Sejarah

SEJARAH PTIK

Kelahiran PTIK sebagai perguruan tinggi kedinasan pertama ang tercatat dalam sejarah pendidikan di Republik Indonesia tidak terlepas dari keberadaan Sekolah Kepolisian Negara Bagian Tinggi Mertoyudan yang selanjutnya menjadi Polisi Akademi (Akademi Polisi) dan diresmikan tanggal 17 Juni 1946 oleh Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Untuk kepentingan terlaksananya pendidikan, maka dosen-dosen pertama diangkat pada tanggal 21 Agustus 1946 dan Prof.Mr.Soenario Sandjatawidjaya ditetapkan sebagai Dekan.

Adanya beberapa pertimbangan serta kendala teknis operasional proses belajar mengajar, maka pada akhir September 1946 Akademi Polisi dipindahkan ke Yogyakarta. Sejalan dengan pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda, pada bulan Januari 1950 Akademi Kepolisian dipindahkan ke Jakarta dan menempati Gedung Kamp Adek di jalan Tambak No. 2 Jakarta Pusat.

Berdasarkan keputusan rapat gabungan antara Jawatan Kepolisian Negara, Dewan Kurator dan Dewan Guru Besar, maka sejak 1 September 1950 sebutan Akademi Polisi diganti menjadi Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, disingkat PTIK. Berdasarkan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara No. 11/MPRS/1960, ditegaskan bahwa kedudukan hukum (Civiel Effect ) lulusan PTIK disamakan dengan lulusan fakultas negeri mengikuti program pendidikan lima tahun. Tap MPR tersebut kemudian diperkuat dengan Surat Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP) No.4463/9/PTIP tanggal 8 Agustus 1961.

Pada tahun 1963 PTIK dipindah dari jalan Tambak No. 2 ke Depo Pendidikan dan Latihan (Deplat) 007 Ciputat. Kepindahan ini dimaksudkan untuk mendapatkan kualitas kantor, ruang kuliah dan perumahan personel yang lebih memadai. Tonggak sejarah terpenting adalah dipisahkannya proses pendidikan PTIK, sejalan dengan kebijakan pemerintah tentang integrasi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Bagian Bakaloreat PTIK dijadikan Akademi Angkatan Kepolisian (1966) yang berlokasi di Sekolah Kepolisian Negara (sebelumnya Sekolah Kepolisian Bagian Rendah dan sekarang menjadi Sekolah Calon Perwira atau Secapa) Sukabumi.

Pada tahun 1967 program integrasi penuh dilaksanakan dengan pembentukan Akademi ABRI (AKABRI) yang terdiri dari Akabri Umum (satu tahun) di Magelang dan Akabri bagian Kepolisian (tiga tahun) di Sukabumi (pada tahun 2000 sejalan dengan pemisahan TNI dan Polri, Akabri Kepolisian dikembalikan kepada Polri dan menjadi Akademi Kepolisian atau Akpol). Sehubungan dengan kebijakan tersebut pada tahun 1994 s.d. 2001 PTIk pernah menyelenggarakan program Diploma III untuk menyiapkan tenaga perwira Polisi Wanita berpendidikan akademis. Selanjutnya, sejak tahun 1971 sampai sekarang PTIK menempati kampus kelima di jalan Tirtayasa Raya No. 6 Kebayoran Baru Jakarta Selatan di atas lahan yang dihibahkan oleh Prof. Djokosoetono, SH. (Almarhum) pendiri, pendidik dan Dekan(1954 s.d. 1965) PTIK. Dari kampus inilah berbagai langkah perubahan dan pengembangan dilakukan termasuk menjadikan PTIK sebagai institusi “Sekolah Tinggi”, dalam kontek sistem pendidikan nasional. Pada tahun 1980, PTIK pernah dilanda “angin taufan” berkenaan dengan gagasan penghapusannya oleh pimpinan ABRI. Atas kegigihan Kapolri Jendral Polisi Prof. Dr. Awaloedin Djamin, MPA. (Dekan PTIK 1987 s.d. 2002), keberadaan PTIK “diselamatkana” dengan ditempatkannya di bawah payung pembinaan Universitas Indonesia (UI) berdasarkan Keputusan Bersama Kapolri dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) No.Pol : Kep/12/VIII/1980 dan Nomor 0214/0/1980 tanggal 11 Agustus 1980.

Dalam hal ini jabatan Dekan PTIK diisi dengan tenaga dari UI atas penunjukan Mendikbud, sedangkan jabatan Gubernur PTIK diisi oleh Polri. PTIK telah diakreditasi oleh Menteri Pendidikan Nasional dengan kategori B. Selanjutnya, untuk menyesuaikan dengan Undang-Undang No. 2/1989 tentang Pendidikan Nasional, berdasarkan Keputusan Presiden Indonesia Nomor 70 tahun 2002, tanpa mengubah statusnya sebagai “sekolah Tinggi” Jabaran Dekan PTIK dihapuskan dan Gubernur PTIK merangkap sebagai Ketua Sekolah Tinggi yang dijabat oleh Prof. Drs. Farouk Muhammad, SH., MBA., MCJA., Ph.D. Mulai tahun 2002 langkah-langkah penataan dan pengembangan kembali PTIK terus dilanjutkan dan ditingkatkan , yang meliputi : (1) Pengembangan Kurikulum, sejalan dengan proyek pengembangan kurikulum semua program pendidikan Perwira Polri (Secapa, Akpol, PPSS, Selapa, Sespim dan Sespati); penataan kurikulum PTIK masih terus dilakukan bersamaan dengan pembagian program kekhususan (konsentrasi) bidang Penegakan Hukum” dan “Pembinaan Keamanan”, operasionalisasi kelas-kelas kecil dan pengembangan sistem & metode pendidikan; (2) Pengembangan sumber daya manusia, terutama perekrutan dosen tetap dari berbagai disiplin ilmu yang diarahkan untuk mendalami fenomena kepolisian dari berbagai aspek keilmuan; (3) Pembangunan kembali (redevelopment) kampus yang meliputi semua fasilitas pendidikan dan penunjang beserta peralatan dan tekhnologi pendidikan sebagaimana diuraikan pada halaman-halaman berikut-berikut ini.

Lokasi PTIK berada di wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya bagian Selatan yaitu dalam kawasan Blok O Kebayoran Baru yang bersebelahan dengan kawasan bisnis Blok M. Letaknya berada di antara 4 alur jalan raya yaitu sebelah barat Jl. Tirtayasa Raya, sebelah utara Jl. Tirtayasa VII, sebelah timur Jl. Wijaya I dan sebelah selatan Jl. Iskandarsyah I. Sebagai sarana Komunikasi, alamat PTIK adalah Jl. Tirtayasa Raya No. 6 Kebayoran Baru Jakarta Selatan, No, Telp : 021-7222234 (Hunting), Fax:021-7207142.

4 Balasan ke Sejarah

  1. mahaga berkata:

    tolong cantumkan gubernur ptik dari awal sampai kini

  2. irwan berkata:

    tolong juga di cantumkan para pengajar yg dari keplisian atau yg umum,thanks

  3. Achmadi Gustinoor berkata:

    Kabarnya, akpol itu paling kotor. Nyaris tak ada taruna akpol yang masuk akpol bukan karena dulur atau dekat sama petinggi atau karena nyogok. Yang paling bersih itu AAU, sebab harus punya otak/IQ oke punya (selain fisik, tapi bisa dibentuk selama pendidikan. Kalau IQ, mustahil di-upgrade) karena akan mengoperasikan peralatan yang berteknologi tinggi. Artinya, pasti ada yang masuk akpol dengan cara yang bersih. Tapi, persentase taruna akpol yang masuk akpol dengan cara bersih disangsikan tak lebih dari 10 persen tiap angkatannya.

  4. ferli1982 berkata:

    Dear bapak Achamdi, terima kasih telah bersedia memberikan komentar tentang Akademi Kepolisian, pengalaman saya saat mendaftar Akpol tahun 2001 seleksi dilaksanakan dng ketat. Insya Allah saya masuk karena lulus dan lolos dari seleksi yang diberikan panitia. Pendapat bapak tentang adanya taruna Akpol yg masuk karena nyogok tdk bisa saya jawab dan bukan kapasitas saya yang menjawabnya karena memang saya tdk mengetahui pasti ttg hal itu. Namun demikian, saya menyarankan kepada bapak untuk sekali-sekali melihat langsung bagaimana proses seleksi Taruna Akpol saat ini, saya pernah melihat langsung proses seleksi Akpol saat saya berdinas di Akpol, dan saya meyakini proses seleksi sangat ketat dan sesuai dng ketentuan dimana pengawasan tdk hanya dari Internal Mabes Polri namun juga dari pihak-pihak eksternal seperti Kompolnas, Lembaga Pengawas Masyarakat lainnya. Terima Kasih dan Salam Hormat

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s