SISTEM PENGASUHAN BERBASIS KETELADANAN MELALUI POLA PEMBELAJARAN ORANG DEWASA (ANDRAGOGI) BAGI CALON BHAYANGKARA TARUNA DI AKADEMI KEPOLISIAN

Cabhatar

ABSTRAK

Akademi Kepolisian sebagai satu-satunya lembaga Pendidikan Polri yang mencetak Perwira Polri sumber SMA memiliki peranan penting dalam mencetak lulusan Akpol yang profesional dan taat hukum. Pola pendidikan yang dilaksanakan melalui sistem Pengajaran, Pelatihan , dan Pengasuhan diharapkan dapat menyentuh aspek Akademis, Jasmani, dan Mental Kepribadian para peserta didiknya. Proses pendidikan ini berawal dari masa pendidikan dasar Kebhayangkaraan yang wajib dilalui oleh semua Taruna. Pada masa ini diharapkan terjadi perubahan sikap, mental, dan kepribadian menuju civillian police. Untuk melihat hal tersebut maka gambaran umum dari proses Pengasuhan dan penerapan pembelajaran orang dewasa berbasis keteladanan dipaparkan dalam penelitian disertai dengan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilannya. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif disertai pencarian data penelitian melalui observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurangnya jumlah personel yang dibebankan pada proses Pengasuhan memberikan pengaruh yang signifikan pada keberhasilan proses pengasuhan itu sendiri. Pola pengasuhan berbasis keteladanan dengan mengedepankan sistem pembelajaran orang dewasa telah berjalan pada masa pendidikan dasar Cabhatar Akpol namun dirasa belum optimal.

 

 

Kata Kunci : Keteladanan, Pengasuhan, Pembelajaran Orang Dewasa

 

 

  1. I.       PENDAHULUAN
  2. A.    Latar Belakang

Eksistensi kepolisian di Indonesia walaupun merupakan institusi peninggalan penjajah, namun secara teoritis kelahirannya bermula dari kebutuhan dan keinginan masyarakat untuk menciptakan situasi dan kondisi aman, tertib, tenteram dan damai dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian berkembang sejalan dengan perkembangan dan perubahan kondisi negara di mana kepolisian menjadi kebutuhan negara sebagai alat untuk menghadapi masyarakat. Di sinilah kemudian terjadi pergeseran fungsi kepolisian yang semula lahir dari keinginan masyarakat kemudian menjadi keinginan negara, sehingga terkonsep bahwa kepolisian berada pada pihak negara.(Sadjijiono, 2005)

Memahami eksistensi polisi tidak dapat dilepaskan dari fungsi dan organ atau lembaga kepolisian itu sendiri, serta tidak dapat dilepaskan dari konsep pemikiran tentang adanya perlindungan hukum bagi rakyat. Dalam perspektif fungsi maupun lembaga, kepolisian memiliki tanggung jawab untuk melindungi rakyat dari segala bentuk ancaman kejahatan dan gangguan yang dapat menimbulkan rasa tidak aman, tidak tertib dan tidak tenteram. Peningkatan kualitas Perwira Polisi, melalaui Pengajaran, Pelatihan dan Pengasuhan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan seperti Akademi Kepolisian memiliki peran yang strategis. Peran ini membawa konsekuensi logis yang perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak utamanya institusi Kepolisian itu sendiri. Salah satu konsekuensinya adalah perlunya mendongkrak kinerja para pihak yang berperan dalam proses pendidikan taruna secara optimal, sehingga pada gilirannya, kontribusi yang diberikan oleh Akademi Kepolisian benar-benar sejalan dengan kebutuhan Kesatuan yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan masyarakat.

Aspek keteladanan menjadi salah satu dasar yang tepat dalam memberikan pedoman pembelajaran dalam dunia pendidikan. Orang dewasa menemukan bahwa mereka dapat bertanggung jawab bagi pembelajaran mereka sendiri, sebagaimana mereka lakukan bagi segi-segi  lain kehidupan mereka, mereka mengalami perasaan lega dan gembira. Kemudian mereka akan memasuki kegiatan belajar dengan keterlibatan diri yang mendalam, dengan hasil yang seringkali mengejutkan bagi mereka sendiri dan para pengajar mereka. Model Pengasuhan yang diberikan kepada peserta didik dengan kategori dewasa tentunya tidak bisa disamakan dengan pembelajaran yang diberikan kepada anak-anak. Pada titik inilah Pengasuhan dengan mengedepankan aspek keteladanan menjadi sangat penting dalam mensukseskan sistem belajar-mengajar pada sebuah lembaga pendidikan.

Menurut Wilson (1972:28) aspek keteladanan yang menyentuh para bawahan dalam organisasi Kepolisian wajib untuk dimiliki seorang pemimpin, dalam hal ini Wilson menyatakan bahwa :

”The Police chief has a dual leadership responsibility. He must provide leadership within the department, and as the head of the force he must represent it ini relation with the administration head of the city and through him with the municipal council and the public the community. Exercising community leadership in law enforcement is uncomplicated and straight forward when there are no contro-versial issues at stake, or when there are no threats to vested intersest, business profits, or public convenience.”

 

Pendapat diatas mengandung makna tentang seorang pemimpin (polisi) yang dapat memposisikan dirinya bukan sekedar sebagai seorang komandan, melainkan juga menjadi seorang rekan dan mitra dari para bawahannya.

Data statistik  menunjukkan, dalam kurun waktu Januari-September 2010 menunjukkan adanya 1199 keluhan masyarakat terkait dengan pelayanan anggota Polri dilapangan yang masuk ke Kompolnas. Dari jumlah tersebut, hanya 465 keluhan yang dapat dijawab oleh pihak Kepolisian (http://kompolnas.go.id/?q=pengaduan). Banyaknya pengaduan berupa keluhan masyarakat ini tentu saja tidak lepas dari peranan para Perwira Polri sebagai pelaksana fungsi manajerial pada tiap-tiap satuannya. Hal ini tentu saja menjadikan sebuah permasalahan tersendiri dalam tugas dan fungsi Kepolisian dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Akademi Kepolisian sebagai satu-satunya lembaga pendidikan Perwira Polri sumber SMA, membutuhkan sistem pendidikan yang tepat untuk menghasilkan cetakan Perwira Polri yang profesional, patuh hukum, dan memenuhi harapan masyarakat. Peranan seorang Perwira Polri khususnya sebagai ’first line supervisor’ dilapangan memiliki kedudukan yang strategis, mengingat yang dihadapinya adalah fenomena kehidupan sosial yang selalu bergerak secara dinamis. Perwira Polri juga dituntut untuk dapat melaksanakan aspek manajemen dalam memimpin satuannya, sehingga dapat dibayangkan betapa pentingnya kedudukan lembaga pendidikan Polri dalam menciptakan Perwira Polri yang berkualitas.

Pengasuhan pada prinsipnya merupakan sistem pemaksaan pilihan dari kehendak pendidik kepada peserta didik. Kesadaran peserta didik dipola sebagaimana kehendak pendidik. Peserta didik menurut yang dikehendaki  pendidik. Peserta didik tinggal menerima rancangan pembelajaran dan informasi yang diberikan oleh pendidik. Pendidik menyampaikan isi pelajaran yang berupa informasi yang harus dicatat, disimpan, dihafal dan diambilnya kembali pada saat ujian. Pendekatan pembelajaran tersebut membuat peserta didik merasa sangat bergantung pada pendidik, merasa bosan, mengantuk, malas belajar, sering tidak masuk, malas mengerjakan tugas, peserta didik sering tidak siap menerima pelajaran dan rendah peduli terhadap perubahan. Kondisi demikian menimbulkan kebosanan dalam diri peserta didik yang pada akhirnya pencapaian hasil belajar tidak optimal.

Berangkat dari situasi tersebut, Akademi Kepolisian dalam mencetak sosok Perwira Polri yang berkualitas membutuhkan sebuah sistem pengasuhan yang berjenjang sesuai dengan tingkatan para Taruna. Dimulai dari Calon Bhayangkara Taruna, Taruna Tingkat I, Taruna Tk.II (Brigdatar), dan Taruna Tk.III (Brigtutar). Pengasuhan pada Calon Bhayangkara Taruna (Cabhatar) merupakan awal pendidikan sebagai titik dimana perubahan mental dari civil society akan dirubah menjadi civillian police. Pendidikan dasar bagi Cabhatar di Akademi Kepolisian dikenal dengan nama pendidikan dasar kebhayangkaraan (Dikdasbhara) yang dilaksanakan sesuai dengan kalender akademik Akademi Kepolisian. Pendidikan dasar ini berlangsung selama lebih kurang 4 bulan dan dilaksanakan di lingkungan Akademi Kepolisian.

Dapat dibayangkan, ketika pendidikan dasar tidak dapat mencapai sasaran perubahan mental yang diharapkan maka akan terjadi pergesekan bahkan pertentangan yang dirasakan peserta didik (Cabhatar) ketika dia naik kepada jenjang Ketarunaan berikutnya. Artinya, peranan pendidikan dasar dalam membentuk sikap, mental, dan perilaku para Taruna sangat krusial baik dalam jangka waktu pendek saat Cabhatar naik tingkat menjadi Taruna senior maupun ketika para Taruna sudah menjadi seorang Perwira Polisi yang memiliki jabatan tertentu diwilayah.

 

  1. B.     Permasalahan

Dari latar belakang yang telah diulas, penulis mencoba mengerucutkan pokok permasalahan yakni mengenai upaya Akademi Kepolisian dalam menciptakan sosok perwira Polri yang profesional melalui pola Pengasuhan yang berbasis keteladanan dalam sistem pembelajaran kepada orang dewasa yakni Cabhatar Akpol. Permasalahan tersebut kemudian penulis bagi menjadi 3 (tiga) rumusan persoalan, yakni :

  1. Bagaimana gambaran umum sistem pengasuhan bagi Cabhatar di Akademi Kepolisian saat ini?
  2. Bagaimana model pembelajaran kepada orang dewasa berbasis keteladanan yang dapat diterapkan pada sistem pengasuhan Cabhatar di Akademi Kepolisian?
  3. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi penerapan model pembelajaran kepada orang dewasa berbasis keteladanan bagi Cabhatar di Akademi Kepolisian ?

 

 

  1. II.    LANDASAN TEORITIS

Pada bagian ini, penulis mencoba menguraikan beberapa teori dan konsep yang dapat dipergunakan dalam menganalisis temuan penelitian guna menjawab persoalan penelitian, diantaranya adalah :

  1. 1.      Teori Taxonomy Bloom

Teori Taxonomy Bloom dikemukakan oleh Benjamin S.Bloom (1956), yang menyatakan bahwa tujuan pendidikan dibagi ke dalam tiga domain, yaitu:

  1. Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.
  2. Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
  3. Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin. (http://id.wikipedia.org/wiki/Taksonomi_Bloom).

 

Teori ini menjadi teori umum sistem pendidikan yang diberikan dari pendidik kepada peserta didik, dalam hal ini dari seorang Paping Cabhatar kepada Cabhatar Akpol.

  1. 2.      Konsep Pembelajaran Orang Dewasa

Andragogi yang berasal dari kata aner atau andra,  yang berarti orang dewasa dan agogy, yang berasal dari kata agogos, yang berarti memimpin/membimbing, sehingga pengertian andragogi diartikan sebagai proses pendidikan membantu orang dewasa menemukan dan menggunakan penemuan-penemuan dari bidang pengetahuan yang berhubungan dengan latar belakang sosial dan situasi pendidikan untuk mendorong pertumbuhan dan kesehatan individual, organisasi dan masyarakat.

Knowles (1950:45) mengartikan andragogi sebagai suatu bentuk pembelajaran yang mampu melahirkan sasaran pembelajaran (lulusan) yang dapat mengarahkan dirinya sendiri dan mampu menjadi guru bagi dirinya sendiri. Lebih lanjut Knowles  menegaskan adanya perbedaan antara belajarorang dewasa dengan belajar anak-anak dilihat dari segi perkembangan kognitif. Menurut Knowles ada empat (4) asumsi utama yang membedakan andragogi dengan paedagogi, yaitu:

  1. a.      Perbedaan dalam konsep diri, orang dewasa memiliki konsep diri yang mandiri dan tidak tergantung, bersifat pengarahan diri.
  2. b.      Perbedaan pengalaman, orang dewasa mengumpulkan  pengalaman yang makin meluas yang menjadi sumber daya yang kaya dalam belajar.
  3. c.       Kesiapan untuk belajar, orang dewasa ingin mempelajari bidang permasalahan yang kini dihadapi dan dianggap relevan.
  4. d.      Perbedaan dalam orientasi ke arah kegiatan belajar, orang dewasa orientasinya berpusat pada masalah dan kurang kemungkinan berpusat pada subjek.

 

Konsep pembelajaran orang dewasa ini menjadi penting diterapkan dalam lingkungan Akademi Kepolisian khususnya kepada Calon Bhayangkara Taruna, hal ini dikarenakan para Cabhatar adalah lulusan SMA dengan rataan umur yang memasuki tahap dewasa.

  1. 3.      Konsep Pendidikan Dasar Kebhayangkaraan

Pendidikan Dasar Kebhayangkaraan adalah pendidikan dasar Kepolisian yang diselenggarakan dalam rangka switch mental bagi para Calon Bhayangkara Taruna Akpol dari masyarakat sipil (civillian society) menjadi Taruna Akademi Kepolisian yang memiliki jiwa sebagai Polisi sipil (civillian police). Maksud dari diselenggarakan Dikdasbhara ini adalah untuk membentuk Cabhatar agar memiliki sikap dan keterampilan dasar Kebhayangkaraan disertai landasan mental dan disiplin yang baik serta jasmani yang handal selaras dengan filosofi pendidikan Polri yaitu mahir, terpuji, dan patuh hukum (Bagbinlat Akpol,2012).

Dari pendidikan dasar tersebut, terdapat standard kompetensi yang diharapkan dapat terpenuhi oleh para Taruna, yaitu : 1)Mampu mengikuti seluruh program pelatihan Dikdasbhara yang ditetapkan; 2)Mampu menguasai teknik dan taktik dasar ilmu kepolisian yang diberikan; 3)Mampu merubah sikap, perilaku, dan moral etika dari masyarakt sipil menjadi Bhayangkara Taruna Kepolisian; dan 4)Mampu merubah postur tubuh dan jasmaninya sesuai standard Bhayangkara Taruna Akpol yang ditetapkan.

 

III. METODE PENELITIAN

Penulisan ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif, hal ini dilakukan agar dapat memperoleh gambaran yang seluas-luasnya mengenai proses pengasuhan berbasis keteladanan melalui penerapan model pembelajaran orang dewasa yang dilaksanakan oleh Paping (Kasattar Akpol) kepada para peserta didik Pendidikan Dasar Kebhayangkaraan dalam hal ini Cabhatar Akpol.

Data yang digunakan dalam analisis bersumber pada data primer yang diperoleh melalui teknik wawancara dengan sumber data dilapangan dan observasi secara langsung yang dilaksanakan oleh peneliti. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui studi dokumen yang ada khususnya mengenai berbagai peraturan dilingkungan Akademi Kepolisian. Melalui analisis data yang dilakukan, penulis mengharapkan dapat memberikan gambaran nyata mengenai proses Pengasuhan pada masa Pendidikan Dasar Kebhayangkaraan yang dilaksanakan melalui proses Pengasuhan berbasis keteladanan dengan mengedepankan sistem pembelajaran kepada orang dewasa.

 

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bagian ini penulis akan menguraikan jawaban persoalan dalam penelitian ini dengan menggunakan temuan dalam penelitian melalui hasil analisa dari landasan teoritis yang digunakan. Sedangkan temuan penelitian didapat penulis melalui kegiatan wawancara langsung kepada objek pendidikan yaitu Calon Bhayangkara Taruna Akademi Kepolisian Detasemen 47 / Satriyo Pambudi Luhur dan observasi langsung penulis selaku pengasuh Cabhatar pada Detasemen yang sama. Disamping itu penulis juga mempergunakan telaah dokumen khususnya mengenai konsep-konsep dasar Dikdasbhara.

  1. 1.      Gambaran umum sistem pengasuhan bagi Cabhatar di Akademi Kepolisian saat ini

Pendidikan dasar bagi Cabhatar Akademi Kepolisian Detasemen 47 / Satriyo Pambudi Luhur dilaksanakan sesuai dengan Kalender Pendidikan (Kaldik) Akademi Kepolisian 2012 yang disahkan dengan keputusan Gubernur Akademi Kepolisian nomor : KEP/41/VI/2012 tanggal 19 Juni 2012 tentang Perubahan Kalender Akademik T.A.2012. Pendidikan dasar ini dilaksanakan selama lebih kurang 4 (empat) bulan dimulai dari tanggal 1 Agustus 2012 s.d. 6 Desember 2012.

Dikdasbhara sendiri dilaksanakan dengan tujuan untuk : 1)Membentuk Cabhatar yang memiliki sikap, mental, dan kepribadian sebagai insan Bhayangkara serta memiliki kemampuan dasar baik teknis dan taktis Kepolisian sebagai kader pemimpin Polri masa depan;2)Memberikan keterampilan dan kemampuan dasar Kebhayangkaraan; 3)Membentuk postur yang baik dan fisik yang prima sebagai Calon Bhayangkara Taruna;4)Menumbuh kembangkan sikap tanggung jawab, jujur, bersih, dan profesional, bermoral, modern, loyalitas,rasa kebersamaan serta kebanggaan korps dalam menjalani pendidikan di Akademi Kepolisian.Dikdasbhara dilaksanakan dengan mengikuti pola pendidikan Taruna Akademi Kepolisian yang terdiri dari bidang Pengajaran, Pelatihan, dan Pengasuhan. Pelaksanaan dari Dikdasbhara dapat dilihat dari tabel dibawah ini.

 

Tabel 1.Waktu dan Tempat Pelaksanaan Dikdasbhara

NO

KEGIATAN

TEMPAT

WAKTU

KET

01

Pendidikan Dasar Bhayangkara

Lingkungan Akademi Kepolisian

13 Agustus s.d. 21 Nopember 2012

Waktu Efektif 76 hari

02

Latihan Berganda

Bumi Perkemahan Indera Prasta Kab.Boyolali

26 Nopember s.d. 01 Desember 2012

Waktu Efektif 6 hari

03

Jalan Juang

Magelang-Semarang

30 s.d. 01 Desember 2012

Waktu Efektif 1 hari

04

Rikes dan TKJ

RSA dan Stadion Akpol

23 s.d. 25 Nopember 2012

Waktu Efektif 3 hari

(Sumber : Bagbinlat Akpol 2012)

 

Perhitungan waktu dalam pelaksanaan Dikdasbhara tersebut merupakan waktu efektif dari pelaksanaan Pengajaran dan Pelatihan dalam sistem pola pendidikan Taruna Akademi Kepolisian. Dilihat dari jadwal pelaksanaan kegiatan, Pengajaran dan Pelatihan bagi Cabhatar dimulai sejak pukul 07.15 WIB s.d. 17.30 WIB. Dalam kurun waktu tersebut, terdapat waktu pelaksanaan istirahat siang pada pukul 12.45 WIB s.d. 14.00 WIB. Sedangkan pelaksanaan Pengasuhan dilaksanakan diluar jam Pengajaran dan Pelatihan serta dihari-hari libur.

Dikdasbahara diikuti oleh 300 orang Cabhatar Akademi Kepolisian yang terdiri dari 250 orang Taruna dan 50 orang Taruni yang berasal dari 31 daerah asal pengiriman (sesuai dengan Polda/Provinsi) ditambah 2 subpanpus SMA Taruna Nusantara dan SMA Krida Nusantara. Para Cabhatar merupakan lulusan SMA tahun 2012 (fresh graduated) dari seluruh Indonesia serta terdapat pula beberapa Cabhatar yang merupakan lulusan pada tahun sebelumnya. Untuk rataan umur para Cabhatar dapat dilihat dari data tabel dibawah ini.

Tabel 2.Data Taruna Berdasarkan Umur

NO

UMUR

JUMLAH

KET

01

17 Tahun

63

02

18 Tahun

131

03

19 Tahun

67

04

20 Tahun

31

05

21 Tahun

8

 

JUMLAH

300

 

(Sumber : Den 47/SPL 2012)

Berdasarkan data tabel diatas, maka dapat dilihat bahwa sebaran umur dari Cabhatar adalah 17 – 21 Tahun dimana mereka memasuki tahapan orang dewasa. Kemudian para Cabhatar dibagi kedalam 14 Satuan, yang terdiri dari 12 Satuan Taruna dan 2 Satuan Taruni, dimana tiap-tiap satuan rata-rata terdiri dari 21 Taruna.

Dilihat dari struktur organisasi yang ada, pelaksanaan Dikdasbhara berada dibawah Satuan Tugas Khusus (Satgasus) yang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Akademi Kepolisian. Satgas Dikdasbhara tersebut berada diluar struktur Korps Pembinaan Taruna dan Siswa (Korbintarsis) Akademi Kepolisian, hal ini mengindikasikan bahwa selama pelaksanaan Pendidikan Dasar seluruh Cabhatar Akademi Kepolisian tidak berhubungan baik secara langsung maupun tidak langsung dengan Taruna senior (Tk.II dan Tk.III). Struktur Organisasi dari Satgas Dikdasbhara dapat dilihat dari gambar dibawah ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Struktur Organisasi Satgas Dikdasbhara

(Sumber : Bagbinlat Akpol 2012)

Struktur organisasi Satgas Dikdasbhara pada gambar diatas, terdiri dari total 294 personel Akademi Kepolisian. Dari jumlah tersebut, bidang Pengajaran diampuh oleh para Gadik/Dosen yang terdiri dari 56 personel untuk 9 (sembilan) mata pelajaran, bidang Pelatihan diampuh oleh para instruktur Akpol yang terdiri dari 133 orang yang terbagi dalam 10 (sepuluh) tim, dan bidang Pengasuhan diampuh oleh Perwira Pendamping (Paping) yang terdiri dari hanya 16 personel saja. Dari data diatas dapat dilihat bahwa kekuatan personel yang bertanggung jawab langsung pada bidang Pengasuhan memiliki jumlah yang paling sedikit dibandingkan dengan jumlah personel yang bertanggung jawab pada bidang Pengajaran dan Pelatihan. Padahal jika dilihat dari aspek yang akan diraih oleh seorang Taruna (aspek akademis, aspek jasmani, dan aspek mental kepribadian), Pengasuhan memiliki peranan penting dalam membentuk aspek mental kepribadian seorang Taruna terlebih pada masa pendidikan dasar dimana Cabhatar dituntut untuk dapat merubah mental dari civillian society menjadi civillian police.

Dilihat dari tugas pokoknya pada satgas Dikdasbhara, maka Paping memiliki tugas untuk : 1)Membantu Kasatgaslat pada bidang penyelengaraan Pengasuhan dalam rangka membentuk sikap, mental, dan perilaku bagi peserta didik (Cabhatar); 2)Membantu Kasatgaslat dalam mengontrol dan mengawasi sikap serta perilaku peserta didik untuk mencegah terjadinya penyimpangan dalam rangka mendukung kelancaran pelaksanaan pendidikan dan pelatihan; 3)Menyiapkan para peserta didik yang akan mengikuti latihan dengan mengecek atau mengontrol kesiapan peserta didik; 4)Mengkoordinasikan penyelenggaraan/jadwal kegiatan latihan bagi peserta didik dengan instruktur / dosen pemberi materi latihan; 5)Mengadakan evaluasi tentang perkembangan sikap, mental, dan perilaku peserta didik; dan 6)Bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada Kasatgaslat.

Tugas pokok tersebut dilaksanakan secara langsung pada jam-jam diluar Pengajaran dan Pelatihan terutama pada pukul 17.30 WIB s.d. 07.15 WIB serta pada saat-saat hari llibur ditambah dengan tugas-tugas lain (menyiapkan peserta didik) diantara sela waktu selama pelaksanaan Pengajaran dan Pelatihan. Hal ini mengindikasikan bahwa tugas seorang Paping Cabhatar berlangsung sepanjang hari, khususnya dalam menjaga keberhasilan proses switch mental para Cabhatar. Para Paping sebenarnya memiliki kedudukan yang sama dengan seorang Kasattar Akademi Kepolisian, artinya mereka bertanggung jawab terhadap satu satuan  dan dipimpin langsung oleh seorang koordinator Paping setingkat Kepala Detasemen Taruna (Kadentar).

 

Tabel 3.Data Paping Cabhatar

NO

PANGKAT

JUMLAH

DIK PENGEMBANGAN

JUMLAH

DIK UMUM

JUMLAH

01

AKBP

1

SESPATI

SMU

02

KOMPOL

1

SESPIM

1

D3

1

03

AKP

9

PTIK

11

S1

15

04

IPTU

5

SELAPA

4

S2

05

S3

 

TOTAL

16

TOTAL

16

TOTAL

16

(Sumber : Detasemen 47/SPL 2012)

Para Paping Cabhatar yang terbagi dalam 14 Satuan tersebut melaksanakan tugas Pengasuhan setiap hari dan setiap saat, disamping itu mereka juga dibebankan untuk melaksanakan tugas Dinas (piket) baik piket Pengawas Detasemen (Pawasden) maupun sebagai piket Kelas (Pawas Kelas). Dari 14 orang yang terkena piket, dibagi menjadi 3 plug (regu) piket, sehingga para Paping tersebut akan bertugas setiap 3 hari sekali.

Diltinjau dari teori taxonomy, apa yang dilakukan para Paping dalam menjalankan peranan Pengasuhan bagi Cabhatar dapat dikatakan berjalan sesuai rencana namun tidak optimal. Penulis akan memberikan analisa sesuai dengan hasil temuan yang penulis dapatkan sebagai berikut.

  1. Cognitive Domain (Ranah Kognitif).

Pada aspek ini, peranan Paping Cabhatar hanya sebatas memberikan perintah untuk pelaksanaan belajar malam. Kendati pelaksanaan belajar malam tersebut dilakukan pengawasan melekat namun tidak bisa menyentuh semua Cabhatar dimana 1 (satu) orang Paping diwajibkan mengawasi 21 orang Cabhatar. Kondisi ini belum ditambah dengan berkurangnya jumlah Paping pada saat lepas dinas. Salah satu cara yang digunakan untuk mengatasi hal ini adalah dengan membagi-bagi pengawasan, misalnya dalam satu kali belajar malam seorang Paping mengawasi 5-10 Cabhatar, sisanya akan dilaksanakan besok hari (berlanjut).

  1. Affective Domain (Ranah Afektif) .

Pada sisi afektif, peranan Paping terasa lebih terlihat, pada beberapa kesempatan penulis mendapati seorang Paping yang berbicara dengan seorang Cabhatar dan terus berlanjut dihampir setiap kesempatan Paping tersebut berbicara mengenai berbagai kesulitan dan permasalahan Cabhatar ketika mengikuti pendidikan dasar. Cara ini lebih ‘mengena’ dari sisi Cabhatar sebagai objek pengasuhan, karena mereka dapat secara leluasa mencurahkan segala permasalahan kepada Paping/Kasattarnya langsung. Permasalahan muncul ketika seorang Paping dihadapkan pada 21 ragam permasalahan yang melanda anggota satuannya. Keterbatasan kemampuan dan kompetensi Paping memberikan pengaruh signifikan dalam pemberian pengasuhan melalaui pendekatan sisi psikologis para Cabhatar.

  1. Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor)

Aspek psikomotorik berlangsung terutama disaat  hari libur, dimana kegiatan pengasuhan dititik beratkan pada kemampuan dan keterampilan khas kepolisian, seperti baris berbaris (PBB), keterampilan PBB bersenjata, keterampilan mengatur urusan dalam (PUD), serta memupuk rasa kebersamaan dan kerjasama melalui kegiatan-kegiatan kolektif seperti korve dan pembersihan lingkungan.

 

  1. 2.      Model pembelajaran kepada orang dewasa berbasis keteladanan yang dapat diterapkan pada sistem pengasuhan Cabhatar di Akademi Kepolisian

Pembelajaran kepada orang dewasa dalam hal ini para Cabhatar Akademi Kepolisian, melalui dasar keteladanan khususnya yang diberikan oleh para Paping Cabhatar memiliki peranan yang penting untuk memberikan pembentukan mental, sikap dan kepribadian. Selama 4 (empat) bulan, para Cabhatar tersebut diharapkan dapat merubah sikap, mental, dan kepribadian dari semula seorang anak SMA dengan beragam macam pergaulan menjadi seorang Taruna Akpol yang penuh dengan aturan yang mengikat mereka.

Dalam andragogi peranan guru, pengajar atau pembimbing yang sering disebut dengan fasilitator adalah mempersiapkan seperangkat atau prosedur untuk mendorong dan melibatkan secara aktif seluruh warga belajar yang dikenal dengan pendekatan partisipatif, yang meliputi elemen-elemen: a) menciptakan iklim dan suasana yang mendukung proses belajar mandiri, b) menciptakan mekanisme dan prosedur untuk perencanaan bersama dan partisipatif, c) melakukan diagnosis kebutuhan-kebutuhan belajar yang spesifik, d) merumuskan tujuan program yang memenuhi kebutuhan belajar, e) merencanakan pola pengetahuan belajar, f) melakukan dan menggunakan pengalaman belajar dengan metode dan teknik yang memadai dan g) mengevaluasi hasil belajar dan  mendiagnosis kembali kebutuhan-kebutuhan belajar, sebagai model proses.

Berdasarkan pada implikasi andragogi dalam praktik pembelajaran pada kegiatan pelatihan maka seorang instruktur harus dapat mempersiapkan dan mengatur keberlanjutan prosedur pembelajaran yang melibatkan peserta didik (warga belajar) dalam proses pembelajaran dalam bentuk: (a) menciptakan kondisi yang konduksif untuk pembelajaran, (b) menciptakan mekanisme perencanaan yang memberikan timbal balik, (c) mendiagnosis kebutuhan untuk pembelajaran, (d) merumuskan tujuan program pembelajaran yang memuaskan kebutuhan, (e)  mengkonduksi pengalaman pembelajaran yang  sesuai, (f), mengevaluasi tingkat pencapaian hasil  pembelajaran dan mendiagnosis kembali kebutuhan belajar.

Pendidikan Taruna Kepolisian melalui Akademi Kepolisian yang dilakukan dengan menerapkan konsep andragogi secara optimal dimaksudkan untuk meningkatkan mutu lulusan. Dalam penerapan konsep andragogi, peran  Paping adalah mempersiapkan perangkat atau prosedur untuk mendorong dan melibatkan secara aktif seluruh warga belajar (pendekatan partisipasif), dalam proses pelatihan melibatkan elemen-elemen yang telah dipersiapkan. Penerapan konsep andragogi memiliki prinsip bahwa warga belajar sebagai sosok manusia yang telah memiliki banyak pengalaman, memiliki konsep diri, memilik kesiapan belajar dalam memenuhi kebutuhan dan belajar lebih diorientasikan pada pemenuhan kebutuhan peserta diklat. Peserta diklat diberikan kesempatan seluas-luasnya dalam memilih alternative pemecahan masalahberdasarkan pengalaman yang di miliki, konsep diri yang dimiliki peserta dihargai sebagai modal dasar dalam proses pelatihan, peserta dipandang sebagai sosok yang telah memiliki pengalaman hidup,rasa tanggung jawab, kecakapan hidup, sikap kritis, kreativitas dan rasa kebersamaan. .

Penerapan konsep andragogi dalam pendidikan ketarunaan di Akademi Kepolisian sangat mempengaruhi sikap dan perilaku peserta pelatihan dalam hal :

  1. Meningkatkan rasa tanggung jawab

Diberikannya keleluasaan kepada Cabhatar dalam mengembangkan kemampuan dan kreativitas dirinya, baik secara individu maupun kelompok, Cabhatar dapat mengikuti seluruh kegiatan dalam waktu yang tepat. Hal ini dapat dilihat dari kehadiran di tempat kegiatan, ketepatan dalam penyelesaian tugas, ketepatan dalam  memasuki anggota kelompok, dan sebagainya. Pada awal pendidikan, pelaksanaan pengembangan rasa tanggung jawab dilaksanakan dengan pengawasan ketat para Paping, sehingga pelaksanaan kegiatan dapat sesuai dengan rencana.

Cabhatar pada waktu tertentu juga diberikan kepercayaan untuk menjaga kebersihan lingkungannya dengan penuh tanggung jawab. Paping melakukan pengecekan dari pelaksanaan setelah semua kegiatan selesai dilaksanakan disertai dengan sanksi kepada Cabhatar yang tidak melaksanakan. Melalui pola tersebut, Cabhatar menjadi terikat untuk menjaga kebersihan lingkungan mereka masing-masing, mereka tidak menginginkan mendapatan sanksi berupa pengurangan nilai sikap perilaku sebagai akibat dari tidak dijaganya kebersihan lingkungan. Hal ini menumbuhkembangkan rasa tanggung jawab dari tiap-tiap Cabhatar untuk berperan secara aktif dalam menjaga lingkungan.

  1. Memantapkan jiwa kepemimpinan

Pendidikan Ketarunaan yang dilakukan dengan mendasarkan pada pengalaman dan konsep diri yang dimiliki peserta didik, mendorong Cabhatar untuk  dapat mengikuti materi pendidikan dengan penuh rasa tanggung jawab, penuh percaya diri, mampu mengatur  dirinya sendiri, dapat mengambil keputusan dengan baik. Salah satu kegiatan Pengasuhan yang dilaksanakan adalah dengan menunjuk tiap-tiap Cabhatar secara bergantian menjadi petugas Kaden Harian dan Kasat Harian serta dalam melaksanakan tugas piket jaga kamar.

Sebagai seorang Kaden Harian, Cabhatar memiliki tanggung jawab untuk melakukan pengecekan terhadap jumlah kekuatan pasukan dan ketepatan waktu dalam pelaksanaan apel pada setiap harinya. Sedangkan sebagai seorang Kasat Harian, Cabhatar diberikan tugas memimpin satuan dalam waktu 1 x 24 jam, artinya selama satu hari penuh seorang Cabhatar bertanggung jawab melaksanakan fungsi kepemimpinan dari sebuah satuan.

  1. Kreativitas

Pada beberapa aktivitas dalam pendidikan ketarunaan mengelola materi dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada Cabhatar dalam menentukan obyek permasalahan yang akan di analisis. Kesempatan yang diberikan sekaligus sebagai tantangan kepada Cabhatar dalam memilih obyek permasalahan yang relevan dengan bidang kajian. Dari data yang dikumpulkan di lapangan menunjukan bahwa pemberian kesempatan tersebut menghasilkan gagasan yang sangat variatif.

Pendekatan partisipatif yang diterapkan dalam pelatihan merangsang Taruna Akpol mengikuti dengan semangat dengan kreativitas yang tinggi. Banyak ide atau gagasan yang muncul dari pikiran Taruna. Taruna leluasa menyampaikan ide dalam menanggapi masalah yang diajukan, cara menyelesaikan suatu permasalahan dilakukan dengan mengajukan beberapa alternatif pemecahan masalah. Di samping itu, Cabhatar secara leluasa menyelesaikan tugas yang sangat bervariatif dan produktif. Dalam kegiatan brainstorming dan diskusi, muncul cara-cara yang persuasive dalam menggali informasi dari Taruna. Kesulitan muncul ketika tidak semua Paping dapat mendampingi pelaksanaan diskusi Cabhatar disaat lepas dinas serta waktu pelaksanaan diskusi yang hanya berjalan paling lama 30 menit.

  1. Menumbuhkan sikap kritis

Berpikir kritis adalah proses mental untuk menganalisis atau mengevaluasi informasi. Informasi didapatkan melalui pengamatan, pengalaman, komunikasi, dan membaca. Dalam kegiatan pendidikan Ketarunaan, ada beberapa pendidik yang telah berusaha mengembangkan pendekatan partisipatif dan pembelajaran berbasis pengalaman. Pendidik berusaha menggali pengalaman, pengetahuan, kemampuan dan keterampilan yang dimiliki Taruna dengan memberikan rangsangan melalui pertanyaan, kasus, dan beberapa gambar. Dari stimulus tersebut, peserta diberikan kesempatan untuk menjawab, memberikan tanggapan, dan komentar sesuai dengan pengalaman yang dimiliki. Dalam kegiatan ini, tidak diberlakukan adanya penilaian benar atau salah terhadap jawaban atau tanggapan yang dsampaikan oleh peserta.  Pelaksanaan kegiatan tersebut berjalan saat apel malam dan apel-apel khusus yang diambil para Paping masing-masing satuan.

  1. Meningkatkan kerjasama

Pendidikan Ketarunaan yang di desain dengan iklim pembelajaran yang kondusif, dapat mendorong Cabhatar untuk berinteraksi sosial antar Taruna dengan  baik. Masing-masing Cabhatar menyadari bahwa pelatihan ini sangat dibutuhkan dalam mengembangkan kemampuan dan kecakapannya di lingkungan tugasnya masing-masing. Dalam pelaksanaan pendidikan, Taruna dikelompok secara acak, sehingga dalam satu kelompok terdapat anggota yang berasal dari beberapa satuan tugas yang berbeda yang berbeda. Masing-masing saling bekerja sama dan bahu membahu dalam menyelesaikan tugas-tugas pelatihan, baik untuk tugas perorangan, kelompok maupun tugas kelas, meskipun Taruna memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda-beda.

Untuk mensukseskan hal ini, sedari awal para Cabhatar diberikan kesempatan berinteraksi dengan sesama rekannya yang berbeda satuan dan berbeda asal pengiriman. Ketika pelaksanaan makan baik makan pagi, siang, maupun malam, Cabhatar diharuskan untuk duduk menyebar bercampur dengan rekan-rekannya dalam satu meja. Mereka dilarang untuk duduk bersama diantara Cabhatar yang berasal dari satu pengiriman yang sama maupun dari satu satuan yang sama.

 

Secara kuantitatif, bentuk peningkatan mutu lulusan di tunjukan dari unjuk kerja selama kegiatan pendidikan berlangsung dan setelah kegiatan pendidikan selesai. Mutu lulusan dilihat secara kualitatif berdasarkan hasil pengamatan selama kegiatan berlangsung dan dokumen hasil kerja Taruna. Untuk merekam data yang bersifat kualitatif dilakukan melalui lembar observasi dan lembar analisis dokumen. Kendala muncul ketika pada kenyataanya para Cabhatar seringkali dihadapi pada pola kegiatan Pengasuhan yang monton mengikuti gaya dan pola kepemimpinan para Paping terutama yang sedang melaksanakan piket.

 

  1. 3.      Faktor-faktor yang mempengaruhi penerapan model pembelajaran kepada orang dewasa berbasis keteladanan bagi Cabhatar di Akademi Kepolisian

Dari hasil penelitian yang dilakukan, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan penerapan model pembelajaran kepada orang dewasa dalam hal ini para Cabhatar Akpol, diantaranya adalah :

a.    Sebagian besar Paping tidak memiliki pengalaman pendidikan yang berlatar belakang pendidikan, sehingga dalam pengelolaan satuannya dalam  proses Pengasuhan kurang kondusif dan kaku. Penyampaian materi Pengasuhan masih bersifat ekspositori (pemindahan informasi) dan tex books thinking dengan didasari pengalaman para Paping ketika menjadi seorang Taruna dahulu. Metode yang digunakan masih di dominasi metode ceramah, meskipun di awal sudah mulai memancing partisipasi Cabhatar. Keadaan tersebut sering menimbulkan kebosanan dalam diri Cabhatar. Cabhatar yang telah memiliki pengalaman diri tidak dimanfaatkan sebagai sumber belajar, sehingga dalam pelatihan materi yang disampaikan terasa asing dari kehidupannya.

b.    Sebagian besar Paping merupakan anggota Polri dari berbagai satuan tugas. Dalam pengelolaan pembelajaran Pengasuhan, meskipun telah diberikan pengayaan materi penerapan konsep andragogi dalam pembelajaran masih ada Paping yang memperlakukan Cabhatar seperti bawahannya atau seperti anak-anak, misalnya; menggunakan bahasa perintah, komunikasi searah, sangat dominan dalam  pembelajaran. Kondisi demikian menghambat peserta pelatihan untuk ikut berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.

  1. Tidak berimbangnya jumlah personel yang mengampuh tugas Pengasuhan yakni hanya berjumlah 16 personel dari total 294 personel Akpol yang tergabung dalam Satuan Tugas Dikdasbhara. Hal ini berpengaruh terhadap keberhasilan proses pembentukan mental, sikap, dan perilaku dari para Cabhatar karena hanya bergantung pada 16 gaya memimpin dari para Paping.

 

  1. V.    PENUTUP

Pelaksanaan Pendidikan Dasar Kebhayangkaraan bagi para Cabhatar Akpol dilaksanakan dalam lingkungan Akademi Kepolisian oleh personel Akpol yang tergabung dalam Satuan Tugas Dikdasbhara. Peserta pendidikan berjumlah 300 orang Cabhatar yang terdiri dari 250 orang Taruna dan 50 orang Taruni dan dibagi menjadi 14 satuan-satuan. Sedangkan untuk personel yang terlibat dalam Satgas Dikdasbhara berjumlah 294 personel. Dari jumlah tersebut sebanyak 133 personel bertanggung jawab pada pelaksanaan Pelatihan, 56 personel bertanggung jawab pada pelaksanaan Pengajaran, dan hanya 16 orang personel yang bertanggung jawab pada pelaksanaan Pengasuhan. Padahal pelaksanaan Pengasuhan memiliki peranan penting dalam proses pembentukan mental, sikap, dan perilaku dari para Cabhatar selama masa pendidikan dasar tersebut.

Proses pengasuhan melalui pembelajaran kepada orang dewasa sesungguhnya telah berjalan pada masa pendidikan dasar ini. Pola pengasuhan dengan memanfaatkan waktu pengasuhan yang ada telah diterapkan khususnya pada jam-jam diluar jam perkuliahan (Pengajaran dan Pelatihan). Proses pengasuhan berbasis keteladanan tersebut menumbuh kembangkan rasa tanggung jawab para Cabhatar, memunculkan jiwa kepemimpinan, daya kreativitas, sikap kritis, dan kerja sama diantara para Cabhatar. Keteladanan dimunculkan dari gaya memimpin para Paping khususnya terhadap satuan Cabhatar. Akan tetapi proses tersebut tidak berjalan optimal karena ketergantungan keberhasilan yang dibebankan hanya kepada Paping, disamping itu tidak semua Cabhatar dapat tercover perkembangannya dikarenakan kurangnya jumlah Paping.

Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan proses Pengasuhan dengan basis keteladanan melalui pola pembelajaran orang dewasa kepada Cabhatar Akpol diantaranya adalah : a)Para Paping tidak memiliki latar belakang pendidikan, sehingga kebanyakan gaya memimpin para Paping dalam proses Pengasuhan berjalan secara monoton dan satu arah; b)Para paping kerapkali memperlakukan peserta didik dengan tidak tepat, hal ini didasari pada ragam pengalaman Paping ketika menjadi Taruna; c)Kurangnya jumlah personel yang dibebankan tanggung jawab dalam mensukseskan proses Pengasuhan kepada para Cabhatar.

 

DAFTAR PUSTAKA

Knowles, Malcom. (1977).  The Modern Practice of Adult Education, Andragogy Versis Pedagogy. New York Association Press

———————-. (1979).  The Adult Learner: A Neglected Species. HoustonTexas: Gulf Publishing Company

Mappa, Samsu & Baslemen, Annisah. (1994).  Teori Belajar Orang Dewasa. Jakarta: Dirjend Dikti Depdikbud

Moleong Lexy J. (1993). Metodologi Penelitian kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Nasution (1988). Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito

Rothwell, J. William. (2002).  The Workplace Learner: How To Align Training Initiatives With Individual Learning Competencies.New York: United States of Amerika

Wilson, O.W.1972. Police Administration, New York, McGra-Hill Book Company

http://kompolnas.go.id/?q=pengaduan

http://id.wikipedia.org/wiki/Taksonomi_Bloom

About ferli1982

Menjalani hidup dengan riang gembira ... enjoy ur life!!!

Posted on Januari 8, 2013, in Menulis itu Indah. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada SISTEM PENGASUHAN BERBASIS KETELADANAN MELALUI POLA PEMBELAJARAN ORANG DEWASA (ANDRAGOGI) BAGI CALON BHAYANGKARA TARUNA DI AKADEMI KEPOLISIAN.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: