MENGURAI KEMACETAN LALU LINTAS DI IBU KOTA

Bab I . PENDAHULUAN

Kemacetan, pelanggaran lalu-lintas dan kecelakaan adalah masalah yang paling sering tampak dipermukaan sebagai masalah lalu lintas. Sedangkan tata ruang, jaringan jalan, sistem transportasi moda terpadu, rencana dan kebijakan angkutan umum, populasi kendaraan, pengaturan lalu lintas, penegakan hukum, ketersediaan sumber daya dan aturan bisa dikatakan sebagai akar masalah transportasi di Jakarta. Pembahasan tentang kemacetan, selalu melibatkan masalah angkutan umum dimana seharusnya angkutan umum adalah salah satu penyelesaian masalah kemacetan di Jakarta, pemikiran yang logis jika mengingat semakin mahalnya harga BBM, tingkat polusi, dan kapasitas jalan yang terbatas. Sayangnya angkutan umum malah ditinggalkan oleh sebagian besar warga DKI Jakarta, terbukti dari tahun ke tahun semakin tingginya jumlah kendaraan pribadi dibandingkan kendaraan angkutan umum yang ada, tentu ini bukan tanpa sebab, selain kondisi angkutan umum kita yang jauh dari nyaman, aman dan tepat waktu, jumlah angkutan umum kita juga masih jauh dari ideal. Kemacetan, yang dinyatakan oleh Meneg Perencanaan Pembangunan mengakibatkan kerugian 7 Triliun rupiah setiap tahunnya, telah semakin memperburuk kondisi angkutan umum kita, kondisi macet telah mengakibatkan life time kendaraan angkutan umum semakin berkurang, apa lagi di jaman yang serba mahal membuat para pengusaha angkutan umum menekan harga perawatan kendaraannya.
Kondisi ini terlihat menjadi seperti benang kusut dan lingkaran tak berkesudahan, macet disebabkan kondisi dan pelayanan angkutan umum kemasyarakat tapi akibat macet juga menurunkan kualitas pelayanan angkutan umum ( 70.4 % masyarakat Jakarta tidak puas dengan pelayanan angkutan umum; hasil jajak pendapat Litbang Kompas September yang lalu )
sering kita lihat dari satu sisi dulu yaitu buruknya pelayanan angkutan umum terhadap masyarakat dan mencari tahu apa penyebabnya. Sering kita lihat Angkot, Metromini, Kopaja, bahkan bus-bus besar bertindak nekat melawan peraturan lalu lintas, ngetem, stop and go disembarang tempat, saling sodok, pokoknya seringkali jadi penyebab tersendatnya arus lalu lintas, membahayakan penumpangnya dan mencerminkan tidak ada disiplin dalam membawa kendaraan umumnya.

Bab II. PEMBAHASAN
Kemacetan adalah situasi atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan. Kemacetan banyak terjadi di kota-kota besar, terutamanya yang tidak mempunyai transportasi publik yang baik atau memadai ataupun juga tidak seimbangnya kebutuhan jalan dengan kepadatan penduduk, misalnya Jakarta dan Bangkok. Kemacetan lalu lintas menjadi permasalahan sehari-hari di Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan dan kota-kota besar lainnya di Indonesia.
Jumlah kendaraan di Jakarta sampai tahun 2003 mencapai 6.506.244 unit. Dari jumlah itu 1.464.626 di antaranya merupakan jenis mobil berpenumpang, 449.169 mobil beban (truk), 315.559 bus, dan 3.276.890 sepeda motor. Pertambahan paling fantastis terjadi pada jenis kendaraan sepeda motor yang pertumbuhannya mencapai ratusan ribu kendaraan pada tahun-tahun terakhir ini (tahun 2001 sepeda motor bertambah 333.510 unit, tahun 2002 bertambah 223.896 unit, tahun 2003 bertambah 365.811 unit)
Jumlah kendaraan pribadi yang lebih banyak dibanding kendaraan umum memperparah keruwetan transportasi di Jakarta. Perbandingan jumlah kendaraan pribadi dan kendaraan umum adalah 98% kendaraan pribadi dan 2% kendaraan umum. Padahal jumlah orang yang diangkut 2% kendaraan umum lebih banyak dari pada jumlah orang yang diangkut oleh 98% kendaraan pribadi. Dari total 17 juta orang yang melakukan perjalanan setiap hari, kendaraan pribadi hanya mengangkut sekitar 49,7% penumpang. Sedangkan 2% kendaraan umum harus mengangkut sekitar 50,3% penumpang. Tingginya angka perjalanan di Jakarta membuat ruas-ruas jalan tertentu mendapat beban yang terlampau berat, bahkan di atas normal. Penelitian di 34 titik jalan arteri di Jakarta yang dilakukan Departemen Perhubungan RI pada tahun 2000 menunjukkan ada 32 titik (94%) ruas jalan arteri di Jakarta yang melebihi kapasitas. Artinya, tak ada jalan arteri di Jakarta yang bebas dari macet.

Pada jam sibuk pagi dan sore, lalu lintas di jalan-jalan utama Kota Jakarta hanya bergerak 12 km/jam. Hujan deras akan langsung melumpuhkan urat nadi lalu lintas kota. Dampaknya fantastis: kerugian sosial yang diderita masyarakat lebih dari 17,2 triliun rupiah per tahun akibat pemborosan nilai waktu dan biaya operasi kendaraan (terutama bahan bakar). Belum lagi emisi gas buang diperkirakan sekitar 25.000 ton per tahun. Dampak pada tahap selanjutnya adalah menurunnya produktivitas ekonomi kota (bahkan negara) dan merosotnya kualitas hidup warga kota.
Penelitian yang pernah dilakukan Japan International Corporation Agency (JICA) dan The Institute for Transportaion and Development Policy (ITDP) menunjukkan bahwa jika tidak ada pembenahan sistem transportasi umum, maka lalu lintas Jakarta akan mati pada tahun 2014. Perkiraan kematian lalu lintas Jakarta pada tahun 2014 itu didasarkan pada pertumbuhan kendaraan di Jakarta yang rata-rata per tahun mencapai 11% sedangkan pertumbuhan panjang jalan tak mencapai 1%. Tercatat, setiap hari ada 138 pengajuan STNK baru yang berarti di setiap harinya Jakarta membutuhkan penambahan jalan sepanjang 800 meter.
Kemacetan dapat terjadi karena beberapa alasan:
• Arus yang melewati jalan telah melampaui kapasitas jalan
• Terjadi kecelakaan lalu-lintas sehingga terjadi gangguan kelancaran karena masyarakat yang menonton kejadian kecelakaan atau karena kendaran yang terlibat kecelakaan belum disingkirkan dari jalur lalu lintas,
• Terjadi banjir sehingga kendaraan memperlambat kendaraan
• Ada perbaikan jalan,
• Bagian jalan tertentu yang longsor,
• kemacetan lalu lintas yang disebabkan kepanikan seperti kalau terjadi isyarat sirene tsunami.

Kemacetan lalu lintas memberikan dampak negatif yang besar yang antara lain disebabkan Kerugian waktu, karena kecepatan perjalanan yang rendah
• Pemborosan energi, karena pada kecepatan rendah konsumsi bahan bakar lebih rendah,
• Keausan kendaraan lebih tinggi, karena waktu yang lebih lama untuk jarak yang pendek, radiator tidak berfungsi dengan baik dan penggunaan rem yang lebih tinggi,
• Meningkatkan polusi udara karena pada kecepatan rendah konsumsi energi lebih tinggi, dan mesin tidak beroperasi pada kondisi yang optimal,
• Meningkatkan stress pengguna jalan,
• Mengganggu kelancaran kendaraan darurat seperti ambulans, pemadam kebakaran dalam menjalankan tugasnya
Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk memecahkan permasalahan kemacetan lalu lintas yang harus dirumuskan dalam suatu rencana yang komprehentip yang biasanya meliputi langkah-langkah sebagai berikut, salah satu langkah yang penting dalam memecahkan kemacetan adalah dengan meningkatkan kapasitas jalan/parasarana seperti:
1. Memperlebar jalan, menambah lajur lalu lintas sepanjang hal itu memungkinkan,
2. Merubah sirkulasi lalu lintas menjadi jalan satu arah,
3. Mengurangi konflik dipersimpangan melalui pembatasan arus tertentu, biasanya yang paling dominan membatasi arus belok kanan.
4. Meningkatkan kapasitas persimpangan melalui lampu lalu lintas, persimpangan tidak sebidang/flyover,
5. Mengembangkan inteligent transport sistem. Seperti terlihat dalam photo.

Jalur Bus Transjakarta (Busway)
Untuk meningkatkan daya dukung jaringan jalan dengan mengoptimalkan kepada angkutan yang efisien dalam penggunaan ruang jalan antara lain:
1. Pengembangan jaringan pelayanan angkutan umum
2. Pengembangan lajur atau jalur khusus bus ataupun jalan khusus bus yang di Jakarta dikenal sebagai Busway,
3. Pengembangan kereta api kota, yang dikenal sebagai metro di Perancis, Subway di Amerika, MRT di Singapura
4. Subsidi langsung seperti yang diterapkan pada angkutan kota di Transjakarta, Batam ataupun Jogjakarta maupun tidak langsung melalui keringanan pajak kendaraan bermotor, bea masuk kepada angkutan umum,
Langkah ini biasanya tidak populer tetapi bila kemacetan semakin parah harus dilakukan manajemen lalu lintas yang lebih ekstrim sebagai berikut:
1. Pembatasan penggunaan kendaraan pribadi menuju suatu kawasan tertentu seperti yang direncanakan akan diterapkan di Jakarta melalui Electronic Road Pricing (ERP). ERP berhasil dengan sangat sukses di Singapura, London, Stokholm. Bentuk lain dengan penerapan kebijakan parkir yang dapat dilakukan dengan penerapan tarip parkir yang tinggi di kawasan yang akan dibatasi lalu lintasnya, ataupun pembatasan penyediaan ruang parkir dikawasan yang akan dibatasi lalu lintasnya,
2. Pembatasan pemilikan kendaraan pribadi melalui peningkatan biaya pemilikan kendaraan, pajak bahan bakar, pajak kendaraan bermotor, bea masuk yang tinggi.
3. Pembatasan lalu lintas tertentu memasuki kawasan atau jalan tertentu, seperti diterapkan di Jakarta yang dikenal sebagai kawasan 3 in 1 atau contoh lain pembatasan sepeda motor masuk jalan tol, pembatasan mobil pribadi masuk jalur busway.
Ada juga beberapa pertanyaan tentang sopir angkutan publik, kenapa para supir ( Paramudi ) Trans Jakarta, cendrung lebih tertib ? lebih mengikuti aturan ? Dari banyak faktor yang membedakan supir angkutan umum dengan paramudi bus Trans Jakarta, maka faktor sistim penggajian adalah yang paling membedakan, jika Paramudi Trans Jakarta digaji tetap 1,2 Juta Rupiah perbulan ditambah 40 ribu tunjangan per hari kerja, maka supir angkutan umum yang lain mendapat hasil dari berapa banyak penumpang yang bisa dia bawa, dipotong setoran wajib, uang bensin + Sumbangan Sukarela dari oknum petugas di jalan. Jadi jelas ada perbedaan orientasi dalam mengemudi, kalo Paramudi bus Trans Jakarta sudah bisa berorientasi kepada pelayanan public ( walau masih banyak cacat disana sini ) berbeda dengan pengemudi angkutan umum lainnya yang cenderung kearah bagaimana mendapat penumpang sebanyak banyaknya, tidak perduli kenyamanan penumpangnya. Seorang awak angkutan umum, dalam suatu debat public tentang transportasi mengatakan bahwa jika para supir angkutan umum bisa mendapat gaji seperti paramudi bus Trans Jakata, dia menjamin pelayanan dari angkutan umum yang lainpun bisa, setidaknya menyamai bus Trans Jakarta. Berarti harus ada subsidi dari Pemda DKI kepada seluruh pengemudi angkutan umum Jakarta, bisakah ?, mari kita berhitung. Menurut Organda ada 6.500 bus besar, 14.000 bus kecil, dan hanya 30 % nya saja yang beroperasi, tanpa menghitung keberadaan Taksi, berarti hanya ada 6500 kendaraan angkutan umum yang beredar di Jakarta, angka inipun diyakini masih terlalu besar jika dibandingkan dengan kenyataan yang ada, mengingat mahalnya biaya peremajaan angkutan umum, anggap saja ada 6000 unit kendaraan angkutan umum yang real beroperasi, jika Pemerintah harus mensubsidi rata-rata 1 juta rupiah perbulannya, maka berarti pemerintah harus mensubsidi sebesar 6 Miliar perbulan, atau 72 Miliar pertahun, masih jauh lebih kecil dari biaya kemacetan sebesar 7 Triliun pertahun ! – walau data yg digunakan tahun 2003, tapi pertumbuhan kendaraan angkutan umum tidak berubah banyak hingga tahun ini, skemanya pendanaannya pemerintah bisa menaikan tarif pajak kepemilikan kendaraan pribadi, menerapkan pajak kemacetan ( Road Pricing ), dll.
Bab III. P E N U T U P
Dengan dilatar belakangi Penelitian yang pernah dilakukan Japan International Corporation Agency (JICA) dan The Institute for Transportaion and Development Policy (ITDP) menunjukkan bahwa jika tidak ada pembenahan sistem transportasi umum, maka lalu lintas Jakarta akan mati pada tahun 2014. Perkiraan kematian lalu lintas Jakarta pada tahun 2014 itu didasarkan pada pertumbuhan kendaraan di Jakarta yang rata-rata per tahun mencapai 11% sedangkan pertumbuhan panjang jalan tak mencapai 1%. Tercatat, setiap hari ada 138 pengajuan STNK baru yang berarti di setiap harinya Jakarta membutuhkan penambahan jalan sepanjang 800 meter, untuk menanggulangi kemacetan perlu upaya secara bersama-sama oleh semua pihak yang terkait baik dari Departemen Perhubungan, Kepolisian, Departemen sosial, Dinas Pekerjaan Umum maupun masyarakat pengguna jalan khususnya di Ibu kota Jakarta, pemerintah harus benar-benar memberikan perhatian khusus terhadap masalah-masalah lalu lintas tersebut. Sudah banyak korban akibat kecelakaan lalu lintas yang diakibatkan kemacetan yang semakin hari semakin meningkat, sehingga diperlukan solusi-solusi yang dapat memecahkan permasalahan lalu lintas di Indonesia.
Perlu diadakan pengkajian-pengkajian khusus terutama oleh orang-orang yang mempunyai kompetensi dibidang lalu lintas dan pemerintah seharusnya mempertimbangkan saran – saran yang diberikan, karena pemerintah terkesan sering mengabaikan masukan-masukan dari beberapa ahli dan lebih mengutamakan mengambil keuntungan terhadap pembangunan gedung-gedung ataupun mall-mall walaupun secara AMDAL tidak sesuai khususnya telaahan mengenai kemacetan lalu lintas akibat pembangunan tersebut.

About ferli1982

Menjalani hidup dengan riang gembira ... enjoy ur life!!!

Posted on Februari 8, 2012, in Administrasi Kepolisian, Perkembangan Kepolisian. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada MENGURAI KEMACETAN LALU LINTAS DI IBU KOTA.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: