CLASSICAL CRIMINOLOGY vs POSITIVIST CRIMINOLOGY

 

Pertanyaan :
Berikan pilihan pandangan saudara mengenai mana yang lebih baik antara Classical Criminology dengan Positivist Criminology,buat argumen nya serta contoh kasus nya!

Jawab :
Pada prinsipnya kedua pandangan ini adalah baik,namun jika dilihat dari kenyataan saat ini,saya cenderung untuk memilih pandangan Positivist Criminology.

Konsep pandangan Classic Criminology yang memandang sebuah kejahatan sebagai hasil pikiran seseorang yang dilakukan nya secara rasional dengan adanya sebuah kehendak bebas (free will) yang diikuti dengan kebebasan memilih (free choice) lebih menunjukkan kesengajaan untuk melakukan kejahatan.Bahwa kejahatan adalah hasil pilihan seseorang untuk berbuat atau tidak berbuat.Seseorang tersebut sesungguhnya telah mengetahui akibat dari setiap keputusannya terhadap pilihan yang diambilnya.
Ancaman hukuman dimunculkan sebagai konsekuensi dari pilihan berbuat kejahatan, yang dikenakan kepada seseorang yang berbuat kejahatan tanpa melihat faktor-faktor dari luar diri penjahat tersebut dalam melakukan perbuatannya.Sehingga cenderung hukuman dikenakan tidak memperhitungkan jenis kelamin,ras,umur,dan sebagainya. Bahwa semua tindakan kejahatan yang melanggar hukum yang berlaku , dikenakan terhadap siapa saja yang memenuhi unsur kejahatan tersebut.
Konsep pandangan Positivist Criminology adalah sebaliknya,bahwa seseorang sesungguhnya tidak benar-benar memiliki kebebasan untuk berbuat atau tidak berbuat suatu kejahatan.Ada determinasi atau faktor-faktor dari luar diri seseorang tersebut yang membuatnya tidak memiliki kebebasan untuk memilih.Sehingga terjadi konsep sebab-akibat dalam diri seseorang yang berbuat kejahatan.Faktor tersebut berada diluar akal manusia,yakni biologis nya dan situasi kultural nya seperti kemiskinan,pendidikan, lingkungan sosialnya dan lain-lain.

Saya lebih memilih pandangan Positivist karena hal tersebut sangat sesuai dengan apa yang terjadi di Indonesia saat ini.Pandangan klasik layaknya sebuah penerapan hukum yang tidak memenuhi rasa keadilan sosial dalam masyarakat.Seseorang berbuat kejahatan adalah pilihan dirinya sendiri,tapi apa yang menyebabkan dia memilih perbuatan tersebutlah yang seharusnya ditelusuri.
Contoh kasus yang telah terjadi seperti halnya kasus pencurian semangka di Kediri, kasus pencurian kakau mbok minah di Banyumas dan kasus-kasus lainnya.Bahwa unsur pidana mengenai pencurian telah terpenuhi sesuai dengan KUHP atau undang-undang yang berlaku adalah tepat,tetapi mengapa sampai mbok Minah dkk melakukan tindakan tersebut (kausalitas) atau mengapa sampai itu terjadi? Ternyata tidak semata-mata karena keinginan murni dari mereka untuk berbuat kejahatan.Hal itu lebih menunjukkan bahwa mereka ‘terpaksa’ untuk mengambil pilihan tersebut (untuk berbuat kejahatan).Bahwa semua orang sama didepan hukum (equality before the law) adalah patut untuk ditegakkan namun tidak secara kaku,artinya unsur ‘kesamaan’ bagi semua orang adalah berbeda karena faktor-faktor yang mengikuti nya pun pasti berbeda.

Seorang anak kecil mencuri duit orang tuanya adalah perbuatan kejahatan,dan perbuatan tersebut adalah hasil pemikiran,hasil pilihan yang diambil anak tersebut.Padahal anak itu akan tahu bahwa jika orang tuanya mengetahui perbuatannya dia pasti akan kena marah.Tetapi apakah orang tuanya mengerti alasan anak itu melakukan perbuatan tersebut? Jika pada kenyataanya si anak mencuri uang karena ketakutan akibat selalu dimintai uang oleh teman-temannya yang nakal,atau dia ingin membeli buku pelajaran namun takut untuk minta uang kepada orang tuanya,atau karena dia ingin membeli mainan anak akibat iri melihat teman-temannya selalu membeli mainan anak setiap harinya,dan masih sangat banyak faktor luar yang bisa menjadi penyebab anak itu melakukan kejahatan tersebut.

Diluar itu semua,dalam pandangan saya,pandangan positivist juga harus diiringi dengan pembaharuan-pembaharuan ancaman hukuman.Karena jika tidak,seseorang dapat saja membuat berbagai alasan untuk berbuat kejahatan.Karena nya,hukuman kepada seseorang harus selalu ada dan diterapkan,tetapi harus didengarkan juga alasan-alasan yang mengikuti mengapa sampai perbuatan kejahatan itu bisa terjadi,sehingga hukum akan selalu dihormati,ditaati,dan selalu ada ancaman hukuman bagi setiap pelanggarnya.Pemenuhan rasa keadilan masyarakat sebagai salah satu tujuan hukum dibentuk harus senantiasa diperhatikan,karena jika tidak penerapan pandangan positivist ini justru akan meningkatan terjadi kejahatan akibat dari banyak alasan-alasan yang dibuat-buat atau tidak dapat dibuktikan.

About ferli1982

Menjalani hidup dengan riang gembira ... enjoy ur life!!!

Posted on Januari 7, 2011, in Makalah Lepas, Menulis itu Indah, Perkembangan Kepolisian. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada CLASSICAL CRIMINOLOGY vs POSITIVIST CRIMINOLOGY.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: