Jakarta and Global Warming

I. PENDAHULUAN

a. Latar Belakang

Pembangunan Nasional merupakan rangkaian upaya pembangunan yang berkesinambungan serta meliputi keseluruhan aspek kehidupan masyarakat Indonesia , hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan dalam Pembukaan UUD 1945. Pembangunan memang menjadi hal mutlak yang harus dilakukan setiap negara  agar dapat memenuhi kesejahteraan tiap-tiap warga negara Indonesia.

Pada tahun 1982, PBB menyelenggarakan Konferensi mengenai lingkungan hidup di Nairobi,Kenya. Dalam Konferensi ini diusulkan mengenai pembentukan suatu komisi yang bertujuan untuk melakukan suatu kajian tentang arah pembangunan dunia, maka kemudian terbentuklah WCED (World Commision on Environment and Development). Komisi ini pulalah yang mencetuskan istilah Sustainable Development dalam suatu dokumen Our Common Future. Pembangunan berkelanjutan dirumuskan sebagai pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan hak pemenuhan kebutuhan generasi mendatang.Atau dengan kata lain, pembangunan berkelanjutan memiliki makna jaminan mutu kehidupan manusia dan tidak melampaui kemampuan ekosistem untuk mendukungnya.

Bagi kebanyakan masyarakat Indonesia yang awam akan arti pentingnya sebuah lingkungan, maka didalam pandangannya,lingkungan hanyalah objek sederhana yang sekedar terkait dengan flora dan fauna.Padahal sesungguhnya, ruang lingkup lingkungan amat sangat luas daripada hal tersebut, yakni menyangkut keseluruhan entitas dimana semua mahluk hidup berada.Dalam konteks pembangunan dan pemberdayaan masyarakat,segala aktivitas dan kegiatannya tidak bisa mengesampingkan eksistensi lingkungan pada titik dan batas tertentu.Benar adanya bahwa pembangunan harus dilakukan namun demikian hal tersebut jangan dijadikan sebagai sebuah alasan guna merusak dan mengganggu lingkungan kita.Berbagai peristiwa dalam beberapa tahun terakhir telah memperlihatkan kepada kita bagaimana bencana kerusakan lingkungan itu dapat terjadi karena pelaksanaan pembangunan.Urbanisasi yang berlangsung dengan cepat telah meningkatkan intensitas bencana seperti banjir,longsor,kebakaran hutan dan tentu saja semakin berkurangnya lahan hijau sebagai dampak langsung kesalahan tata ruang dari pemerintah.

Salah satu contoh yang paling mutakhir tentu saja adalah Jakarta.Sebagai ibukota negara,Jakarta telah menjelma menjadi sebuah kota yang maju dengan berbagai pembangunan disana-sini. Beragam gedung pencakar langit,jalan-jalan layang,perumahan-perumahan elit dan bertingkat, serta berbagai bentuk pembangunan lainnya telah menjadi pemandangan lazim di Jakarta.Hal-hal tersebut telah menyebabkan tingginya kepadatan dan meningkatnya angka kesibukkan di ibu kota negara ini.Dengan padat nya jumlah penduduk tentu saja secara langsung berdampak pada peningkatan aktivitas rumah tangga yang dilakukan oleh setiap individu di Jakarta.Aktivitas-aktivitas ini tentu saja dapat berakibat sangat fatal terutama kepada efek pemanasan global yang hangat menjadi pembicaraan masyarakat dunia belakangan ini.Belum cukup sampai disitu,berbagai bahan-bahan guna membangun sebuah gedung bertingkat juga telah memberikan efek luar biasa bagi terciptanya kerusakan lingkungan,kondisi ini juga diperparah dengan semakin sulitnya mencari lahan hijau yang dapat menjadi penyeimbang bagi polusi-polusi terhadap udara sehat yang seharusnya menjadi hak setiap warga negara Indonesia.

b. Rumusan Masalah

    Terkait dengan semakin tingginya tingkat pembangunan di kota Jakarta,penulis berusaha untuk merumuskan dua point permasalahan yang akan diangkat dalam tulisan ini,yakni :

    1)    Bagaimana wujud pembangunan yang menyebabkan kerusakan lingkungan?

    2)    Peranan apa yang dapat dilakukan oleh masyarakat Jakarta dalam mengurangi efek pemanasan global?

    II. PEMBAHASAN

      a. Pengertian Pemanasan Global

        Pemanasan global atau Global Warming adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi. Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.

        Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100. Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca di masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil. Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan. Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.

        b. Kondisi kota Jakarta saat  ini

          Dengan luas wilayah 740 km² ,Jakarta telah menjelma menjadi salah satu kota terpadat di dunia. Pada akhir Desember 2009 , jumlah penduduk yang tinggal dan menetap di Jakarta telah mencapai  angka 8.523.157 jiwa (www.kependudukancapil.go.id) . Disamping itu, posisi Jakarta  sebagai ibu kota telah menjadikannya sebagai pusat segala kegiatan pemerintahan dan perekonomian.

          Dari berbagai penelitian yang dilakukan,banyak yang memprediksi DKI.Jakarta adalah salah satu kawasan yang akan tenggelam dalam abad ini,diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh International Institute for Environment and Development Britinia dan juga penelitian dari ITB. Data dari BPLHD DKI Jakarta juga menyebutkan bahwa pada tahun 2005,pengambilan air tanah yang besar-besaran telah mengakibatkan kota Jakarta telah mengalami defisit air tanah sebesar 66,65 juta m3/per tahun di tahun tersebut. Defisit air tersebut tentu saja berakibat terjadinya penurunan permukaan tanah di kota ini. Kondisi ini juga diperparah dengan status kota Jakarta sebagai kota dengan tingkat populasi tertinggi di Indonesia.Semakin hari tata ruang  di Jakarta semakin tidak bersisa karena semakin banyaknya dibangun gedung-gedung tinggi dan berbagai pemukiman penduduk guna menunjang kehidupan masyarakat Jakarta.Dengan semakin banyak nya pembangunan gedung perkantoran dan pemukiman juga menyebabkan fenomena meningkatnya gas emisi CO2 dan metana (CH4) melalui penggunaan listrik,AC, dan berbagai aktivitas rumah tangga yang tidak ramah lingkungan. Bentuk-bentuk kemacetan yang sering kita jumpai di Jakarta adalah wujud kepadatan yang juga memperlihatkan tingginya tingkat polusi udara di ibu kota. Jumlah kendaraan yang berlalu-lalang setiap hari nya dengan diikuti gas-gas emisi kendaraan,telah menjadikan Jakarta sebagai kota dengan udara terburuk nomor tiga diseluruh dunia.

          c. Faktor-faktor pembangunan yang menjadi pendorong terjadinya kerusakan lingkungan

            Beberapa bentuk model pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan diyakini menjadi salah satu penyebab terjadinya kerusakan lingkungan yang berujung sebagai pemicu terciptanya pemanasan global. Pembangunan disegala bidang adalah hal yang tidak bisa kita elak kan,karena pembangunan itu sendiri dilakukan negara guna mensejahterakan rakyat Indonesia. Tetapi seringkali terjadi dimana pembangunan dilakukan tidak dengan berwawasan lingkungan yang sehat.     Beberpa faktor  yang menjadi pendorong rusaknya lingkungan hidup sebagai akibat dari pembangunan adalah sebagai berikut :

            • Urbanisasi

            Urbanisasi secara harafiah dapat diartikan sebagai perpindahan penduduk dari desa ke kota,namun sesungguhnya pengertian ini memiliki makna yang lebih kompleks yakni perpindahan menuju pusat dari sebuah gravity zone.Seperti yang kita raskan,kota-kota besar di Indonesia termasuk Jakarta,memiliki daya tarik yang sangat besar. Orang sering salah kaprah  dengan menganggap Jakarta sebagai kota yang dapat menjanjikan income dalam jumlah yang tinggi,sehingga semua masyarakat berbondong-bondong melakukan perpindahan dan mengadu nasib di kota Jakarta ini.

            • Kesenjangan Sosial

            Seringkali kita lihat di ruas-ruas jalan di Jakarta, begitu banyak pengemis dan gelandangan yang bertahan hidup dengan meminta-minta kepada pengguna jalan.Kondisi ini sangat kontradiktif dengan posisi Jakarta sebagai kota metropolitan. Hal ini membuktikan telah terjadi ketidakseimbangan pembangunan yang di terima oleh masyarakat Jakarta,di satu sisi jumlah orang kaya semakin tinggi namun disisi lain tingkat kemiskinan juga terus bertambah.Seharusnya kondisi ini menjadi perhatian khusus pemerintah Jakarta,karena keberadaan orang miskin ini pada kenyataanya membawa dampak buruk terhadap lingkungan,sebagai contoh adanya perumahan-perumahan kumuh di pinggir-pinggir sungai di kota Jakarta yang merusak fungsi kelestarian sungai itu sendiri.

            • Infrastruktur yang tidak berwawasan lingkungan

            Sebagai pusat bisnis dan ekonomi, Jakarta saat ini telah menjamur pembangunan gedung-gedung perkantoran tinggi dan perumahan-perumahan elit yang dibangun tanpa memikirkan kelestarian lingkungan hidup.Pembangunan-pembangunan tersebut disadari atau tidak  telah memicu tejadinya berbagai bencana seperti banjir dan populasi udara.Banyak lahan-lahan hijau dan endapan-endapan air yang digerus dan ditimbun hanya untuk mendirikan sebuah bangunan yang sesungguhnya merupakan bentuk bisnis demi sebuah kepentingan individu atau golongan tertentu.Yang lebih parah lagi,hal tersebut diikuti dengan pemberian surat ijin membangun yang disetujui oleh pemerintah daerah tanpa memperhitungkan dengan cermat mengenai dampak lingkungan yang diberikan.

            • Kurangnya sarana public

            Salah satu kesalahan pembangunan yang terjadi di Jakarta adalah kurangnya sarana public semisal minimnya ruas pejalan kaki dan transportasi public yang murah dan ramah lingkungan.Ruas pejalan kaki yang nyaman hampir tidak bisa ditemui lagi di Jakarta,padahal di negara-negara maju seperti Singapura dan Jepang,fasilitas bagi pejalan kaki ini menjadi hal mutlak yang diperlukan.Kondisi ini akhirnya memunculkan gejala sosial kepada masyarakat kita yang lebih menyukai menggunakan kendaraan pribadi dalam beraktivitas ketimbang berjalan kaki.Begitupula dengan sarana transportasi publik yang nyaman dan murah,memang saat ini Jakarta telah memiliki Bus Trans Jakarta yang murah dan nyaman,namun kita tentu tidak lupa bagaimana pro-kontra yang muncul ketika penggunaan Bussway ini digulirkan oleh Gubernur Sutiyoso.

            d. Kondisi kota Jakarta yang diharapkan

              Terkait dengan berbagai macam pembahasan diatas, kita semua tentu sependapat bahwa pembangunan harus tetap berlangsung dengan tetap berpedoman kepada wawasan lingkungan yang baik dan benar.  Tentu saja pembangunan tersebut pada hakekatnya adalah demi kesejahteraan seluruh warga negara Indonesia itu sendiri.

              Namun demikian,dampak buruk akibat dari pembangunan yang dilakukan pemerintah disegala bidang kehidupan masyarakat dapat ditekan dengan melakukan perubahan terhadap kebiasaan-kebiasaan hidup masyarakat Jakarta,sehingga terjadi keseimbangan antara pembangunan itu sendiri dan lingkungan hidup yang sehat. Adapun bentuk-bentuk kegiatan yang dapat dilakukan oleh masyarakat Jakarta guna mengurangi dampak buruk pembangunan terhadap terjadinya pemanasan global adalah sebagai berikut:

              • Mengurangi Konsumsi Daging/Menjadi Vegetarian

              Pada tahun 2006,PBB mencatat bahwa sekitar 18 % dari pemanasan global yang terjadi saat ini disumbangkan oleh industri peternakan.Hal ini dikarenakan selain mejadi kontributor CO2  yang hebat,industri peternakan juga merupakan salah satu penyebab terjadinya pencemaran tanah dan pencemaran air pada lingkungan.

              • Membatasi Emisi Karbondioksida

              Sumber-sumber energi alternatif,yang tidak menghasilkan CO2 , harus mulai mendapat prioritas utama.Sumber energi tersebut seperti tenaga matahari,air,angin dan nuklir pada kenyataannya lebih ramah lingkungan dan tidak begitu banyak menghasilan CO2. Namun demikian salah satu langkah bijak guna mengontrol emisi karbondioksida ini adalah dengan melakukan penghematan penggunaan listrik dan energi.

              • Lakukan Penghijauan

              Tanaman hijau menyerap CO2 dengan baik dan menyimpannya dalam jaringannya.Tetapi setelah mati mereka akan melepaskan kembali CO2 ke udara.Karena itulah ,lingkungan dengan banyak tanaman hijau akan mengikat CO2 dengan lebih baik.

              • Reduce,Reuse,dan Recycle

              Ini adalah salah satu alternatif tindakan yang dapat masyarakat lakukan guna mengurangi dampak pemanasan global.Dengan mendaur ulang dan menggunakan ulang maka kita akan melakukan penghematan energi yang luar biasa banyaknya.

              • Gunakan Alat Transportasi Alternatif

              Penggunaan kendaraan bermotor yang semakin padat di Jakarta sudah saat nya dirubah dengan menggunakan alat transportasi alternatif seperti sepeda,jalan kaki, dan juga menggunakan transportasi publik.Hal ini bermanfaat guna mengurangi terbuangnya energi dan emisi CO2 secara berlebihan.

              III. PENUTUP

                a. Kesimpulan

                  Dari berbagai penjabaran-penjabaran sebelumnya terkait dengan hubungan pembangunan dengan kerusakan lingkungan dalam hal ini adalah pemanasan global,penulis berusaha merumuskan point-point kesimpulan sebagai berikut  :

                  • Bahwa pembangunan adalah sebuah hal yang harus dilakukan oleh setiap negara dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh warganya dan bukan sebaliknya menyengsarakan rakyat.
                  • Pembangunan berkelanjutan merupakan salah satu bentuk tanggung jawab seluruh generasi saat ini dalam  memanfaatkan fungsi kelestarian lingkungan hidup tanpa sedikitpun merusak dan mengurangi hak generasi mendatang untuk menikmati lingungan hidup yang bersih dan sehat.
                  • Masih banyak terjadi pelaksanaan pembangunan yang dilakukan di Jakarta tanpa mempertimbangkan dampak negatif yang diberikan pembangunan tersebut kepada kerusakan lingkungan.
                  • Belum maksimal dan optimalnya  peranan pemerintah daerah dalam menjadikan Jakarta sebagai kota yang sehat,bersih dan ramah lingkungan,terutama dalam pembangunan pelayanan public yang ramah lingkungan.
                  • Berbagai kesalahan dalam melaksanakan pembangunan yang tidak berwawasan pada lingkungan telah menjadi salah satu pemicu terjadinya pemanasan global,yang diyakini para peneliti akan berakibat pada tenggelamnya kota Jakarta pada akhir abad ini.
                  • Belum adanya kesadaran masyarakat dalam merubah pola aktivitas dan pola hidup yang berwawasan lingkungan, dimana hal tersebut belum menjadi habit dalam kultur budaya masyarakat kota yang serba menginginkan hal-hal yang sifatnya instant.
                  1. b. Saran
                  • Seperti halnya penjabaran mengenai pola hidup masyarakat,perlunya dilakukan inovasi dalam menciptakan peralatan-peralatan dan perkakas rumah tangga yang berwawasan lingkungan termasuk penggunaan bahan energi non-fosil.
                  • Perlunya sosialisasi dan pendidikan mengenai kecintaan kepada lingkungan yang dilakukan di kalangan pendidikan mulai dari tingkat taman kanak-kanak sampai kalangan mahasiswa.
                  • Kegiatan-kegiatan sosial yang terkait dengan kelestarian lingkungan harus secara rutin dilakukan,seperti kegiatan “menanam sejuta pohon” dan lain sebagainya.

                  DAFTAR PUSTAKA

                  1. Modul Pengetahuandan Hukum Lingkungan,PTIK 2007.
                  2. New York Times,2007. Global Warming.
                  3. Makalah Menteri Negara Lingkungan Hidup,2007.
                  4. Pan Mohamad Faiz,SH,Mcl ,2009.Perubahan Iklim dan Perlindungan Terhadap Lingkungan.
                  5. www.kependudukancapil.go.id.
                  6. www.wikipedia.org
                  7. www.malikmakasar.wordpress.com

                  About ferli1982

                  Menjalani hidup dengan riang gembira ... enjoy ur life!!!

                  Posted on Desember 21, 2010, in Reserse Kriminal and tagged . Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada Jakarta and Global Warming.

                  Komentar ditutup.

                  %d blogger menyukai ini: