PREMANISME DALAM KONSEP TEORI LABELLING


 

            Premanisme menjadi fenomena tersendiri di Indonesia mengingat pengertian yang berkembang senantiasa mengarah kepada sebuah pemahaman mengenai hal yang negatif. Pemahaman tersebut telah membentuk sebuah stigma yang dipercaya secara turun temurun didalam kehidupan sosial masyarakat kita.

            Seseorang dikatakan, disebut, ataupun dijuluki sebagai seorang ‘preman’, acapkali merujuk pada penampilan bengal, bengis, berambut gondrong atau berlagak ‘petantang –petenteng’ serta dilumuri dengan berbagai tato yang menghiasi sekujur tubuhnya. Ilustrasi tersebut telah melekat dan membekas di kalangan masyarakat meskipun kenyataan serta penampakan fisik tersebut belum tentu mencerminkan sikap perilaku individu yang dicap sebagai preman tersebut. Sehingga seringkali masyarakat kita hanya menilai dari penampilan fisik tersebut untuk serta merta menentukan seseorang adalah preman atau bukan preman.

            Rasanya tidak masuk dalam logika berpikir secara positif ketika seseorang dinilai hanya dari penampilan fisik tersebut, terlebih ditengah perkembangan jaman, perkembangan budaya, serta berbagai perkembangan teknologi didunia secara global. Sebagai analogi yang paling mudah kita lihat adalah perkembangan mode serta model berpakaian. Di tahun 70-an trend masyarakat dengan penampilan rambut gondrong adalah sebuah trend mark yang diyakini dan digandrungi oleh pemuda di era tersebut. Bergeser ke medio 80-an dimana terkenal trend anak punk dengan penampilan rambut jigrak yang diberi warna serta tindikan anting diberbagai sudut wajahnya, bahkan mode anak punk ini mampu bertahan hingga sekarang. Perkembangan mode selanjutnya adalah trend menghiasi tubuh dengan berbagai gambar tato, mode ini pun bertahan hingga saat ini bahkan menjadi sebuah seni tersendiri dikalangan pecinta tato tersebut.

Apa sih arti ‘Preman’ ?

            Untuk lebih mengupas mengenai asal muasal julukan preman tentu harus kita awali dengan sebuah pengertian yang dapat dijadikan dasar dalam menentukan sebuah hal. Akan tetapi hal ini menjadi sangat sulit karena pada kenyataanya tidak diketemukan pengertian sahih mengenai kata preman itu sendiri.

            Sebagian masyarakat mempercayai ‘preman’ berasal dari padanan kata bahasa Inggris yakni “free” dan “man” menjadi free-man. Free-man sendiri diartikan sebagai “ a person who has been given the freedom of a particular city as a reward for the work that they have done” serta diartikan pula sebagai “ a person who is not a slave” (Oxford Advanced Learner’s Dictionary 7th edition). Pengertian tersebut mengartikan bahwa seorang free-man adalah orang yang bebas dan mendapatkan penghargaan (reward) atas pekerjaan yang telah mereka laksanakan. Pengertian tersebut menjadi kontradiktif dengan pemaknaan preman di Indonesia, karena konotasi yang terkandung didalamnya lebih mengarah kepada hal-hal yang positif.

            Disisi lain sebagian masyarakat juga mempercayai bahwa preman berasal dari kata Belanda yakni “Vrij Man” atau dalam bahasa Jerman dikenal dengan nama “frijaz”. Kata tersebut merupakan istilah pada masa penjajahan yang diberikan kepada seseorang yang bukan pejabar VOC namun melakukan negosiasi atas nama si pejabat. Menurut Jerome Tadie dalam Wilayah Kekerasan di Jakarta , kata tersebut memiliki pemahaman sebagai orang merdeka, bebas, dan sangat terkait dengan prajurit dan polisi yang tidak memakai seragam (Harian Kompas 1 Juli 2010).

            Penulis mencoba mencari pengertian kata preman dalam kamus besar Bahasa Indonesia sehingga kita bisa memiliki pengertian harafiah sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dalam kamus bahasa Indonesia preman diartikan sebagai sebutan kepada orang jahat (penodong, perampok,pemeras dsb). Disamping itu pula, kata preman dipercaya sebagai kata yang mengalami pergeseran makna, dimana sebelumnya kata preman digunakan untuk merujuk pada pengertian seseorang yang berpakaian sipil, penggunaan kendaraan pribadi sampai dengan perkembangan yang ada pada saat ini, yakni sebagai seorang yang bengis, bengal dan berbuat onar (kejahatan).

 

Preman dalam sudut pandang Teori Labelling

            Teori Labelling dikenal luas dalam dunia pendidikan sebagai sebuah teori sosiologi hukum dalam melihat gejala kejahatan yang dilakukan oleh penjahat. Howard S.Becker menyatakan bahwa pengaruh daripada label tersebut sebagai konsekuensi penyimpangan perilaku, sehingga seseorang dapat benar-benar menjadi jahat jika dirinya di cap jahat oleh masyarakat (American Journal of Sociology in 1953). Setiap masyarakat menciptakan penyimpangan sosial dan orang yang melakukannya, menerapkan aturan, memberi label bagi yang melanggar aturan serta mengharapkan ‘ketaatan’ dari pihak yang dilabel.

            Hal ini mengartikan bahwa ketika seseorang diberikan cap sebagai seorang penjahat maka tidak menutup kemungkinan dirinya akan berubah menjadi seorang penjahat meskipun pada mulanya orang tersebut bukanlah seorang penjahat sebagai mana yang di cap kan masyarakat kepadanya. Lemert (1971) dalam pengertian individual deviation menyatakan bahwa terdapat tekanan psikis dari seorang individu yang dapat menimbulkan adanya penyimpangan perilaku. Sehingga manakala seseorang diberi cap sebagai seorang penjahat maka pemaknaan atau penjulukan penjahat tersebut akan disepakati secara meluas dan membawa akibat yang terlihat. Disepakati secara meluas diartikan sebagai sebuah pemaknaan yang berkembang dikalangan masyarakat dimana hal tersebut diyakini dan dipercaya kebenarannya. Artinya ketika seseorang di cap sebagai seorang preman, maka masyarakat akan percaya dan meyakini bahwa orang tersebut adalah seseorang yang gemar melakukan perbuatan onar, perbuatan jahat, dan merugikan masyarakat. Sedangkan pengertian membawa akibat yang terlihat, adalah pembenaran bagi orang yang dicap sebagai seorang preman untuk betul-betul melakukan atau bertingkah laku layaknya seorang preman.

            Pada kenyataanya, hal ini tidak hanya berlaku untuk kalangan individu semata namun juga berkembangan untuk melabeli sekelompok orang sebagai golongan preman yang gemar melakuan aksi premanisme ditengah-tengah kehidupan masyarakat. Contohnya adalah berdirinya berbagai macam laskar atau kelompok atau ormas dikalangan masyarakat Indonesia seperti Laskar Mujahidin, Front Pembela Islam, Front Betawi Rembug dan lain sebagainya. Masyarakat cenderung memberikan memberikan label negatif kepada perilaku kelompok masyarakat tersebut dimana perilaku tersebut mengarah kepada hal-hal yang bersifat anarkis dan mengarah pada aksi premanisme. Memang secara umum aksi tersebut  diawali dengan berbagai perilaku buruk yang cenderung arogan serta main hakim sendiri yang dilakukan oleh kelompok tersebut. Lantas apakah semua kegiatan kelompok ormas tersebut senantiasa negatif ? tentu saja tidak.

            Pada satu sisi, kelompok tersebut seringpula melaksanakan kegiatan-kegiatan positif yang mengarah kepada hal-hal yang baik. Akan tetapi karena cap dan label yang diberikan oleh masyarakat dan cenderung untuk diyakini dan dipercaya maka setiap tindakan (keseluruhan) yang dilakukan oleh ormas tersebut akan senantiasa bernilai negatif di mata masyarakat. Hal ini memunculkan sebuah individual deviation yang berakibat pada adanya akibat nyata kepada setiap tindakan ormas tersebut, dimana mereka seolah-olah merasa benar sekalipun tindakan yang dilakukan adalah salah. Maka dalam setiap tindakan yang dilakukan mengikuti label yang diberikan oleh masyarakat yakni melakukan hal yang negatif dalam bentuk aksi premanisme, aksi anarkisme, serta kejahatan lainnya.

            Secara umum, label tersebut tidak semata dipengaruhi oleh cap yang diberikan oleh masyarakat. Banyak sekali variabel yang ikut mempercepat keyakinan masyarakat untuk memberikan label negatif tersebut, salah satunya adalah peranan media dan pemerintah. Peranan tersebut dapat memberikan pengaruh secara langsung dalam mempercepat keyakinan masyarakat untuk memberikan label kepada ormas tersebut.

            Keyakinan dan kepercayaan ini pada kenyataanya juga berperan dalam memberikan pengaruh terhadap ormas tersebut untuk meneruskan aksi premanisme dan aksi anarkisme untuk senantiasa dilakukan oleh ormas tersebut. Dampaknya, setiap individu yang menjadi bagian dari ormas tersebut untuk benar-benar melakukan aksi negatif yang sesungguhnya. Sehingga terbentuk sebuah keyakinan dari individu tersebut bahwa aksi yang dilakukan mereka adalah sebuah hal yang benar dan sifatnya positif.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Oxford Advanced Learner’s Dictionary 7th edition
  2. American Journal of Sociology in 1953
  3. http://nasional.kompas.com/read/2010/07/01/03565691/Dari.Vrijman.Menjadi.Preman
  4. http://kamusbahasaindonesia.org/preman
  5. http://sahabatkelabu.blogspot.com/2011/05/makna-preman.html
  6. http://bahasa.kompasiana.com/2012/03/02/pergeseran-arti-kata-preman-di-bogor/

 

About these ads

Tentang ferli1982

Menjalani hidup dengan riang gembira ... enjoy ur life!!!
Tulisan ini dipublikasikan di Menulis itu Indah. Tandai permalink.