menurut hukum Indonesia.

 

  • Placement : Tahap pertama dari pencucian uang adalah menempatkan (mendepositokan) uang haram tersebut ke dalam system keuangan (financial system). Pada tahap placement tersebut, bentuk dari uang hasil kejahatan harus dikonversi untuk menyembunyikan asal-usul yang tidak sah dari uang itu. Misal, hasil dari perdagangan narkoba uangnya terdiri atas uang-uang kecil dalam tumpukan besar dan lebih berat dari narkobanya, lalu dikonversi ke dalam denominasi uang yang lebih besar. Lalu di depositokan kedalam rekerning bank, dan dibelikan ke instrument-instrumen moneter seperti cheques, money orders dll
  • Layering : Layering atau heavy soaping, dalam tahap ini pencuci berusaha untuk memutuskan hubungan uang hasil kejahatan itu dari sumbernya, dengan cara memindahkan uang tersebut dari satu bank ke bank lain, hingga beberapa kali. Dengan cara memecah-mecah jumlahnya, dana tersebut dapat disalurkan melalui pembelian dan penjualan investment instrument Mengirimkan dari perusahaan gadungan yang satu ke perusahaan gadungan yang lain. Para pencuci uang juga melakukan dengan mendirikan perusahaan fiktip, bisa membeli efek-efek atau alalt-alat transfortasi seperti pesawat, alat-alat berat dengan atas nama orang lain.
  • Integration : Integration adakalanya disebut spin dry dimana Uang dicuci dibawa kembali ke dalam sirkulasi dalam bentuk pendapatan bersih bahkan merupakan objek pajak dengan menggunakan uang yang telah menjadi halal untuk kegiatan bisnis melalui cara dengan menginvestasikan dana tersebut kedalam real estate, barang mewah, perusahaan-perusahaan

BEBERAPA MODUS MONEY LAUNDERING

  1. Loan Back, yakni dengan cara meminjam uangnya sendiri, Modus ini terinci lagi dalam bentuk direct loan, dengan cara meminjam uang dari perusahaan luar negeri, semacam perusahaan bayangan (immobilen investment company) yang direksinya dan pemegang sahamnya adalah dia sendiri, Dalam bentuk back to loan, dimana si pelaku peminjam uang dari cabang bank asing secara stand by letter of credit atau certificate of deposit bahwa uang didapat atas dasar uang dari kejahatan, pinjaman itu kemudian tidak dikembalikan sehingga jaminan bank dicairkan.
  2. Modus operasi C-Chase, metode ini cukup rumit karena memiliki sifat liku-liku sebagai cara untuk menghapus jejak. Contoh dalam kasus BCCI, dimana kurir-kurir datang ke bank Florida untuk menyimpan dana sebesar US $ 10.000 supaya lolos dari kewajiban lapor. Kemudian beberapa kali dilakukan transfer, yakni New York ke Luxsemburg ke cabang bank Inggris, lalu disana dikonfersi dalam bentuk certiface of deposit untuk menjamin loan dalam jumlah yang sama yang diambil oleh orang Florida. Loan buat negara karibia yang terkenal dengan tax Heavennya. Disini Loan itu tidak pernah ditagih, namun hanya dengan mencairkan sertifikat deposito itu saja. Dari Floria, uang terebut di transfer ke Uruguay melalui rekening drug dealer dan disana uang itu didistribusikan menurut keperluan dan bisnis yang serba gelap. Hasil investasi ini dapat tercuci dan aman.
  3. Modus transaksi transaksi dagang internasional, Modus ini menggunakan sarana dokumen L/C. Karena menjadi fokus urusan bank baik bank koresponden maupun opening bank adalah dokumen bank itu sendiri dan tidak mengenal keadaan barang, maka hal ini dapat menjadi sasaran money laundrying, berupa membuat invoice yang besar terhadap barang yang kecil atau malahan barang itu tidak ada.
  4. Modus penyelundupan uang tunai atau sistem bank paralel ke Negara lain. Modus ini menyelundupkan sejumah fisik uang itu ke luar negeri. Berhubung dengan cara ini terdapat resiko seperti dirampok, hilang atau tertangkap maka digunakan modus berupa electronic transfer, yakni mentransfer dari satu Negara ke negara lain tanpa perpindahan fisik uang itu.
  5. Modus akuisisi, yang diakui sisi adalah perusahaanya sendiri.Contoh seorang pemilik perusahaan di indonesia yang memiliki perusahaan secara gelap pula di Cayman Island, negara tax haven. Hasil usaha di cayman didepositokan atas nama perusahaan yang ada di Indonesia. Kemudian perusahaan yang ada di Cayman membeli saham-saham dari perusahaan yang ada di Indonesia (secara akuisisi). Dengan cara ini pemilik perusahaan di Indonesia memliki dana yang sah, karena telah tercuci melalui hasil pejualan saham-sahamnya di perusahaan Indonesia.
  6. Modus Real estate Carousel, yakni dengan menjual suatu property berkai-kali kepada perusahaan di dalam kelompok yang sama. Pelaku Money Laundrying memiliki sejumlah perusahaan (pemegang saham mayoritas) dalam bentuk real estate. Dari satu ke lain perusahaan.
  7. Modus Investasi Tertentu, Investasi tertentu ini biasanya dalam bisnis transaksi barang atau lukisan atau antik. Misalnya pelaku membeli barang lukisa dan kemudian menjualnya kepada seseorang yang sebenarnya adalah suruhan si pelaku itu sendiri dengan harga mahal. Lukisan dengan harga tak terukur, dapat ditetapkan harga setinggitingginya dan bersifat sah. Dana hasil penjualan lukisan tersebut dapat dikategorikan sebagai dana yang sudah sah.
  8. Modus over invoices atau double invoice. Modus ini dilakukan dengan mendirikan perusahaan ekspor-impor negara sendiri, lalu diluar negeri (yang bersistem tax haven) mendirikan pula perusahaan bayangan (shell company). Perusahaan di Negara tax Haven ini mengekspor barang ke Indonesia dan perusahaan yang ada d diluar negeri itu membuat invoice pembelian dengan harga tingi inilah yang disebut over invoice dan bila dibuat 2 invoices, maka disebut double invoices.
  9. Modus Perdagangan Saham, Modus ini pernah terjadi di Belanda. Dalam suatu kasus di Busra efek Amsterdam, dengan melibatkan perusahaan efek Nusse Brink, dimana beberapa nasabah perusahaan efek ini menjadi pelaku pencucian uang. Artinya dana dari nasabahnya yang diinvestasi ini bersumber dari uang gelap. Nussre brink membuat 2 (dua) buah rekening bagi nasabah-nasabah tersebut, yang satu untuk nasabah yag rugi dan satu yang memiliki keuntungan. Rekening di upayakan dibuka di tempat yang sangat terjamin proteksi kerahasaannya, supaya sulit ditelusuri siapa benefecial owner dari rekening tersebut.
  10. Modus Pizza Cinnction. Modus ini dilakukan dengan mnginvestasikan hasil perdagangan obat bius diinvestasikan untuk mendapat konsesi pizza, sementara sisi lainnya diinvestasikan di Karibia dan Swiss.
  11. Modus la Mina, kasus yang dipandang sebagai modus dalam money laundrying terjadi di Amerika Serikat tahun 1990. dana yang diperoleh dari perdagangan obat bius diserahkan kepada perdagangan grosiran emas dan permata sebagai suatu sindikat. Kemudian emas, kemudian batangan diekspor dari Uruguay dengan maksud supaya impornya bersifat legal. Uang disimpan dalam desain kotak kemasan emas, kemudian dikirim kepada pedagang perhiasan yang bersindikat mafia obat bius. Penjualan dilakukan di Los Angeles, hasil uang tunai dibawa ke bank dengan maksud supaya seakan-akan berasal dari kota ini dikirim ke bank New York dan dari kota ini di kirim ke bank New York dan dari kota ini dikirim ke bank Eropa melalui Negara Panama. Uang tersebut akhirnya sampai di Kolombia guna didistribusi dalam berupa membayar onkosongkos, untuk investasi perdagangan obat bius, tetapi sebagian untuk unvestasi jangka panjang.
  12. Modus Deposit taking, Mendirikan perusahaan keuangan seperti Deposit taking Institution (DTI) Canada. DTI ini terkenal dengan sarana pencucian uangnya seperti chartered bank, trust company dan credit union. Kasus Money Laundrying ini melibatkan DTI antara lain transfer melalui telex, surat berharga, penukaran valuta asing, pembelian obligasi pemerintahan dan teasury bills.
  13. Modus Identitas Palsu, Yakni memanfaatkan lembaga perbankan sebagai mesin pemutih uang dengan cara mendepositokan dengan nama palsu, menggunakan safe deposit box untuk menyembunyikan hasil kejahatan, menyediakan fasilatas transfer supaya dengan mudah ditransfer ke tempat yang dikehendaki atau menggunakan elektronic fund transfer untuk melunasi kewajiban transaksi gelap, menyimpan atau mendistribusikan hasil transaksi gelap itu.

About ferli1982

Menjalani hidup dengan riang gembira ... enjoy ur life!!!

Posted on Februari 4, 2013, in Makalah Lepas, Menulis itu Indah, Reserse Kriminal. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada MONEY LAUNDERING.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: