Upaya Mencegah Kecelakaan Lalu Lintas Di Jawa Tengah

Angka kecelakaan di Jawa Tengah yang mengalami peningkatan pada triwulan pertama tahun 2012 ini jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Selama Januari-April 2012 sebanyak 1.071 orang meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas di wilayah Jawa Tengah (24 % adalah pejalan kaki). Jumlah korban tewas akibat kecelakaan lalu lintas selama 2012 ini naik drastis dibandingkan pada 2011. Pada triwulan pertama 2012, korban tewas akibat kecelakaan mencapai seribuan orang. Padahal, selama tahun 2011, Polda Jateng mencatat jumlah korban meninggal dunia sebanyak 4.660 orang. Kondisi ini tentu saja memberikan permasalahan tersendiri khususnya kepada satuan lalu lintas dalam upayanya menciptakan keamanan dan ketertiban dijalan raya.
Untuk itu perlu kiranya dilakukan langkah konkret dalam mewujudkan pembinaan fungsi satuan lalu lintas dalam upayanya menciptakan keamanan, keselamatan, dan ketertiban serta kelancaran dalam berlalu lintas diwilayah hukum Polda Jawa Tengah. Langkah konkret tersebut diambil tentu saja dengan tidak meninggalkan tugas dan fungsi utama dari satuan lalu lintas tersebut, melainkan mengsinergikan langkah tersebut dengan gagasan-gagasan baru yang lebih kompetitif dan inovatif sesuai karakteristik Provinsi Jawa Tengah.
Langkah tersebut dilakukan dengan mengedepankan 3 (tiga) pendekatan fungsi Kepolisian yakni pre-emtif, preventif, dan represif. Tujuan yang hendak dicapai tentu saja terwujudnya kamseltibcar lantas di Jawa Tengah sesuai dengan visi dan misi direktorat lalu lintas Polda Jawa Tengah. Selanjutnya pembinaan fungsi lalu lintas ini juga dilaksanakan dengan melibatkan semua komponen pemangku kepentingan yang ada, pemberdayaan masyarakat serta kemitraan global. Hal ini selaras dengan pelaksanaan pencegahan kecelakaan lalu lintas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 226 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 .
A. Pendekatan Pre-emtif
Pendekatan ini sangat penting untuk dikedepankan mengingat pencegahan secara dini melalui optimalisasi kegiatan-kegiatan bidang edukatif masih dirasa sangat perlu dan penting untuk terus dilaksanakan. Pendekatan ini dapat dilaksanakan melalui cara-cara sebagai berikut :
1. Pendidikan Masyarakat
Pendidikan masyarakat (dikmas) dalam berlalu lintas penting dilaksanakan karena dapat memberikan pencerahan kepada masyarakat sejak usia dini. Langkah konkretnya adalah sebagai berikut :
a. Pelaksanaan program ‘Polisi Sahabat Anak’ , dalam wujud :
 Pengenalan rambu lalu lintas
 Kunjungan ke Satuan Lalu lintas, pengenalan kendaraan
 Taman bermain lalu lintas diberbagai sekolah/tempat umum lainnya.

b. Patroli Keamanan Sekolah (Saka Bhayangkara), dalam wujud :
 Pembinaan PKS dengan mengirimkan anggota lalu lintas pada waktu-waktu ekstrakulikuler sekolah.
 Mengikutsertakan anggota PKS dalam pengaturan lalu lintas di jalan raya, dengan didampingi anggota.
 Melaksanakan lomba-lomba antar sekolah mengenai kecakapan anggota PKS

c. Police goes to campus, dalam wujud:
 Pelaksanaan layanan SIM keliling dikampus-kampus
 Forum bersama antara polisi dan mahasiswa dalam bentuk kegiatan sosial (pengawalan), pengecekan surat-surat kendaraan dilingkungan kampus, sosialisasi peraturan dan kegiatan akademisi lainnya.

2. Pemberdayaan Masyarakat
Upaya mencegah kecelakaan lalu lintas tidak dapat dilaksanakan sendiri oleh Polisi namun dibutuhkan peranan masyarakat pula.
a. Pembinaan Kelompok Masyarakat, dalam wujud:
 Membuka komunikasi aktif dengan berbagai komunitas sosial masyarakat seperti komunitas pengendara sepeda motor (bikers), wujudnya bisa berupa pengawalan komunitas.
 Kegiatan bersama dengan kelompok penyedia jasa lalu lintas, seperti perlombaan antar tukang becak dan sopir angkot dengan melibakan komunitas lainnya seperti dealer mobil/motor.

b. Komunikasi Publik, dalam bentuk:
 Pelayanan masyarakat dibidang lalu lintas melalui komunikasi dunia maya seperti pengadaan website/blog lalu lintas yang up to date.
 Membuka pelayanan arus kendaraan secara real time dengan menggunakan media televisi/radio lokal baik berupa visual maupun audio serta melalui media jejaring sosial seperti twitter.
 Melaksanakan kampanye melalui baleho, spanduk dan media lainnya dalam menyampaikan pesan-pesan kamtibmas.

B. Pendekatan Preventif
Merupakan bentuk pencegahan kecelakaan lalu lintas melalui kehadiran atau keberadaan anggota lalu lintas itu sendiri. Pendekatan ini dapat dilaksanakan melalui beberapa cara diantaranya :
1. Turjawali
Pelaksanaan fungsi pengaturan, penjagaan, pengawalan, dan patroli dilaksanakan dengan optimalisasi peran anggota satuan lalu lintas, seperti :
a. Pengaturan
 Pengaturan Harian Pagi hari, dengan menempatkan anggota gatur dititik-titik rawan kemacetan dan kecelakaan dengan konsep ‘Polisi Senyum’. Konsep ini mengedepankan pengaturan oleh anggota Lalu lintas secara humanis dan tanpa penegakan hukum formal melainkan peringatan. Hal ini penting mengingat pagi hari adalah waktu dimana hampir setiap orang memulai aktivitasnya, sehingga situasi yang tertib, cerah, dan penuh keceriaan diharapkan dapat memberikan kesan tersendiri bagi masyarakat.
 Penggunaan alat bantu gatur seperti reka rambu lalu lintas
 Pemasangan CCTV pada titik-titik rawan kecelakaan lalu lintas

b. Penjagaan
 Penempatan anggota pada pos-pos lalu lintas yang ada
 Sistem komunikasi terpadu anggota dengan menggunakan pendekatan komunikasi langsung,utamanya dalam percepatan penanganan kecelakaan lalu lintas.

c. Pengawalan
 Pelaksanaan pengawalan pada kegiatan-kegitan tertentu masyarakat bahkan tanpa diminta, seperti iring-iringann jenazah, ambulance dan sebagainya.
 Pengawalan rutin pada kegiatan-kegiatan prioritas
d. Patroli
 Patroli rutin dan terjadwal
 Patroli insidentil pada titik-titik kerawanan
 Patroli sepeda pada aktivitas tertentu masyarakat seperti patroli sepeda pada event ‘car free day’

2. Penerbitan SIM/STNK
Penerbitan SIM/STNK merupakan bagian dari pelayanan masyarakat, sehingga prosesnya harus benar-benar transparan, akuntabel, dan profesional dengan tidak meninggalkan sisi humanis.
a. Pelayanan SIM/STNK
 Melayani dengan profesional dan prosedural
 Pelayanan perpanjangan SIM dengan cepat dan humanis dengan mengedepankan polisi wanita sebagai ujung tombak pelayanan.

b. Pemberdayaan Komunitas masyarakat
 Membuka komunikasi aktif dengan badan usaha penyedia jasa lalu lintas seperti jasa pembuatan SIM.
 Membangun kerjasama pembuatan SIM dengan badan usaha penyedia jasa ‘latihan mengemudi’.

3. Kerjasama Lintas Sektoral
Pelibatan instansi lain diluar Polri seringkali terabaikan, padahal kegiatan ini memiliki peranan penting utamanya dalam menciptakan pelayanan publik.
a. Dinas Perhubungan
Dinas perhubungan berkaitan erat dengan pengadaan serta perbaikan marka jalan dan rambu-rambu lalu lintas.
b. Dinas Pekerjaan Umum
Dinas Pekerjaan Umum berkaitan dengan kualitas jalan raya serta perbaikan-perbaikan jalan, dimana kondisi jalan juga merupakan salah satu faktor penyebab kecelakaan lalu lintas.

C. Pendekatan Represif
Pendekatan represif merupakan tugas pokok kepolisian dalam aspek penegakan hukum, namun langkah ini adalah langkah terakhir setelah upaya pre-emtif dan preventif dilaksanakan. Pendekatan represif secara tegas diutamakan kepada pelanggaran yang benar-benar berpotensi menyebabkan kecelakaan lalu lintas.
1. Operasi Rutin
Operasi rutin lalu lintas dilaksanakan utamanya guna memeriksa kelengkapan kedaraan dan kelengkapan perorangan dari para pengguna jalan raya. Pendekatan ini akan efektif dijalankan dengan melibatkan semua unsur pelaksana tugas dibidang lalu lintas. Penegakan hukum tidak harus berakhir pada tindakan tegas seperti tilang dan sebaginya namun bisa juga dikedepankan peringatan-peringatan dan himbauan sebagai penggugah kesadaran masyarakat untuk tertib berlalu lintas.
2. Operasi Gabungan
Operasi gabungan dapat dilaksanakan dengan melibatkan unsur Dinas LLAJ serta unsur Militer, harapannya tidak hanya masyarakat menjadi lebih taat pada aturan jalan raya namun juga mencegah adanya kemungkinan anggota-anggota TNI/Polri yang melanggar aturan.

Program Unggulan Mendekati Situasi Lebaran

 Patroli Ngabuburit, yakni dengan pelaksanaan gatur jalan raya serta patroli jalan raya disore hari
 Police on the spot, yakni acara bersama yang bisa menjadi ajang ngabuburit bagi masyarakat, dilaksanakan dengan mengedepankan fungsi kepolisian melalui acara-acara hiburan bagi masyarakat.
 Mendirikan ‘bengkel polisi’ sebagai sarana memberikan pelayanan gratis kepada masyarakat pengguna jalan raya mendekati mudik lebaran.
 ‘Road free car’ , yakni kegiatan penutupan ruas-ruas jalan utama yang dilaksanakan sore hari sehingga bisa digunakan masyarakat sebagai tempat bersantai menunggu beduk buka pusa.

About these ads

Tentang ferli1982

Menjalani hidup dengan riang gembira ... enjoy ur life!!!
Tulisan ini dipublikasikan di Administrasi Kepolisian, Makalah Lepas, Menulis itu Indah. Tandai permalink.