Kriminologi & Viktimologi

Delapan Pengedar Ganja ditangkap

Selasa, 16 Sep 2008 08:26:50

JOGJA — Anggota Unit II Sabt Narkoba Poltabes Jogja, Sabtu (13/) pukul 14.30 dan Minggu (14/9) pukul 10.30 meringkus delapan pengguna dan pengedar ganja, empat diantaranya ditangkap dalam sebuah penggerebekan di sebuah rumah di Dusun Karongan, Jogortito, Berbah, Sleman. Sedangkan empat tersangka lainnya ditangkap di empat lokasi berbeda, yakni di Piyungan, Prabanan, Bantul, Tambakbayan dan di Perumahan Babarsari, Caturtunggal, Sleman.

Dalam penangkapan itu petugas berhasil mengamankan 1 ons ganja dibungkus koran, 16 paket ganja siang edar dan sejumlah puntung rokok yang sudah dicampur daun ganja.Barang bukti itu, kini diamankan di Mapoltabes Jogja.  Awalnya, anggota Unit II Sat Narkoba Poltabes Jogja dipimpin IptuFerli Hidayat, Sabtu (13/9) pukul 10.20 menggerebek sebuah rumah yang dijadikan ajang pesta ganja di Dusun Karongan, Jogotiro, Berbah, Sleman. Dalam penggerebekan, petugas berhasil mengamankan empat tersangka Sup, Pan, Ism dan Pan. Dalam pemeriksaan terhadap ke empat tersangka, mereka menyebut nama Yud warga, Jetis, Jogja yang diduga sebagai pengendar ganja. Setelah berhasil menangkap Yud, ia pun menyebut kembali nama lain. Dan petugas akhirnya meringkus Irw pada Minggu (14/9) pukul 06.00. Satu jam kemudian, giliran Luk ditangkap, selang dua jam kemudian, Agu diringkus.  Kapoltabes Jogja, Kombes Polisi Drs Agus Sukamso MSi didampingi Kasat Narkoba, Kompol Saiful Anwar SSos SIK dan Iptu Ferli Hidayat kepada Bernas Jogja, Minggu malam mengatakan, informasi berharga dari warga ditindak lanjuti ke penyelidikan. “Sehingga akhirnya kita berhasil meringkus delapan orang itu,” katanya. (hri) .

( dikutip dari http://www.bernas.co.id/news/CyberMetro/METRO/6384.htm tanggal Agustus 2010 )

Yogyakarta si kota pendidikan

Membaca pemberitaan media diatas, ingatan saya kembali terulang pada kejadian dua tahun yang lalu. Ketika itu saya bertugas di Poltabes Yogyakarta sebagai Kepala Unit II Satuan Narkoba.Yogyakarta sebagai sebuah daerah istimewa memiliki luas wilayah 3.185,80 km2 merupakan dambaan hampir semua pelajar di Indonesia untuk meneruskan jenjang pendidian mereka. Kondisi ini menyebabkan Yogyakarta dipadati oleh beragam pelajar dari berbagai daerah di Indonesia.Namun pada kenyataanya, kondisi ini pulalah yang menyebabkan dan memunculkan kerawanan khususnya terkait dengan tindak pidana kejahatan narkoba. Sebagai dilansir dalam situs resmi Badan Narkotika Nasional, Yogyakarta merupakan provinsi dengan tingkat kerawanan peredaran gelap narkoba yang cukup tinggi,bahkan sejak 2004 kota Yogyakarta tidak pernah lepas dari posisi sepuluh besar kota paling rawan akan peredaran gelap narkoba.Hal ini tentu saja menjadi sebuah pekerjaan berat bagi kami aparat Kepolisian untuk senantiasa menjaga,mencegah dan memberantas peredaran gelap narkoba khususnya yang seringkali melibatkan kalangan pelajar di kota ini.

Pada setiap tahunnya,Poltabes Yogyakarta menangani rata-rata seratus lebih kasus penyalahgunaan narkoba sejak tahun 2004. Bahkan di tingkat Polda DIY, satuan narkoba Poltabes Yogyakarta hampir selalu menempati urutan pertama dalam pelaksanaan pengungkapan kasus ini.Situasi ini terjadi dengan mengingat bahwa kasus tindak pidana narkoba yang ditangani oleh institusi Kepolisian dapat dilakukan disemua wilayah hukum Polda tersebut atau dengan kata lain tindak pidana narkoba tidak mengenal locus/tempat dimana terjadinya kejadian ini.Karenanya satuan narkoba Poltabes dapat melakukan penangkapan terhadap tersangka penyalahgunaan narkoba diseluruh wilayah hukum Polda DI Yogyakarta,tentu saja pelaksanaanya dengan senantiasa berkoordinasi dengan kesatuan polisi di daerah tersebut.

Fokus utama dari polisi secara khusus ditujukan kepada pelaku yang berasal dari kalangan pelajar di wilayah Yogyakarta,ini selaras dengan target pemda Yogyakarta melalui Badan Narkotika Propinsi (BNP) dan Badan Narkotika Kota/Kabupaten (BNK) Provinsi Yogyakarta untuk menjadikan Yogyakarta bebas narkoba 2012.Namun demikian bukan berarti pelaku penyalahgunaan diluar pelajar/mahasiswa tidak dilakukan tindakan penegakan hukum,hal itu tetap dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.Tindak pidana penyalahgunaan narkoba di Yogyakarta memang cukup unik,hal ini dikarenakan modus yang digunakan oleh para pelaku memang cukup berbeda dengan kebanyakan wilayah di Indonesia,dimana antara penjual dan pembeli sama sekali tidak berjumpa .

Analisis Kasus

Berbicara mengenai korban kejahatan narkoba memang berbeda dengan pengertian korban dari sisi Reserse Kriminal (reskrim).Pada kejahatan pidana yang ditangani satuan reskrim,umumnya korban adalah pihak yang dirugikan akibat dari suatu tindak pidana, semisal contoh A telah mencuri barang B, maka pihak B adalah pihak yang dikatakan sebagai korban dari tindak pidana pencurian (362 KUHP). Namun tidak demikian dengan kejahatan narkoba, dimana pelaku penyalahgunaan adalah juga dikatakan sebagai korban. Karenanya dalam kejahatan ini antara tersangka dengan korban memiliki pengertian yang nyaris sama,perbedaanya adalah perbuatan yang mengiringi mengapa sampai kejahatan tersebut (penyalahgunaan narkoba) itu terjadi. Akan tetapi, penggunaan kata “korban” dalam undang-undang tentang Narkotika No 22 tahun 1997 dan undang-undang tentang narkotika No 5 Tahun 1997 tidak diatur secara jelas. Hal ini diartikan bahwa semua pelaku penyalahgunaan tindak pidana kejahatan narkoba yang juga berarti korban kejahatan ini, dikenakan dengan penerapan pasal yang sama atau tidak ada toleransi terhadap korban kejahatan narkoba apapun perbuatan yang mengiringinya. Sehingga bisa dibayangkan, bahwasanya tidak ada perbedaan antara seorang tersangka yang sudah lama menggunakan narkoba dengan seorang korban kejahatan narkoba yang baru pertama kali menggunakan narkoba.

Pada kasus yang penulis sampaikan dihalaman pertama, penggerebekkan yang saya lakukan kali pertama adalah di Dusun Karongan, Jogotiro, Berbah, Sleman. Dalam penggerebekan tersebut, kami berhasil mengamankan  empat tersangka Sup, Pan, Ism dan Pan. Sesungguhnya keempat tersangka (atau juga korban) adalah korban penyalahgunaan narkoba,penulis menyimpulkan hal tersebut dengan melihat jumlah barang bukti narkoba yang hanya berupa lintingan ganja saja, kemudian pada pengecekkan urin (air seni) yang kami lakukan di Bid Dokes Polda DIY terlihat pada alat penguji bahwa tanda mengenai positif terlihat cukup samar (test kit),pada hal keempat tersangka/korban itu baru saja menghisap ganja.Waktu yang kami gunakan untuk melakukan uji urin tidaklah sampai satu jam setelah penangkapan,artinya setelah kami berhasil meringkus para tersangka tersebut dengan barang bukti puntungan lintingan ganja kami langsung membawanya menuju Bid Dokes untuk pengetesan urin. Pengalaman yang saya dapatkan dan menurut pengakuan dokter penguji,hasil samar pada alat test kit menunjukkan bahwa mereka bukanlah pengguna narkoba yang rutin atau dengan kata lain mereka adalah para remaja yang baru menggunakan ganja untuk kali pertama. Keyakinan saya ditambah lagi dengan pengakuan keempat tersangka/korban tersebut bahwa mereka baru kali itu mencoba menghisap ganja karena rokok berlintingan ganja tersebut diberikan secara cuma-cuma oleh orang yang mereka kenal dengan nama Yud warga jetis yang akhirnya langsung dilakukan penangkapan oleh kami para petugas.Akhirnya Yud mengaku membeli barang itu dari Luk ,tersangka terakhir ini lalu menyebutkan nama Agu sebagai bandar besar.Akhirnya keempat tersangka selanjutnya berhasil kami ringkus dengan barang bukti yang beragam. Dalam pemeriksaan, tersangka Yud mengakui bahwa dia telah memberikan lintingan ganja tersebut secara cum-cuma kepada  Sup, Pan, Ism dan Pan dengan harapan setelah diberikan ganja tersebut mereka akan ketagihan dan bisa menjadi langgannya tersangka Yud.Dia pun mengakui bahwa itu kali pertama dia dia berikan kepada keempat tersangka/korban.

Ketidak-Pekaan Polisi (saya)

Pada kasus tersebut, sebagai seorang Kepala Unit saya memiliki kewenangan untuk membuat keputusan yang berdimensi diskresi Kepolisian.Saya menyebutkan sebagai bentuk diskresi kepolisian karena undang-undang tidak mengatur hal itu. Namun pada kenyataanya kedelapan tersangka tersebut kasus nya semua dilanjutkan pada tingkat penyidikan dan divonis bersalah secara sah didepan pengadilan.

Dalam Routine Activities Theory oleh Cohen dan Felson (1979) dikatakan bahwa kejahatan dapat terjadi ketika terdapat tiga kondisi sekaligus yakni : Target yang tepat, Pelaku yang termotivasi,dan Ketidak adaan pengamanan. Target yang tepat karena keempat tersangka itu adalah remaja/pelajar yang berasal dari kalangan kelas bawah.Tingkat pendidikan mereka bisa dikatakan rendah karenanya kemungkinan mereka untuk terbujuk menggunakan ganja sangatlah besar,disamping itu tingkat kematangan berpikir mereka juga masih rentan dengan kebiasaan ‘coba-coba’ yang membawa mereka pada suatu keinginan untuk menggnakan ganja. Selanjutnya, terdapat pelaku yang termotivasi dalam hal ini adalah tersangka Yud, dimana dia sangat ingin untuk menjadikan keemapat tersangka pertama itu sebagai korban untuk keinginan/keuntungan pribadi,dimana tersangka Yud berharap keempat korban itu kelak akan menjadi langganan/konsumen setia yang akan selelalu membeli ganja kepadanya,tentu saja dia akan mendapatkan keuntungan dari hasil penjualan ganja selanjutnya. Yang terkahir adalah ketidak adaan pengamanan,dalam hal ini kontrol sosial baik dari keluarga keempat korban,lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat juga rendah,ini ditambah lagi kurangnya sosialisasi mengenai penyalahgunaan ganja di lingkungan Berbah,Sleman oleh pihak terkait seperti pemerintah daerah maupun kepolisian.

Seharusnya keempat tersangka tersebut bisa saya jadikan korban sebagaimana mestinya dengan menggunakan mekanisme diskresi Kepolisian artinya bisa saja saya merujuk keempat tersangka tersebut untuk di rekomendasikan kembali kepada keluarga sebagai alat kontrol sosial yang paling efektif,hal ini dikarenakan tingkat kesalahan tersangka/korban Sup, Pan, Ism dan Pan tidak sebanding dengan Yud,Irw,Luk,dan Agu yang berbuat sebagai pengguna dan pengedar ganja. Bisa dibayangkan untuk perbuatan yang kali pertama Sup, Pan, Ism dan Pan lakukan mereka sudah harus menanggung akibat yang tidak sedikit dengan dihadapkan kepada vonis pengadilan.

Penutup

Kejadian tersebut sungguh menjadi pembelajaran kepada saya pribadi,karena pelaku yang bisa disebut sebagai tersangka selayaknya tidak sama dengan pelaku yang dikategorikan sebagai korban.Namun kejadian tersbut juga menjadi masukkan kepada pembuat undang-undang bahwa celah terhadap terjadinya ketidak adilan terhadap korban masih cukup besar pada kejahatan narkotika.

Beruntung,sejak saya masuk mengikuti pendidikan di kampus PTIK,pemerintah mulai memberlakukan UU No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dimana pada pasal 54 undang-undang ini dikatakan bahwa Yang dimaksud dengan “korban penyalahgunaan Narkotika” adalah seseorang yang tidak sengaja menggunakan Narkotika karena dibujuk, diperdaya, ditipu, dipaksa, dan/atau diancam untuk menggunakan Narkotika”. Pasal ini mulai membedakan perlakuan cara penanganan antara pelaku penyalahgunaan sebagai tersangka dengan pelaku penyalahgunaan yang dikategorikan sebagai korban kejahatan narkoba.Namun nasi sudah menjadi bubur, Sup,Pan,Ism dan Pan telah melewati sebagian masa remaja mereka didalam sel Rutan Wirogunan Yogyakarta walau sesungguhnya mereka adalah korban kejahatan narkoba.Sungguhpun hukum harus ditegakkan,namun rasa keadilan yang hidup dan berlaku dalam masyarakat tidak bisa secara serta merta ditinggalkan dan Polisi sebagai penyidik yang paling berwenang dalam hal ini harus senantiasa memperhatikan dan mencermati hal tersebut.

“Fiat Justicia Ruat Caelum”  …. Tegakkan Keadilan Meskipun Langit Runtuh…!!!

About ferli1982

Menjalani hidup dengan riang gembira ... enjoy ur life!!!

Posted on Januari 6, 2011, in Makalah Lepas, Narkoba. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada Kriminologi & Viktimologi.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: