Singapore Police Force (SPF) HEADQUARTER

Markas Besar Kepolisian Singapura terletak di sebuah area yang dinamakan New Phoenik Park (NPPK). Di lokasi ini terdapat sebuah gedung dengan dua tower yang satu digunakan untuk Kementerian Dalam Negeri dan Markas Besar Kepolisian di tower yang lainnya. Di mabes ini kepada peserta dipresentasikan sekilas tentang kepolisian Singapura. Kepolisian Singapura memiliki level organisasi yang cukup sederhana. Di tingkat pemerintah pusat terdapat markas besar, membawahi 6 land division, kemudian di bawah land division terdapat beberapa Neigbourhood Police Center (NPC) dan sejumlah Neigbourhood Police Post (NPP). Kepolisian Singapura dipimpin oleh seorang Comissioner Polisi. Kepolisian di tingkat Mabes lebih bersifat pembina admistratif, bertugas dan bertanggung jawab dalam menetapkan kebijakan-kebijakan yang selanjutnya dioperasionalkan oleh satuan kewilayahan. Kecuali misalnya penyidikan tindak pidana yang bersifat nasional atau besar maka Department of Criminal Investigation akan mengambil alihnya.

Study Visit Singapura



Komposisi personil kepolisian Singapura tergolong unik dibandingkan dengan komposisi Polri. Di Singapura setiap warga negara yang telah mencapai usia 18 tahun wajib masuk ke salah satu dari tiga instansi pemerintah yaitu, kepolisian (SPF), tentara (Army) , atau SCDF (Singapore Civil Defence Force). Komposisi SPF terdiri dari :

  1. Regulars : adalah personil yang direkrut secara permanen sebagai anggota inti kepolisian Singapura.
  2. Civilians : adalah personil sipil yang direkrut dalam mendukung pekerjaan staf dan administrasi kepolisian.
  3. Volunteers : adalah warga negara yang secara suka rela dapat membantu tugas kepolisian, sifatnya temporer dan digaji kecil.
  4. PNSF (Police National Staff Force) : adalah warga negara yang menjalani wajib polisi selama dua tahun.
  5. PNSmen (Police National Staffmen) : adalah tenaga cadangan, merupakan warga negara yang telah menyelesaikan wajib polisi selama dua tahun (PNSF). Sewaktu-waktu negara membutuhkan mereka dapat dipanggil kembali.

 

Kepolisian Singapura menerapkan tiga strategi utama dalam menjalankan tugas-tugasnya serta untuk membangun kerjasama dengan publik, yaitu dengan:

  1. 1. Enhancing Operational Capability (Meningkatkan kemampuan operasional)
  2. 2. Building Organisational Resilience (Membangun ketahanan organisasi)
  3. 3. Strengthening Comunity Partnership (Memperkuat kemitraan dengan masyarakat)

Strategi utama kepolisian Singapura

Strategi pertama, diimplementasikan dengan melaksanakan operasi gabungan antara intelejen dan penyidik. Dalam pengungkapan sebuah kasus, kerjasama antar bagian ini dinilai sangat penting untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Kepolisian Singapura juga didukung dengan peralatan teknologi yang modern. Setiap sudut jalan dilengkapi dengan CCTV, demikian juga dengan seluruh kendaraan patroli yang mengusung teknologi GPS (Global Positioning System) didalamnya. Sehingga mudah bagi operator di ruangan untuk memonitor dan menginformasikan suatu kejadian kepada unit operasional di lapangan.

Setiap petugas patroli dilengkapi dengan peralatan kepolisian tradisional hingga peralatan yang mutakhir. Mulai dari tongkat polisi, borgol, radio telekomunikasi, dan senjata api. Senjata api yang digunakan adalah jenis revolver yang telah dimodifikasi dengan ditambahkan laser point untuk menjaga akurasi tembakan petugas. Selain senjata api petugas dilengkapi juga dengan taser gun.
Taser gun adalah alat setrum yang menghasilkan listrik ribuan volt, dengan ampere yang sangat kecil, sehingga menghasilkan daya kejut ke aliran listrik di otak jika disentuhkan ke makhluk hidup, tanpa mematikan atau membuat cacat permanen. Alat ini dapat menghasilkan suara yang keras dan setrum yang dapat membuat seseorang terkejut dan shock sesaat. Penggunaan taser gun sehingga tidak mematikan. Kejutan ke otak ini membuat orang linglung beberapa detik sampai 1-2 menit sehingga memberi waktu untuk petugas melumpuhkannya.

Strategi ketiga Strengthening Comunity Partnership, merupakan adopsi implementasi sistem koban di Jepang (Polmas di Indonesia). Program ini dimulai sekitar tahun 1980an dengan mengedepankan kerjasama polisi dengan masyarakat. Setelah hampir 20 tahun dijalankan sistem ini, kepolisian singapura baru mendapati hasil yang cukup memuaskan. Data yang diperolah menyebutkan angka kejahatan dapat ditekan dan angka pengungkapan kasus dapat ditingkatkan. Pada awalnya memang sulit untuk membuat warga masyarakat aware tentang masalah keamanan dan kenyamanan (security and safety). Namun saat ini warga Singapura telah merasa bahwa keamanan dan kenyamanan merupakan bagian dari tanggung jawab mereka. Sehingga kerjasama dengan aparat kepolisian merupakan hal yang sangat penting.

 

About ferli1982

Menjalani hidup dengan riang gembira ... enjoy ur life!!!

Posted on Maret 28, 2011, in Menulis itu Indah. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada Singapore Police Force (SPF) HEADQUARTER.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: