PENGAMBILAN KEPUTUSAN EFEKTIF DALAM ORGANISASI

Bab I
PENDAHULUAN

a. Latar belakang

Pengambilan keputusan merupakan suatu proses dan berlangsung dalam suatu sistem. Hal tersebut perlu kita sadarai agar kita dapat berhasil didalam upaya mengembangkan kemampuan kita untuk mengambil keputusan dari kita. Makin kita mampu mengenali masalahmasalah yang selalu akan kita jumpai di dalam perjalanan menuju kekemajuan dalam hidup, makin mampu kita mengatasi atau memecahkan masalah-masalah tersebut. Sistem dimana proses pengambilan keputusan itu berlangsung terdiri atas berbagai unsur atau elemen dan masing-masing merupakan suatu faktor yang ikut menentukan segala apa yang terjadi atau akan terjadi. Unsur utama dan mungkin yang terpenting di dalam proses pengambilan keputusan adalah masalah/problem. Sesuatu barulah merupakan masalah atau problem, dilihat dari segi pengambilan keputusan bilamana kita mempunyai tujuan yang jelas dan tegas yang sedang kita kejar.
Polri sebagai pelindung, pelayan dan pengayom masyarakat berdasarkan Undang-Undang No.2 Tahun 2002 dalam menjalankan aktivitasnya tidak pernah terlepas dari sorotan masyarakat. Segala tindakan yang dijalankan oleh setiap individu secara akumulasi dapat dinilai sebagai hasil kerja organisasi yang sering dalam istilah ekonomi disebut dengan kinerja. Tuntutan masyarakat terhadap profesionalisme Polri menjadi semakin meningkat. Baik – buruknya kinerja Polri tidak hanya ditentukan oleh penilaian internal organisasi ataupun penilaian lembaga lain, namun lebih ditentukan oleh penilain masyarakat.

Untuk mendapatkan penilaian positif dari masyarakat, Polri sebagai aparat negara selalu mengadakan perbaikan pada semua lini dalam internal organisasinya. Keberhasilan perbaikan organisasi dapat ditentukan oleh pimpinan atau manajer organisasi pada tingkat pusat sampai pada tingkat kewilayahan, dimana manajer mempunyai tugas untuk mengawasi aktivitas orang lain dan bertanggung jawab atas pencapaian tujuan organisasi. Untuk mendukung pencapaian tujuan diperlukan fungsi pendukung yang terdiri minimal empat variabel, yaitu 1) fungsi perencanaan, fungsi ini mencakup penetapan tujuan, penegakan strategi dan pengembangan rencana untuk mengkoordinasikan kegiatan, 2) fungsi pengorganisasian, fungsi ini meliputi penetapan tugas-tugas yang harus dikerjakan, siapa yang mengerjakan, bagaimana tugas-tugas itu dikelompokkan, siapa yang bertanggung jawab dan dimana keputusan itu diambil, 3) fungsi kepemimpinan, fungsi ini mencakup hal memotivasi bawahan, mengarahkan anggota, menyeleksi saluran komunikasi yang paling efektif dan memecahkan konflik, 4) fungsi pengendalian, fungsi ini memantau kegiatan-kegiatan untuk memastikan kegiatan itu dicapai sesuai dengan yang direncanakan dan mengoreksi setiap penyimpangan yang berarti (Robbins, 2001). Selanjutnya Mintzberg dalam Robbins (2001) dalam studinya menyimpulkan bahwa manajer melakukan sepuluh peran dalam organisasi yang dikaitkan pada pekerjaan. Kesepuluh peran tersebut dikelompokkan menjadi tiga kelompok utama yaitu berkaitan dengan hubungan antar pribadi, transfer informasi dan pengambilan keputusan.
Untuk melakukan perbaikan dalam sebuah organisasi perlu dilakukan pemetaan terhadap permasalahan yang ada kemudian setelah itu menyelesaikan permasalah dengan melakukan pengambilan keputusan mengenai cara bertindak dan solusi pemecahan masalah tersebut. Pengambilan keputusan merupakan salah satu peran manajer dimana dengan adanya keputusan yang diambil oleh manajer akan menggerakkan organisasi untuk melakukan tindakan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.

b. Rumusan permasalahan

Banyak faktor yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan seperti terganggu oleh desakan dari pilihan-pilihan terpaksa untuk dipilih, adanya desakan waktu sehingga mengakibatkan stress, gagal dalam melakukan analisis terhadap permasalahan yang ada dan faktor-faktor lain yang mengakibatkan tidak efektifnya pengambilan keputusan sehingga akan mengganggu pada pelaksanaan aktifitas organisasi dan mengakibatkan penurunan kinerja dan citra organisasi bahkan bila terjadi kesalahan dalam pengambilan keputusan bukan tidak mungkin akan mengakibatkan hilangnya kepercayaan terhadap organisasi, dari uraian tersebut terdapat beberapa permasalahan yaitu :
a) Langkah apa yang ditempuh oleh seorang manajer dalam mengambil keputusan yang efektif ?
b) Faktor – faktor apa yang mempengaruhi dalam suatu pengambilan keputusan yang efektif ?
Pentingnya manfaat dari keputusan yang akan diambil oleh seorang pemimpin mempunyai dampak yang penting dalam kemajuan suatu organisasi tidak terkecuali untuk organisasi Polri yang selalu ditutut untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakatnya sesuai dengan tugas pokoknya. Dalam tulisan ini akan dibahas mengenai tehnik dalam pengambilan keputusan dan faktor yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan yang dapat digunakan sebagai refrensi untuk melakukan pengambilan keputusan yang efektif.

3

Bab II
PEMBAHASAN

Pengambilan Keputusan adalah memilih satu atau lebih di antara sekian banyak alternatif keputusan. Dapat dikatakan juga sebagai proses memilih suatu alternative cara bertindak dengan metode yang efisien sesuai situasi. Pernyataan ini menegaskan bahwa mengambil keputusan memerlukan satu seri tindakan, membutuhkan beberapa langkah. Dalam dunia manajemen atau dalam kehidupan organisasi, baik swasta maupun pemerintah, proses atau seri tindakan itu lebih banyak tampak dalam berbagai diskusi. Salah satu komponen terpenting dari proses pembuatan keputusan ialah kegiatan pengumpulan informasi dari mana suatu apresiasi mengenai situasi keputusan dapat dibuat.
Menurut Drucker, 1990, Pengambilan keputusan merupakan tindakan pemilihan dari satu atau lebih kemungkinan, namun ini hampir tidak merupakan pemilihan antara yang benar dan yang salah, tetapi justru sering terjadi ialah pilihan antara yang hampir benar dan yang mungkin salah. Menurut Morgan dan Cerullo, 1984, keputusan sebagai sebuah kesempatan yang dicapai sesudah dilakukan pertimbangan, yang terjadi setelah satu kemungkinan dipilih, sementara yang lain dikesampingkan, melalui pertimbangan dilakukan analisis untuk beberapa kemungkinan atau alternatif, sesudah itu dipilih satu diantaranya.
Pada dua pengertian diatas dapat digeneralisasikan bahwa pengambilan keputusan merupakan proses memilih suatu alternatif cara bertindak dengan metode yang efisien sesuai situasi untuk menemukan dan menyelesaikan permasalahan dari suatu organisasi. Dengan demikian, dalam konteks ini, pengambilan keputusan bisa dianggap sebagai: (1) dasar pemikiran, (2) pengidentifikasian alternatif-alternatif, (3) penilaian alternatif-alternatif dilihat dari sudut tujuan yang mau dicapai, dan (4) pemilihan suatu alternatif, yaitu suatu pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan melukiskan proses melalui mana suatu tindakan untuk memecahkan suatu masalah tertentu dipilih. Sebelum suatu masalah dipecahkan, maka ia harus diketemukan lebih dahulu. Artinya, para individu harus menentukan keadaan-keadaan yang mana yang merupakan masalah dan masalah yang mana yang harus dipecahkan.
4
Dalam mengambil keputusan untuk memecahkan suatu permasalahan kita dapat menggunakan analisa SWOT untuk memudahkan dalam mengidentifikasi kondisi awal yang menjadi titik awal dalam melakukan analisis pemikiran yang dapat digunakan oleh para pembuat keputusan untuk memecahkan masalah yang dihadapi oleh organisasinya. SWOT merupakan akronim dari Strenghts (kekuatan) yang berisi tentang kemampuan, keunggulan, keterampilan dan sumber-sumber yang dimiliki oleh suatu organisasi, Weaknesses (kelemahan ), yaitu memuat tentang keterbatasan, atau kekurangan dalam hal sumber, kemampuan dan keterampilan yang menjadi penghalang kinerja organisasi, Oportunities ( peluang ), berbagai situasi lingkungan yang menguntungkan bagi suatu organisasi, Threats (ancaman), faktor lingkungan yang tidak menguntungkan suatu organisasi ( Sondang Siagian, 2001). Dengan menggunakan analisa SWOT, pemimpin dapat memetakan persoalan dan menganalisa kelemahan, kekuatan, peluang dan ancaman secara sistematis sehingga dapat melakukan pemikiran yang sistematis dan terarah dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.
Dengan berpedoman pada analisa SWOT, pada saat seorang manajer mengambil keputusan akan lebih baik apabila dilakukan secara bertahap dengan menggunakan langkah-langkah yang secara sistematis berkaitan satu sama lain. Pada dasarnya langkah-langkah proses pengambilan keputusan mencakup aktivitas menentukan problem yang berkaitan dengan sasaran-sasaran yang ingin dicapai; mengidentifikasi pemecahan-pemecahan alternatif; menganalisis hasil-hasil masing-masing alternatif; memilih salah satu alternatif untuk diimplementasikan, akan tetapi perlu diingat bahwa proses sesungguhnya jauh lebih kompleks dibanding dengan apa yang dinyatakan oleh langkah-langkah tersebut, karena masing-masing langkah mencakup proses pengambilan keputusan.
Dalam proses mencapai suatu keputusan organisasi, seorang manajer akan melakukan tindakan-tindakan berupa pertimbangan terhadap alternatif soslusi pemecahan masalah, model pertimbangan ini dapat kedalam dua pandangan yaitu :
1) Optimasi, Di sini seorang eksekutif yang penuh keyakinan berusaha menyusun alternatif-alternatif, memperhitungkan untung rugi dari setiap alternatif itu terhadap tujuan organisasi. Sesudah itu ia memperkirakan kemungkinan timbulnya

5
bermacam-macam kejadian di kemudian hari, mempertimbangkan dampak dari kejadian-kejadian itu terhadap alternatif-alternatif yang telah dirumuskan, dan kemudian menyusun unit-unitnya secara sitematis sesuai prioritas dan kadang-kadang juga selera. Barulah ia membuat keputusan.
Keputusan yang dibuatnya itu dianggap optimal karena setidaknya ia telah memper hitungkan semua faktor yang berkaitan dengan keputusan itu.
2) Satisfying, Seorang eksekutif cukup menempuh suatu penyelesaian yang asal memuaskan ketimbang mengejar penyelesaian yang terbaik. Dia tidak dapat mengidentifikasi semua alternatif sebagai akibat dari kelalaian atau kurangnya sumber informasi dari hasil penelitian karena manajer tersebut hanya mengetahui sedikit mengenai kerugian atau keuntungan, dengan melihat pada alternatif apapun yang dipilih. Ia juga memiliki kekurang sempurnaan pemahaman mengenai peristiwa-peristiwa yang mungkin timbul dan kaitannya dengan pilihan yang ia lakukan. Oleh karena itu, ia tidak memiliki dasar yang akurat untuk memilih alternatif yang dianggap paling memuaskan. Dengan demikian, keputusannya sudahlah cukup begitu, tidak perlu melelahkan diri atau menghabiskan waktu untuk melibatkan diri dalam berbagai aspek sampai detailnya.
Model satisfying ini dikembangkan oleh Simon (Simon, 1982) karena adanya pengakuan terhadap rasionalitas terbatas (bounded rationality). Rasionalitas terbatas adalah batas-batas pemikiran yang memaksa orang membatasi pandangan mereka atas masalah dan situasi. Pemikiran itu terbatas karena pikiran manusia tidak memiliki kemampuan untuk memisahkan dengan mengolah informasi yang bertumpuk. Bagi para eksekutif dari pada mempertimbangkan enam atau delapan alternatif, mereka cukup bekerja dengan dua atau tiga alternatif untuk mencegah kekacauan. Pada dasarnya, manusia sudah berpikir logis dan rasional, tetapi dalam batas-batas yang sempit.
Selain keterbatasan rasional, kondisi mental sangat mempengaruhi dalam pengambilan keputusan terhadap. Merujuk pada sebuah jurnal asing yang berjudul “Guilt And Focusing In Decision¬-Making” yang ditulis oleh Amelia Ganggemi dan Francesko Mancini, pada penelitian yang telah dilakukan oleh penulis berusaha untuk mengungkapkan dampak dari emosi tertentu yaitu perasaan bersalah terhadap tujuan pengambilan keputusan.
6
Melalui mekanisme penetapan tujuan pada saat pengambilan keputusan, orang biasanya tetap mengarahkan pikiran mereka pada pilihan-pilihan yang nyata dan mengabaikan alternatif lainnya. Dalam penelitian yang dilakukan, terdapat tiga eksperimen yang dilakukan untuk menyelidiki apakah keadaan emosi orang yang merasa bersalah dapat mempengaruhi konsentrasi dalam pengambilan keputusan. Perasaan bersalah dalam penelitian ini didapat dengan cara meminta para responden menuliskan pengalaman mereka tentang perasaan bersalah dimasa lalu.
Hasil yang didapat pada dua penelitian pertama menunjukkan bahwa perasaan bersalah mempengaruhi dalam konsentrasi pengambilan keputusan, pada penelitian tersebut diberikan masing-masing satu keadaan emosianal baik dalam keadaan yang positif maupun dalan keadaan yang negatif. Responden yang memiliki perasaan bersalah pada saat dihadapkan pada pilihan yang positif, ia akan memilih hal diluar hal positif yang telah ditetapkan. Responden yang memiliki perasaan bersalah pada saat ia diberikan pilihan yang negatif dan ia lebih suka untuk memilih hal tersebut daripada yang lain. Pada penelitian ketiga yang dilakukan denga cara memberikan dua pilihan kepada pemilih baik berupa pilihan negatif maupun pilihan positif dan ternyata responden lebih memilih pilihan-pilihan negatif dari pada positf walaupun pilihan pilihan negatif tidak langsung diterangkan secara eksplisit dalam teks dan kesimpulan dari penelitian ini adalah keadaan emosional manakala merasa bersalah memainkan peranan penting baik dalam hal menguatkan maupun mengurangi konsentrasi dalam melakukan pengambilan keputusan.
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Amelia Ganggemi dan Francesko Mancini terbukti bahwa dalam keadaan emosional bersalah, manusia cenderung mengalihkan perhatiannya pada hal lain yang sebenarnya tidak berhubungan dengan arah dari pengambilan keputusan. Dalam keadaan bersalah, konsentrasi pada tujuan penelitian berubah pada hal-hal lain yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan keputusan yang akan diambil. Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat dari legrenzy dan jones bahwa “individuals are likely to restrict their thoughts to what is explicitly represented in decisional task, failing to make an exhaustive search for alternative that are represented only implicitly”.

7
Responden yang merasa bersalah akan lebih memilih untuk berhati-hati dalam memikirkan sesuatu yang berbahaya walaupun itu tidak secara nyata diungkapkan dan selalu mengalihkan perhatian dari hal yang aman walaupun itu sudah secara gamlang diungkapkan. Hasilnya individu akan selalu menyelidiki pada bahaya yang tersirat dan membuat banyak kemungkinan-kemungkinan dan pertanyaan-pertanyaan tentang hal yang tersirat tersebut dan menjadikannya sebagai jalan untuk melakukan pengambilan kesimpulan.
Hal ini juga sejalan dengan Prudential Mode Hypotesis (mancini & ganggemi,2004) “In making decision guilt leads to prudently focus on the worst case alternative even it is implicit or else not explicitly represented in decision frame and not only when it is explicitly and exhaustively represented” dalam membuat suatu keputusan, orang yang merasa bersalah akan berhati-hati untuk memusatkan pikiran pada keadaan yang paling jelek meskipun itu tidak nyata atau tidak secara nyata terlihat (pada saat tidak adanya sumber yang yang memadai) dan sudah terlihat secara nyata dan lengkap (informasi sudah jelas, lengkap dan relevan).
Menurut Lerner dan Keltner (2000,2001), bahwa penilaian dan pemilihan sangat dipengaruhi oleh keadaan emosiaonal yang memiliki valensi sama, mereka menyatakan bahwa orang yang ketakutan akan membuat keputusan yang pesimis terhadap masa yang akan datang sedangkan orang yang marah akan membuat penilaian yang optimis untuk masayang akan datang dan keadaan ini akan muncul secara alamiah tanpa disadari. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Amelia Ganggemi dan Francesko Mancini mendapatkan hal yang serupa dimana perasaan bersalah akan membuat orang lebih menitik beratkan pada tanggungjawab dan kemungkinan terjadinya kesalahan yang sama di masa yang akan datang. Perasaan inilah yang mendorong orang yang merasa bersalah untuk selalu mencari kemungkinan terjelek dan memasukkannya dalam benak pikirannya.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Amelia Ganggemi dan Francesko Mancini merupakan suatu kajian ilmiah yang sangat menarik dan membuka wawasan kita tentang sikap emosianal terutama perasaan bersalah ternyata dapat mempengaruhi kita manakala kita membuat keputusan da tentunya ini dapat di
8
jadikan refrensi anakala kita akan mengambil suatu keputusan. Perlu diketahui dulu apakah pada saat sebelum pengambilan keputusan kita masih berada dalam bayang-bayang perasaan bersalah akan sesuatu hal di masa lalu dan bila itu terjadi kita sudah dapat mengantisipasi agar keputusan yang kita ambil adalah hasil buah pikir yang cemerlang.
Disamping itu, memang kiranya sangat perlu untuk melihat kemungkinan-kemungkinan terjelek yang akan terjadi di masa yang akan datang agar kita dapat mengantisipasi dengan merencanakan suatu tindakan, akan tetapi harusnya kita tidak terjebak pada problema ketakutan akan terungnya kembali kegagalan atau hal lain yang menyebabkan kita mempunyai perasaan bersalah. Dengan upaya mencari-cari kemungkinan alternative dan berusaha untuk mengalihkan perhatian kita karena adanya perasaan bersalah akan membuat kita semakin lama dalam penggunaan waktu danpengambilan keputusan tidak akan efisien karena waktu terbuang hanya untuk mencari penyelesaiaan dari beberapa permasalahan yang dibuat-buat sendiri dan belum tentu kejadiannya akan seperti itu.

Bab III
PENUTUP

a. Kesimpulan

Dalam melakukan perubahan dalam tubuh organisasi, terlebih dahulu dilakukan perubahan pada manajemen organisasi tersebut, perubahan pada manajemen organisasi tidak terlepas dari pentingnya pengambulan keputusan sebagai landasan dari setiap kegiatan yang dilakukan oleh organisasi tersebut.
Dalam rangka pengambilan keputusan yang menghasilkan keputusan yang baik perlu dilakukan dengan mengambil langkah-langkah yang sistematis yaitu menentukan dasar pemikiran, pengidentifikasian alternatif-alternatif, alternatif-alternatif dilihat dari sudut tujuan yang mau dicapai dan pemilihan suatu alternatif, yaitu suatu pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan melukiskan proses melalui mana suatu tindakan untuk memecahkan suatu masalah tertentu dipilih.
9
Banyaknya faktor yang mempengaruhi dalam mengambil sebuah keputusan merupakan kendala yang dihadapi oleh menejer dalam mengambil keputusan dengan efektif, perlu dilakukan pemetaan yang sistematis agar dapat mengsilkan pemahaman yang sistematis. Salah satu cara mendapatkan pemetaan terhadap permasalahan yang ada dan alternative penyelesaiaannya adalah dengan menggunakan analisa SWOT (Strenghts, Weaknesses, Threats, Oportunities).
Pengambilan keputusan dipengaruhi oleh adanya keterbatasan rasionalitas, terdapat dua model pertimbangan dalam pengambilan keputusan yaitu optimasi dan satisfying. Dimana optimasi berarti pengambilan keputusan diusakan untuk mendapatkan hasil yang optimal dengan data yang tersedia sedangkan satisfying hanya berpedoman pada kepuasan saja.
Selain faktor rasionalitas, factor lain yang mempengaruhi pengambilan keputusan adalah factor emosional. Merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh Ganggemi dan Francesko Mancini dapat diambil kesimpulan pengambilan keputusan dipengaruhi oleh faktor emosional dimana orang yang merasa bersalah akan mengabaikan pilihan yang baik dan aman di depannya dan mengalihkan pikiran kepada hal yang jelek dan tidak aman walaupun hal tersebut tidak ada. Orang yang merasa bersalah berhati-hati sekali dalam berfikir dan bertindak karena takut akan konsekwensi bila keadaan yang membuatnya bersalah berulang kembali.

b. Saran

Untuk melakukan pengambilan keputusan yang efektif dalam suatu organisasi hendaknya kita menguasai tehnik pengambilan keputusan, menganalisa dengan sistematis (SWOT), untuk itu hendaknya seorang manajer harus senantiasa mengembangkan dirinya terus menerus, menambah dan memperluas pengetahuan serta bersikap rasionalitas yang baik dan menghilangkan perasaan bersalah. Perlunya berlatih membuat keputusan-keputusan dari masalah-maslah kecil, sehingga terbiasa membuat keputusan – keputusan yang efektif sehingga l benar-benar keputusan yang terbaik bagi organisasi.

10

DAFTAR PUSTAKA

J. Meagher, Kieron and Andrew Wait, 1997. “Decision making within organizations” http://www.k.meagher@unsw.edu.au

McGuire, Ruth. 2002. “Decisional Making”, The Pharmaceutical Journal, http://www.parmj.com.

Amelia Gangemi and Francesco Mancini. 2007. “Guilt and Focusing in Decisional-Making”, Journal of Behavioral Decisional Making, published online 7 september 2006 in wiley interscience (www. Interscience.wiley.com)

About these ads

Tentang ferli1982

Menjalani hidup dengan riang gembira ... enjoy ur life!!!
Tulisan ini dipublikasikan di Administrasi Kepolisian, Perkembangan Kepolisian. Tandai permalink.