KAPAN AKSI TEROR BERAKHIR ?

Siap siaga mencegah terorisme

Pengertian
Berbagai aksi teror yang terjadi di Indonesia, menjadikan negara ini sebagai salah satu sarang kelompok terorisme berada. Kejadian yang menghentakkan negeri ini diawali dengan terjadinya aksi-aksi peledakan diberbagai daerah, seperti bom Kedubes Filipina (2000), bom Kedubes Malaysia (2000), bom Bali I dan II, bom JW Marriott (2003) dan masih banyak lagi kejadian teror lainnya. Terorisme selalu identik dengan kekerasan, ‘terrorism is the apex of violence’. Hal ini mengandung pengertian bahwa kekerasan bisa terjadi tanpa adanya teror, namun teror selalu diikuti dengan adanya kekerasan.
Terorisme sendiri dapat diartikan sebagai kegiatan yang melibatkan unsur kekerasan atau yang menimbulkan efek bahaya bagi kehidupan manusia yang melanggar hukum pidana, yang jelas dimaksud untuk : (1) Mengintimidasi penduduk sipil; (2) Mempengaruhi kebijakan pemerintah; dan (3) Mempengaruhi penyelenggaraan negara dengan cara penculikan atau pembunuhan. Muladi (wikipedia.org) memberikan definisi bahwa hakekat perbuatan terorisme mengandung perbuatan kekerasan atau ancaman kekerasan yang berkarakter politik.
Sedangkan Nitibaskara dalam buku ‘Ketika Kejahatan Berdaulat’ menyatakan bahwa Terorisme akar katanya teror yang berasal dari bahasa Latin “Terete yang berarti menakuti. Menurut Walter Laqueur (1996) dalam tulisannya yang berjudul “Postmodern Terorism”. terorisme didefinisikan sebagai: “substate applica¬tion of violence or threatened violence intended to sow panic in a society, to weaken or even overthrow the incumbents, and to bring about political change”. Apabila definisi ini diikuti, maka tujuan peledakan bom di Jakarta beberapa waktu belakangan memiliki garis umum kurang lebih: membuat panik masyarakat untuk mencapai tujuan politis. Beragam definisi tersebut tentu saja memiliki aspek subjektivitas dari masing-masing pengamat. Bukanlah hal mudah untuk menentukan definisi terorisme itu sendiri, hal ini dikarenakan berbagai perkembangan aksi teror yang senantiasa berubah secara dinamis dengan diiringi bermacam aksi terorisme yang berkembang pula.
Apabila kita tarik garis merah, maka semua aski terorisme senantiasa mengandung 3 (tiga) elemen penting pada setiap tindakannya, yakni : (1) Kekerasan; (2) Tujuan Politik; dan (3)Teror/Intended Audience. Pola definisi inilah yang juga dianut di Indonesia dan diatur dalam Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, dimana jika kita telaah unsur pasal mengenai definisi terorisme maka akan kita temukan 5 (lima) unsur terkait, yaitu : (1)Adanya rencana untuk melaksanakan tindakan tersebut; (2)Dilakukan oleh suatu kelompok tertentu; (3)Menggunakan kekerasan; (4)Mengambil korban dari masyarakat sipil, dengan maksud mengintimidasi pemerintah; dan (5)Dilakukan untuk mencapai pemenuhan atas tujuan tertentu dari pelaku, yang dapat berupa motif sosial, politik ataupun agama.

Terorisme Sebagai Kejahatan
Menilik dari sejarah perkembangan terorisme diberbagai belahan dunia, harus kita sadari bahwa telah terjadi perkembangan yang cukup signifikan dari setiap aksi dan tindakan terorisme yang dilakukan oleh kelompok terorisme manapun. Pada awal perkembangannya, tindakan terorisme dikategorikan sebagai Crimes Against State atau kejahatan terhadap negara. Pengkalisifikasian ini merujuk pada aksi-aksi terorisme guna meruntuhkan simbol-simbol negara seperti pembunuhan terhadap Kepala Negara dan atau pimpinan-pimpinan negara.
Terjadinya teror 11 September 2011, dimana teror dilakukan melalui serangan udara pada WTC (World Trade Center) New York dengan korban mencapai 3000 jiwa, telah merubah paradigma pengkategorian terorisme menjadi Crimes Against Humanity yang dilakukan secara sistemik serta mengarah kepada orang-orang yang tidak bersalah.
Sebagai sebuah kejahatan (crimes), tentunya membawa perbuatan teror tersebut kedalam unsur pidana yang disertai dengan peraturan perundang-undangan yang mengatur ancaman hukuman terhadap perbuatan teror tersebut. Keberadaan peraturan pidana yang mengatur mengenai tindakan terorisme tersebut merupakan wujud kewenangan negara dalam menjaga keamanan khususnya pada sisi bidang politik negara.Hal ini mengartikan, bahwa kejahatan tersebut merupakan pelanggaran terhadap ketentuan hukum negara (the contravention of the penal code of a state).
Maka dalam mengartikan ataupun mendefinisikan perbuatan teror ini harus dapat kita posisikan kedudukannya dalam membedakan kejahatan (crimes) dengan serangan (offence). Dengan membedakan hal tersebut, maka kita tidak akan terjebak kedalam dikotomi pengertian terorisme sebagai sebuah perbuatan pidana dengan terorisme sebagai perbuatan separatisme. Itu mengapa di Indonesia, penanganan aksi terorisme lebih sering mengedepankan fungsi Kepolisian dalam perlawanannya (counter terrorism) dibanding mengedepankan fungsi TNI sebagai penjaga kedaulatan dan pertahanan negara (state defence).
Dalam perkembangannya pula, terorisme termasuk kedalam kejahatan yang dilakukan oleh kelompok terorganisir (organized crime). Hal ini selaras dengan pendefinisian perbuatan terorisme dalam UU No.15 Tahun 2003, dimana terorisme ditentukan kepada kejahatan yang bersifat masal, bukan perorangan. Jika dilakukan secara perorangan maka perbuatan teror tersebut masuk kedalam ketentuan KUHP.
The Ending Of Terrorism
Lalu pertanyaan yang selalu muncul terkait aksi terorisme di Indonesia, adalah mengani Kapan terorisme ini akan berkahir?. Kematian tokoh terorisme Internasional, Osama Bin Laden, yang diklaim oleh pihak USA tewas dalam sebuah serangan pada 2011 lalu, diharapkan dapat menyurutkan berbagai aksi kejahatan terorisme didunia termasuk di Indonesia. Akankah hal tersebut terjadi? Rasanya berakhirnya aksi terorisme didunia dan di Indonesia hanyalah sebuah espektasi semu yang sangat minim dapat terwujud. Aksi terorisme khususnya dengan mengatasnamakan kelompok agama maupun kelompok kejahatan dirasa masih akan terjadi dan terus terjadi.
Terorisme sebagai sebuah kejahatan tentunya memberikan satu paradigma sosial mengenai adanya ketidak puasan oleh suatu kelompok tertentu terhadap pihak tertentu pula. Menilik pada sifat dasar manusia yang tidak akan pernah puas, maka dirasa akan selalu terjadi ‘gap-gap’ mengenai hal yang diharapkan dengan hal yang terjadi. Berbagai pengamat yang menganut aliran positivisme, mengakui bahwa akan selalu terjadi gap diantara das sollen dan das sein. Hal tersebut tidak akan pernah berkahir namun dapat diminimalisir. Gap pemisah tersebut akan bergantung daripada hatinurani (conscience) dari pada individu atau kelompok teror.
Selaras dalam pandangan positivisme tersebut, Durkheim dalam teori Anomie juga menyatakan bahwa kejahatan adalah hal yang normal disemua masyarakat dan adalah hal yang mustahil untuk menghilangkan kejahatan tersebut. Selalu ada motivasi untuk melakukan kejahatan, terlebih disaat keinginan untuk mendapatkan ‘sesuatu’ secara sah tidak lagi dapat dilakukan. Maka cara-cara illegal untuk memenuhi kebutuhan dianggap merupakan jawaban yang paling tepat dan efektif untuk dilaksanakan. Tidak hanya aliran positivisme, dalam kriminologi klasik pun menentukan bahwa kejahatan merupakan produk dari free choice seorang individu. Artinya, seorang individu akan mudah menentukan pilihan apakah dia akan berbuat kejahatan atau tidak.
Dengan demikian, keberadaan individu-individu tersebut akan semakin kuat manakala dirinya bertemu dengan individu-individu lain yang memiliki kesamaan jalan pemikiran. Akan menjadi sebuah pilihan rasional manakala individu yang memiliki suatu perasaan tertekan untuk mencari individu lainnya dengan kondisi kejiwaan yang sama. Kumpulan individu dengan perasaan jiwa yang sama inilah yang akan mengakar dan membentuk kelompok terorganisir dalam menjalankan setiap aksi terorisme tersebut.
Karenanya, dapat dibayangkan mengapa muncul individu yang berani mengorbankan nyawa sekalipun dalam menjalankan aksi teror tersebut. Bentuk aksi teror dalam tindakan bom bunuh diri, sebagaimana yang terjadi di Indonesia adalah mengejawantahan dari kumpulan individu dengan perasaan jiwa yang senasib-sepenanggungan. Rasanya sangat naif apabila dasar keagamaan dijadikan sebagai alasan untuk mengorbankan diri sendiri, karena pertentangan pun banyak terjadi manakala aksi bom bunuh diri dikategorikan kedalam perlawanan jihad terhadap segala musuh dari Islam itu sendiri.
Mengharapkan terorisme berakhir tentu adalah hal yang diinginkan oleh setiap warga negara guna mencapai keamanan dan ketertiban serta kehidupan yang penuh dengan kedamaian. Namun rasanya, aspek rasionalitas kita harus dikedepankan terlebih dengan carut marutnya kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Kesejahteraan yang kian timpang, rasa sosial yang kian pudar, serta kemiskinan yang kian merajalela akan terus menerus memberikan peluang bagi terjadinya aksi kejahatan termasuk kejahatan terhadap kemanusiaan sebagaimana yang dilakuan oleh kelompok terorganisir dalam melakukan aksi teror nya. Hukum harus dikedepankan dalam meminimalisir aksi ini, sekalipun langit runtuh. ‘Fiat Justicia Ruat Caelum’

About ferli1982

Menjalani hidup dengan riang gembira ... enjoy ur life!!!

Posted on Maret 26, 2012, in Perkembangan Kepolisian, Reserse Kriminal. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada KAPAN AKSI TEROR BERAKHIR ?.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: